Akbar, Ular, dan Sawit di Sulbar (1)

04 Apr 2017, 19:11:44 WIB || Editor:sesi.comLipsus

Akbar, Ular, dan Sawit di Sulbar (1) Gambar: infosawit.com

Seputarsulawesi.com, Mamuju- Akbar (25) ditemukan tak bernyawa di dalam perut ular piton raksasa, Senin (27/3/2017) malam, di kebun kelapa sawitnya, Dusun Pangeran, Desa Salubiro, Kecamatan Karossa, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Dan saat itu, kabar nasib Akbar yang tragis menyebar hingga negeri Paman Sam AS, Inggris, dan sejumlah negara lainnya.

Hingga, Senin (3/4/2017) malam, video jurnalis Tribunsulbar.com saat perut piton dibelah untuk mengeluarkan jasad Akbar telah ditonton sebanyak hampir 4 juta kali via You Tube. Mata manusia dari segala penjuru dunia pun tertuju pada Akbar yang ditelan piton raksasa. Ditengah tontonan mengerikan itu, satu hal yang nyaris terlupakan adalah Akbar sosok petani sawit yang masih berusia muda. Ia menghidupi keluarganya dengan bertani sawit.

Kelapa sawit di provinsi Sulbar secara umum memang menjadi primadona. Sebab, kehadiran kelapa sawit di daerah ini telah ada jauh sebelum provinsi ini dimekarkan dari provinsi Sulawesi Selatan, tahun 2004 silam. Oleh pemerintah setempat dan perusahaan kelapa sawit menganggap bahwa kelapa sawit dapat mensejahterahkan masyarakat setempat. Maka, izin pembukaan lahan sawit pun dibuka lebar-lebar.

Ada sumber yang menyebut, kehadiran industri kelapa sawit di daerah ini sudah berlangsung sejak 1970-an silam. Salah satu perusahaan kelapa sawit yang terbesar di Sulbar adalah PT. Astra Agro Lestari (Astra Group).

Di awal Oktober 2011 silam, sebagaimana dilansir dari www.antarasulsel.com (2 Oktober 2011), Comunity Development PT Astra Agro Lestari area Sulawesi, I Made Suwana mengatakan, PT Astra Agro Lestari sejak tahun 1990-an mengembangkan perkebunan sawit di Kabupaten Matra. Saat itu, Mamuju masih terdiri dari satu kabupaten dibawah wilayah administratif, Sulawesi Selatan.

Dalam perkembangannya PT Astra Agro Lestari di Matra telah memiliki lima anak perusahaan sawit yang antara lain PT Pasangkayu dengan luas hak guna usaha (HGU) yang dimiliki sekitar 9.319 hektare beroperasi di Kecamatan Pasangkayu.

Kemudian PT Mamuang dengan luas HGU sekitar 8.488 hektare serta PT Letawa dengan luas 7.499 hektare beroperasi di Kecamatan Tikke Raya Kabupaten Matra.

Selain itu PT Lestari Tani Teladan beroperasi di Kecamatan Baras dengan luas HGU 5.538 hektare dan PT Surya Raya Lestari I beroperasi di Kecamatan Sarudu dengan luas HGU sekitar 6.384 hektare. Menurut dia setelah berkembang di Mamuju Utara PT Astra Agro Lestari kemudian melakukan perluasan areal tanaman sawitnya ke Kabupaten Mamuju.

Ia mengatakan, di Kabupaten Mamuju, PT Astra Agro Lestari yang telah menjadi perusahaan perkebunan sawit terbesar di Provinsi Sulbar, kemudian mengembangkan lagi dua perusahaan sawit yang kemudian menjadi anak perusahaannya. Diantaranya kata dia, adalah perusahaan perkebunan sawit PT Surya Raya Lestari II yang beroperasi di Kecamatan Topoyo dan Budong-Budong Kabupaten Mamuju dengan luas HGU yang dimiliki 5.256 hektare, setelah itu mengembangkan satu anak perusahaan lainnya PT Badra Sukses yang dibangun sejak tahun 2000-an dan kini memiliki luas HGU sekitar 1.033 hektare.

Dalam perkembangan selanjutnya, kelapa sawit di Sulbar menjadi primadona yang terkonsentrasi di Mamuju, Mamuju Utara, dan Mamuju Tengah. Bahkan, ia disebut “tambang emas hijau”. Julukan itu menunjukkan kelapa sawit sebagai sumber penghidupan yang menjanjikan. Menggarap kelapa sawit, berarti bermandikan uang dikemudian hari. Perspesi ini terus berkembang dimasyarakat dan perkembangan luasan lahan kebun sawitpun mengikutinya.

Era awal tahun 2000-an, alih fungsi lahan dari kebun cokelat dan jeruk diganti menjadi kebun kelapa sawit. Mantan bupati mamuju Junda Maulana, mengungkapkan, setelah sawit menjadi primadona, alih fungsi lahan tidak bisa di bendung lagi. Data badan pusat statistik(BPS) 2012 menyebutkan lahan sawit di Mamuju Tengah seluas 11.644,21 hektare. Kemudian memasuki semester II 2014, luas sawit terus bertambah sekitar 3.000 hektare. Dan sawitpun beranak pinak seiring beranak pinaknya pula korporasi-korporasi besar di bumi Sulbar secara umum dengan komoditi andalan kelapa sawit.

Muh. Sudirman Al Bukhari dalam catatannya via Kompasiana.com, 7/5/2014 menggambarkan peralihan tanaman rakyat dari non-sawit ke kelapa sawit di kabupaten Mamuju Tengah, terutama di lima kecamatan, yakni: kecamatan Budong-budong, Pangale, Topoyo, Tobadak, dan Karossa.

Lima kecamatan itulah saat ini menjadi sentra produksi tanaman kelapa sawit yang ada di daerah otonom baru itu. Area sawit berada di 26 desa dan lima kecamatan itu memiliki luas sekitar 15 ribu hektare dan terdiri dari kebun inti milik perusahaan PT. Surya Lestari II seluas 931 hektar, 450 hektar plasma dan 6000 hektar milik masyarakat dan sisanya kebun yang di kelola IGA (http://www.kompasiana.com/sudirmangerpaksulbar/sawit-menggenjot-ekonomi-rakyat-mamuju-tengah).

Di Mamuju Tengah, kecamatan Karossa memiliki lahan sawit terluas kedua setelah kecamatan Budong-budong (25,21 persen). Dan Akbar, ayah muda dua orang anak itu memiliki lahan sawit di kacamatan Karossa ini. Dalam prosesnya, sawit benar-benar menjadi “emas hijau” di Mamuju Tengah.

Hasil perkebunan sawit di Mamuju Tengah mencapai lebih dari RP 50 miliar per bulan. Itu terlihat saat perusahaan sawit yang beroperasi di Mamuju tengah seperti PT Surya Raya Lestari dari Astra Group, membayar hasil panen sawit kepada petani inti, plasma, dan mandiri.

Pada umumnya petani sawit yang sukse merupakan transmigran di era 1980-an yang berasal dari bali,jawa,dan nusa tenggara. Para petani sawit bersama perusahaan sawit PT Surya Raya Lestari mendirikan sebuah lembaga keungan mikro (LKM).

Sawit nampaknya benar-benar menjadi “emas hijau” di Mamuju Tengah. Muh. Sudirman Al Bukhari dalam catatannya via Kompasiana.com itu mengutip pengakuan seorang petani transmigran asal provinsi Bali, I Made Suwardana. Suwardana mengaku mengaku dengan menanam sawit derajat sosial dan tingkat kesejahtraannya jauh lebih baik dari pada sebelumnya pada saat menjadi petani kakao dan jeruk.

"Saya dulu tanam coklat dan jeruk pak, tapi hasilnya paspasan, karena jeruk harganya murah dan coklat selalu rusak-rusak makanya saya beralih menjadi petani sawit, dan alhamdulillah sekarang saya sudah memiliki enam mobil truk dan satu mobil fortuner. Motor juga banyak pak, ini semua karena sawit, jadi bagi saya sawit itu sangat membantu masyarakat”, ungkapnya. (Bersambung)

TIM Redaksi Seputarsulawesi.com

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook