Ustad Dadakan


Kiai Muda Mahmud Suyuti
Ketua MATAN Sulsel
 
Kenyataannya sekarang, secara mendadak muncul ustad dengan label dai/mubalig yang membuat klaim-klaim menempatkan diri dan fatwa-fatwanya sebagai yang paling benar, semua amalan masyarakat yang sudah kental dan justru tidak bertentangan akidah dianggap bid’ah dan haram. 
 
Parahnya lagi, jika seorang ustazah muncul sebagai daiyah dadakan yang tidak bisa menulis ayat-ayat Al Qur'an secara baik dan benar. Tulisan cakar ayam, amburadul, salah teks. Ini petanda ilmunya dangkal dan belum layak menjadi dai/daiyah, perlu nyantri dulu.
 
Riskan dan menyedihkan karena saat ini bermunculan juga dai dadakan hanya dirinya yang benar dan dialah atau pengikutnya saja masuk surga, tidak pernah berpikir betapa luasnya surga itu dan sunyinya surga bila hanya dihuni olehnya.  
 
Ciri dai dadakan yang berdakwah tersebut seringkali memposisikan kelompok lain sebagai pihak yang salah dan tidak perlu didengar, apalagi ditaati. Dai dadakan seperti ini berbahaya, karena dapat menimbulkan kesan semakin terpecahnya umat Islam dalam sekte-sekte. 
 
Fenomena lain yang muncul adalah dai dadakan yang lebih mengidentifikasi diri sebagai “pelawak” mimbar, ketimbang sebagai pembawa misi keagamaan, lebih bertindak sebagai pemberi tontonan ketimbang tuntunan. Dakwah dianggap seolah-olah tidak berhasil kalau audiens tidak dikocok perutnya dengan lawakan-lawakan murah dan terkadang vulgar. 
 
Dakwah memang menarik jika diselingi humor-humor kecil asalkan tidak kakuh dan tidak monoton untuk penyegaran. Jadi jangan dikemas sebagai entertaimen penghibur dan dominan lawakan-lawakan konyol bagai artis.
 
Plus-minus dai dadakan yang muncul baik dari kalangan artis atau yang berlabel ustad baru yang tidak perna nyantri, atau minimal pesantren kilat meskipun pada umumnya mereka tampil sebagai pembawa acara atau pemandu dari narasumber, banyak kritikan yang ditujukan kepada mereka, terutama dari segi kostum misalnya seringkali tidak sejalan dengan tampilan mereka sebagai dai yang sebenarnya.
 
Namun demikian, kelihatan bahwa dai dadakan ini justru diminati ketimbang dai profesional dengan pengalaman yang telah mapan.  Kenapa demikian ?  Jawabannya antara lain karena sebagian masyarakat masih lebih senang disentuh dengan lawakan seperti hiburan-hiburan ketimbang sentuhan yang menyejukkan, dakwah yang sejuk, bil hikmah mal mauidzatil hasanah.
 
Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq

  • 744 Dibaca