AGH Bakri Kadir, Kyai Tradisionil Pengabdi

25 Mei 2017, 11:28:45 WIB || Editor:IQ Arsyad Sosok

Oleh: Faried F. Saenong

(Pengajar Islamic Studies di New Zealand)

Duka mendalam buat Sulawesi Selatan khususnya, Anre Gurutta KH Bakri Kadir meninggal dunia Rabu, 24 Mei 2017 menjelang kita memasuki bulan Ramadhan. Allah kembali menarik sebagian ilmu-Nya dengan memanggil kekasih-kekasih-Nya, uama pewaris Nabi, ulama pemanggul ilmu.

Sosok Gurutta’ satu ini unik, mumpuni dan spesial di mata santri-santrinya

Saya mengenal langsung beliau ketika pertama kali memasuki dunia santri dan pesantren secara riil di Pesantren Pondok Madinah Ujung Pandang (sekarang Makassar. Kesan pertama, beliau adalah ulama Kalam, karena dari beliau, kami belajar dasar-dasar Ilmu Kalam. Dari beliau, kami mengaji dan khatam kitab al-Jawahir al-Kalamiyah karya Thahir b. Shalih al-Jaza’iri (1852-1920) dan kitab al-Hushun al-Hamidiyah karya Sayyid Husayn Affandi (). Keduanya termasuk kitab-kitab dasar Ilmu Kalam dalam tradisi Sunni tradisionil di berbagai pesantren.

Kesan lain, bahkan ini adalah kesan terkuat di sanubari semua santrinya, beliau adalah ahli tata bahasa Arab. Beliau adalah pakar Qawa’id, sebuah sebutan disiplin tata Bahasa Arab yang keahliannya dapat membedah seluruh aspek kalimat per kalimat, kata perkata secara detail dan mendalam. Kami belajar dan mendalami Qawa’id dan I’rab (bedah kalimat). Kami semua santrinya sepakat beliau adalah guru Qawa’id yang paling keras sekaligus tersabar.

Saya sendiri (dan santri di Makassar) mungkin hanya mengenal AGH Bakri Kadir dan AGH Bustani Syarif sebagai dua tokoh besar Qawa’id dan I’rab di Sulawesi Selatan. Keduanya mirip kalau sedang mengajar dua mata pelajaran ini; suaranya keras dan lantang, serta sering menghukum santri yang mengi’rab keliru.

Tetapi Gurutta’ Bakri sangat spesial. Ketika mengajar Qawa’id dan I’rab, suaranya membahana di seluruh ruangan dan masjid pesantren; suara yang paling ditakuti para santri. Paha saya yang kecil bin mungil pernah beliau injak, dan perut saya pernah beliau cubit memutar, karena keliru mengi’rab. Begitupun, santri lainnya tidak lepas dari cara beliau mengajar seperti ini.

Santri tidak pernah menganggap hukuman kyai dan gurutta’ sebagai kekerasan. Semua itu adalah cara unik kyai dan gurutta’ mentransfer pengetahuan, kebijaksanaan dan barakka pada santri-santrinya. Santri yakin dan percaya, hukuman itu dilakukan dengan kasih sayang, bukan dengan hawa nafsu. Saya sendiri meyakini, tempaan keras beliau dalam Qawa’id dan I’rab membuat saya mudah mengikuti uraian penuh hikmah Anre Gurutta Sanusi Baco ketika mengajar kami kitab Tafsir al-Jalalayn.

Cara ini pula yang mengantar semua santrinya kompetitif dengan santri-santri yang mereka temui setelah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di wilayah manapun. Tidak hanya santri-santrinya, beliau juga berhasil mendidik anak-anak biologisnya yang sedang dan akan terus melanjutkan pengabdiannya sebagai pengasuh pesantren. Anak-anaknya telah menjadi doktor, hafiz, pengasuh pesantren di Sulawesi Selatan.

Yang juga menonjol dalam diri beliau adalah sosok pengabdi dan pengajar di pesantren. Jika Anre Gurutta’ Sanusi Baco adalah pengasuh utamaPesantren Pondok Madinah, Anre Gurutta Bakri Kadir bertindak sebagai pengasuh langsung yang mengayomi santri. Motor Vespa kesayangannya selalu mengantar beliau dari rumahnya yang berjarak 200 meter dari pesantren di Jalan Sunu. Deru vespanya di subuh hari dan sebelum Magrib selalu menjadi alarm bagi santri untuk siap lahir batin menuju masjid.Ketika pesantren untuk santri (laki-laki) berpindah lokasi ke Perintis KM9, Vespa itu tetap menjadi alarm di kedua waktu khusus itu. Di tahun-tahun berikutnya, beliau tekun mengikuti Anre Gurutta Sanusi Baco yang mendirikan pesantren Nahdhatul Ulum di Maros.

Pengabdian tanpa batas itu lah yang sangat dominan dalam diri Anre Gurutta Bakri Kadir. Jika guru lainnya mengurangi jam mengajar di madrasah dan pesantren karena kesibukan dan khidmah di luar pesantren, beliau tidak tergoda dengan kegiatan-kegiatan lain yang mungkin akan mereduksi kebersamaannya dengan santri. Jika diizinkan membuat perbandingan, beliau sebanding dengan Anre Gurutta Wahab yang mengabdi tuntas hingga akhir hayat di DDI Mangkoso.

Khusus dari beliau pula, bersama Anre Gurutta Sanusi Baco dan Anre Gurutta Nasaruddin Umar, kami pertama kali mengenal semua nama besar Anre Gurutta di bumi Sulawesi. Beliau sangat sering menyebutkan, menceritakan keteladanan, dan mengajak santri untuk mengirim al-Fatihah bagi semua ulama di Sulawesi. Dari salah satu alumni cemerlang DDI Mangkoso inilah, kami menyadari betul bahwa sanad intelektual kami bersambung ke Rasulullah saw melalui para Anre Gurutta di DDI Mangkoso dan As’adiyah Sengkang. Semua ulama di Sulawesi, yang berhaluan tradisionil ataupun modernis, pasti menyadari sanad intelektual ini dalam diri mereka.

Dalam konteks ini juga, saya sangat menyadari arti penting ke-Muslim-an, ke-Bugis-Makassar-an dan ke-Indonesia-an, setelah banyak belajar langsung dari AGH Bakri Kadir, dan Anre Gurutta lainnya di pesantren. Perpaduan identitas agama, etnik, dan kebangsaan ini selalu terpatri dalam seluruh ajaran beliau di pesantren. Karena itu, sejatinya, alumni pesantren tidak akan pernah gagal mengkomunikasikan secara arif dan bijak, semua nilai-nilai keagamaan, lokalitas (etnik) dan kebangsaan. Menjadi seorang Muslim, Bugis-Makassar, dan Indonesia, pada saat yang sama, tidak pernah menjadi persoalan bagi santri sejati.

Selamat jalan Gurunda. Kami semua santrimu bersaksi, Gurutta adalah orang saleh yang istiqamah di jalan Allah. Semoga Allah menempatkan Gurutta di tempat tertinggi bersama orang-orang Saleh, para Wali, dan para Nabi, al-Fatihah.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook