Muhammad Ishak saat berbincang-bincang dengan Reporter Seputarsulawesi.com

Yatim Piatu, Pria ini Rela Tak Kuliah Demi Menghidupi Sembilan Orang Adiknya


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Sungguh malang nasib keluarga Muhammad Ishak. Ishak berserta sembilan orang adiknya terpaksa harus menjadi yatim piatu, setelah ibunya meninggal kurang lebih sembilan bulan lalu, dan tak lama kemudian ayahnya pun menyusul, kurang lebih tiga minggu lalu.  

Demi menghidupi sembilang orang adiknya itu, pria yang sudah berusia 22 tahun ini terpaksa harus berhenti kuliah di  Institut Teknologi (ITB) Bandung, dan memilih bekerja sebagai pembuat gula merah di kampung halamanya. Padahal Ishak adalah peraih beasiswa Bidikmisi di Institut Teknologi (ITB) Bandung.

Saat Seputarsulawesi.com menyambangi kediamaannya, di Dusun Tojangan, Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polman, Jumat 15 Desember 2017, Ishak terlihat nampak tegar dan tersenyum ramah menyambut kehadiran reporter Seputarsulawesi.com. 

Nampak kediaman Ishak sudah terlihat tua, prabot rumahnya juga terlihat berantakan. Ishak mengaku belum sempat merapikannya, lantaran sibuk mengurus adik-adiknya. Menurutnya, di rumah tersebutlah ia bersama adik-adiknya tinggal. 

Sepeninggal kedua orang tuanya, sebagai kakak tertua, Ishak tak hanya menjadi penanggungjawab utama bagi keluarga, tapi juga menjadi ibu dan sekaligus ayah bagi adik-adiknya. 

Untuk urusan rumah tangga, Ishak berbagi tugas dengan Aslan, adik ketiganya yang sudah berusia 15 Tahun. Tiap hari Aslan bertugas menyadap air nira untuk kemudian dikelola oleh kakanya menjadi gula merah. 

Ishak mengaku tak bisa meninggalkan rumah, karena adek bungsungnya yang baru berusia berusia satu tahun tujuh bulan menangis jika tak melihat kakak tertuanya itu. 

Dari hasil penjualan gula merah, Ishak mendapat keuntungan kurang lebih Rp 200 ribu. Meski penghasilannya itu tidak cukup untuk membiayai kehidupan sehari-harinya, terlebih lagi beberapa adiknya masih ada yang bersekolah, Ishak mengaku uang tersebut dikelola sehemat mungkin, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pokok rumah tangganya. 

"Enam adik saya masih sekolah. Satu diantaranya melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Pare-pare dengan biaya beasiswa," tuturnya. 

Di tengah kesulitan hidup yang menimpanya itu, Ishak sering berpesan ke adik-adiknya untuk tetap bersabar, dan berdoa, serta senantiasa menjalankan salat lima waktu. 

"Ini yang sering saya sampaikan ke adik-adik saya," tutup Alumni SMAN 3 Polman ini.

  • 1095 Dibaca