Apakah Homoseksual Masuk Surga ?

Opini

Editor Suaib Amin Prawono


Oleh: Aan Anshori
(Jaringan Islam Anti-Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur/@aananshori)

Sepertinya, nasib saya tidak akan jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan kelompok minoritas, terutama yang berbasis keyakinan/agama, dan seksualitas. Empat hari lalu, hampir seminggu saya habiskan di Makassar memenuhi undangan GWL-INA, organisasi  yang fokus memperjuangkan kesetaraan bagi kelompok LGBT. Bersama Suaib Prawobo, koordinator Jaringan GUSDURian Sulselbar, saya juga menemui banyak kader Jaringan GUSDURIan di Kota Daeng. Kata kunci saat bertemu mereka adalah diskusi-ngopi-diskusi. Temanya, tak jauh dari urusan intoleransi agama dan seksualitas.

Seminggu sebelumnya, saya bertemu dengan puluhan anak muda yang datang dari seantero Pulau Jawa. Mereka berkumpul di salah satu tempat di Mojokerto untuk mengikuti training gender dan seksualitas. Dengan alasan keamanan-setelah heboh diintrodusir Jonru di media sosial- panitia sengaja tidak mempublikasikan lokasi training. Saya cukup mafhum akan hal itu.  Sekilas amatan, saya bisa katakan lebih dari 95% dari mereka homoseksual. Gay paling banyak. Yang lesbian juga ada, beberapa berjilbab. Temuan lain, ada banyak ketertekanan sorot mata terpancar dari mereka. Semacam kegalauan menghadapi identitas mereka yang dianggap abnormal.

“Siapakah diantara kalian yang percaya semua orang homoseksual akan masuk neraka?,” tanya saya memulai sesi.  Hampir semua mengangkat tangannya. “Saya termasuk orang yang tidak percaya Tuhan itu bodoh dan kontradiktif.”  seru saya. Mereka melongo menunggu penjelasan saya lebih lanjut. Apa yang telah diberikan Tuhan pada kita –lanjut saya- adalah anugerah, termasuk seksualitas dan identitas gender. Oleh karena itu, siapapun harus menjaga, merawat, dan tidak menggunakan untuk hal-hal buruk.

Tidak bisa disangkal, Tuhan menganugerahi keseimbangan alam raya ini dengan cara menciptakan makhluk hidup secara berpasangan. Untuk tujuan penyederhanaan, sangat mungkin Tuhan merepresentasi manusia ke dalam dua jenis kelamin; perempuan dan laki-laki, dengan berbagai indikatornya -baik yang bersifat fisik maupun psikis.

Namun demikian, realitas tidaklah sesederhana itu. Devil is always in detail. Ketidaksederhanaan tersebut kerap muncul dalam dua kemungkinan kejadian. Pertama, dari yang paling ringan, ada kalanya seseorang dilahirkan dengan anugerah jenis kelamin ganda, umumnya dalam bentuk perpaduan penis dan vagina. Istilahnya khuntsa atau intersex. Biasanya proses alami akan menunjukkan ke arah mana dia berlabuh. Tentu saja tidak serta merta. Dia butuh perenungan mendalam mencari identitasnya hingga kerap memilih satu dari tiga ‘terminal’; menjadi laki-laki, perempuan, atau tetap memilih khuntsa sebagai identitasnya. Pemilik tubuh mempunyai otoritas penuh menentukan identitas tersebut.

Ketidaksederhanaan kedua adalah individu yang dianugerahi situasi psikologis yang berbeda dengan ciri biologisnya. Dia punya penis namun merasa sebagai perempuan. Atau, dia bervagina dan memiliki payudara namun diberkahi perasaan sebagai laki-laki. Pendek kata, ada ketidaksesuaian antara casing dan jerohannya.

Saya punya banyak kenalan gay. Salah satunya bernama Anas, kerap dipanggil Ines. Dia mempunyai seperangkat ciri fisik yang menunjukkan ia adalah laki-laki. Saya juga berkawan baik dengan Nyil, nama aslinya Intan. Nyil merawat tubuh perempuan pemberian Tuhan dengan baik. Kontradiksinya, Anas mengidentifikasi dirinya perempuan, yang oleh sebab itu -sebagaimana perempuan lainnya- ia kerap terkesima melihat cowok-cowok cucok (cakep). Sedangkan Intan yang meyakini dirinya laki-laki tak berhasrat dengan pemilik penis. ‘Lha mosok (aku) lanang seneng lanang Mas?,” katanya sambil tertawa saat nongkrong dengan saya suatu ketika.

***

Apakah keduanya normal? Ya kita tentukan dulu definisi normal. Kalau pertanyaan tersebut sebangun dengan ‘Apakah Tuhan bisa dan pernah menciptakan orang seperti Anas dan Intan?”, maka tidak ada alasan yang sahih bagi kita menuduh mereka berdua tidak normal. Pertama, keduanya hadir di dunia ini layaknya manusia lain. Kuasa tuhan terejawantah melalui upaya serius orang tuanya, dokter, dukun beranak, bidan, dan masyarakat sekitarnya. Sama seperti yang lain. Kedua, saya tidak yakin para pihak yang terlibat dalam kelahiran mereka berdua berintensi menginstall semacam software penentu orientasi seksual sehingga Anas dan Intan bisa seperti ini. ‘Eh Dok, tolong anak saya nanti diprogram supaya jadi homo saja ya?.” Saya juga tidak percaya dokter atau siapa saja punya kedigdayaan menentukan identitas gender seseorang. “Saya akan suntik kamu dengan virus $%x6%(* agar jadi waria”.

Semua berjalan sebagaimana kehendak Tuhan. Kenapa Tuhan dibawa-bawa? Iya, sebab Dia sendiri yang telah memberikan kode-suci bahwa individu seperti Anas dan Intan adalah suatu keniscayaan. Sekuat apapun ketidaksetujuan kita terhadap tafsir sebuah ayat al-Quran al-Nur 31, kita perlu rendah hati mengakui bahwa Tuhan sangat mungkin menggolongkan Anas sebagai ‘ulil irbakh min al-rijal’, yakni laki-laki yang tidak punya hasrat (seksual) terhadap perempuan[1]. Laki-laki bertipe ini sangat mungkin tidaklah ‘membahayakan’ bagi perempuan, kecuali dalam hal rivalitas berkompetisi cowok ganteng. Saat Nabi Muhammad pindah ke Madinah, ada sosok seperti Anas, namanya Hit. Dia diceritakan merupakan teman kongkow para istri nabi. Hit bahkan punya akses hingga ke bilik mereka[2]. Nabi tidak cemburu?, “Ya elah bro, kan sama-sama ceweknya.”

Setali tiga uang dengan Anas, keberadaan Intan bisa jadi linier dengan firman tuhan, alqawa’idu min al-nisai la yarjuuna al-nikaha; perempuan-perempuan yang punya prinsip yang tidak berkehendak menikah[3]. Saya tentu mafhum, tidak semua perempuan yang enggan menikah pasti seorang lesbian. Akan tetapi Lesbian jelas masuk dalam kategori tersebut, jika menikah dimaknai hidup berpasangan dengan laki-laki.

Menyelesaikan Kontradiksi

Poin utamanya, Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan sebagai pasangan (heteroseksual). Hanya saja bagaimana laki-laki dan perempuan didefinisikan sangat tergantung dari cara seseorang mengidentifikasi diri masing-masing. Publik jelas punya peran, namun mereka perlu dididik agar tidak rempong dan lebih menghormati pilihan individual.

Dalam kasus Anas dan Intan, laki-laki tersebut meyakini dirinya adalah perempuan. Sedangkan intan, meskipun dirinya memiliki casing perempuan, namun ia adalah laki-laki. Berarti identitas seseorang sangat relatif dong? Jika demikian apakah hal ini tidak akan mengacaukan konstelasi perjeniskelaminan? Saya katakan, meyakini jenis kelamin dengan berbagai implikasi peran gender dan orientasi seksualnya bukanlah sesuatu hal yang mudah. Tidak bisa diandaikan akan semudahnya bergonta-ganti pakaian. Pilihan tersebut menuntut perenungan mendalam individual.

Mari kita tanyakan pada nurani kita sendiri, apakah kita mau dianggap punya jenis kelamin dan orientasi seksual yang tidak kita inginkan? Dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal istilah Ockham’s razor[4], yakni semacam prinsip the simplest answer is often correct. Untuk apa berpura-pura menjadi waria atau non-heteroseksual jika masyarakat sangat menista identitas ini? Jawabannya adalah karena mereka memilih jadi diri mereka sendiri. Tanpa kepura-puraan mereka sadar akan resiko tersebut.

Saya pasti keberatan seandainya ada yang memaksa saya berprilaku layaknya perempuan. Saya, dengan segenap keberanian yang saya miliki, akan menantang duel siapapun yang menyuruh saya –secara koersif- agar mengganti keheteroseksualan saya. Sikap ini tidak berarti saya antipati terhadap homoseksualitas atau transgender. Bukan. Lebih jauh, saya justru meyakini orientasi seksual dan identitas gender adalah area otonom individual, sepenuhnya. Oleh karenanya, saya akan dianggap pongah dan dzalim seandainya memaksa Anas dan Intan menjadi bukan diri mereka. Saya mengimani, tugas agung semua orang adalah menghormati pilihan identitas individual, serta memastikan tidak ada secuilpun hak mereka terkurangi oleh pilihan tersebut.

Kemelut Luth

Banyak peserta menanyakan keberadaan kisah Luth yang kerap dijadikan dalil merepresi praktek homoseksualitas. Keputusan Komisi Fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014 – terkait Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan- menautkan beberapa ayat yang merujuk kisah itu.

Sebelum membahasnya, perlu dipahami pada prinsipnya ada 3 bentuk hubungan seksual; pemaksaan/perkosaan (koersif), pemanfaatan untuk tujuan tertentu (eksploitatif), dan hubungan seksual yang disepakati (mutual consent). Dua yang pertama merupakan tindak kejahatan seksual tanpa mempedulikan apapun orientasi seksualnya. Anda mau hetero, homo atau biseksual, perkosaan tetaplah perkosaan. Derajat kekejian praktek ini tidak akan terkurangi oleh; apakah obyek penetrasinya berupa anal atau vagina,

Sejujurnya, kita seringkali tidak berlaku adil. Tatkala ada perempuan dibawah umur diperkosa laki-laki, kita kutuk perbuatan itu tanpa perlu mempersoalkan orientasi seksual pelaku. Giliran korbannya anak laki-laki, kita mengecam kebiadaban tersebut plus meneriakkan kebencian terhadap homoseksualitas. Kalau hasrat heteroseksual tidak dipersalahkan dalam kasus perkosaan, kenapa hasrat homoseksualitas harus dibawa ke kursi pesakitan? Saya tahu, tanpa disadari nalar kita telah terjangkiti virus-jadul homophobia. Virus ini awalnya disemai oleh rivalitas agama Pagan melawan agama “langit” pra-Islam[5]. Kebencian itu selanjutnya dipertajam oleh sengketa dogmatik antara kubu Arian vis a vis kelompok Athanasius[6], dan “dirawat “ dengan baik oleh teks agama hingga saat ini.

Dalam al-Quran, jika secara teliti kita baca peristiwa umat Nabi Luth dengan pikiran yang adil -tanpa menstigma orientasi seksual tertentu, kita bisa katakan ceritanya demikian; sekelompok penduduk dimana Nabi Luth tinggal mendatangi rumahnya tatkala mendengar dia kedatangan tamu. Mereka berniat mengusir Luth dan tamunya jika tetap berpura-pura suci. Alquran menunjukkan, Luth beranggapan warga tersebut hendak “mengambil” tamu-tamunya untuk “dikerjai” secara seksual. Oleh karenanya, Luth menawarkan putri-putrinya. Warga tentu saja menolak tawaran Luth karena bagi mereka, putri-putri Luth tidak ada sangkut pautnya dengan urusan mereka. Setelah Luth dkk, menyingkir dari kota, cerita tersebut diakhiri dengan pembumihangusan kota itu oleh Tuhan. Malangnya, istri Luth tidak ikut diselamatkan Tuhan. Perempuan itu meninggal bersama seluruh kota.

***

Mengingat sudah tidak ada lagi saksi hidup peristiwa tersebut, menjadi penting merekonstruksi kejadian yang sebenarnya. Melalui teks-teks suci, kita mendapat informasi bahwa Luth diturunkan untuk berdakwah pada komunitas dimana banyak lelaki berprofesi sebagai penyamun (rampok). Pekerjaan seperti itu hanya mampu dilakukan oleh individu bengis dan pemberani. Tidak mungkin pengecut punya nyali melakukan kejahatan itu. Keberadaan Luth -dengan ajaran barunya- mengusik keyakinan lokal yang mereka anut. Kejengkelan mereka memuncak manakala terdengar beberapa sekutu Luth datang berkunjung. Mereka sangat mungkin berpandangan intensitas dakwah Luth akan meningkat seiring datangnya bala bantuan tersebut. Bagi mereka, Luth dianggap tengah bermanuver dan memprovokasi warga. Perlu diketahui, dalam konstelasi mayoritas-minoritas waktu itu, Luth bukanlah kelompok pertama. Pengikutnya sangat sedikit, bahkan istrinya pun  memilih tidak sejalan dengan ajarannya.

Saya meyakini kedatangan sekelompok orang ke rumah Luth dalam rangka membalas provokasi Luth. Mereka mendesak Luth agar tidak meneruskan dakwahnya (berpura-pura suci, merasa lebih baik dari masyarakat lokal dalam hal keyakinan).  Oleh mereka, Luth dan tamunya akan diusir paksa jika tetap bersikukuh dengan dakwahnya. Kenapa Luth menawarkan putri-putrinya? Ini yang menarik. Luth nampaknya salah paham. Dia mengasumsikan kengototan warga meminta tamunya demi tujuan kenikmatan seksual. Padahal tidak.  Saya punya hipotesis warga mendesak Luth agar menyerahkan tamunya untuk dihukum. Tujuannya, agar Luth dan siapapun dibelakang misi dakwahnya tidak lagi mengusik mereka dengan cara memaksakan agama baru. Harap diketahui, mempermalukan utusan (tamu Luth) -karena dianggap akan membahayakan komunitas yang dikunjungi- merupakan salah satu model ‘penyampaian pesan’. Pesan warga sangat jelas dan “masuk akal”; para tamu akan diperkosa-anal (fakhisyah) jika Luth dan kawan-kawannya tidak pergi dari kota itu.

Saya tidak mempercayai kehendak seksual warga dan para tamu dilandasi cinta kasih, atau setidaknya dalam relasi mutual-consent, berdasarkan beberapa hal. Pertama, mereka meminta tamu-tamu tersebut pergi. Mari kita berfikir mendalam. Jika seseorang begitu horny, bukankah seharusnya dia melakukan hal sebaliknya (mencegahnya pergi). Hubungan seksual tersebut, sekali lagi, merupakan upaya intimidatif agar Luth dkk. pergi. Bukan relasi seksual yang berbasis cinta kasih.

Kedua, warga tersebut teridentifikasi punya istri. Artinya, mereka bukan seorang homoseksual. Ketiga, jika umat Luth dihukum Tuhan karena suka sejenis, kenapa istri Luth juga harus mengalami kebinasaan? Begitu juga dengan seluruh istri dan anak-anak di kota itu. Tidak ada keterangan eksplisit dalam alquran yang mengatakan pasangan Luth dan istri-istri warga adalah seorang lesbian. Jika perempuan-perempuan itu harus menanggung dosa para lelakinya yang dituduh suka sejenis, apakah ini berarti kita akan menuduh istri Luth juga dihukum karena suaminya seorang homoseksual?. Justru al-Quran –melalui at-Tahrim 10- memberi ketegasan Istri Luth tidak terselamatkan karena berkhianat terhadap ajaran suaminya, sebagaimana yang menimpa istri Nuh.

***

Akhirnya, hanya Tuhan yang memiliki otoritas mutlak menentukan siapa penghuni surga. Kriteria umumnya sangat jelas, yakni tergantung amal perbuatannya. Bukan berdasarkan jenis kelamin, orientasi seksual, apalagi identitas gender. Pelaku kekerasan seksual sangat mungkin akan terbenam lama di neraka, tidak peduli apakah dia seorang hetero, homo, atau biseksual. Ketiganya juga memiliki kesempatan yang sama mengakses surga seandainya mereka berbuat baik dan tidak melakukan praktek seksual koersif dan eksploitatif. Wallahu a’lam.

[1] Banyak sarjana dan cendekia muslim laki-laki yang menjomblo hingga akhir hayatnya. Tidak diketahui secara jelas alasannya. Mereka bisa jadi tidak tertarik secara seksual terhadap perempuan, atau sebaliknya namun memilih tidak menikah. Beberapa dari mereka antara lain; Ibn Taimiyyah, Abd Allah b. Abî Najîh,  Bishr b. al-Hârith al-Hâfî, Muhammad b. Jarîr al-Tabarî,  al-Zamakhsharî, Hanâ’ b. al-Sirrî, Abû `Alî al-Qârî, Abû Sa`d al-Sam`ânî, dan Imam al-Nawawî. Lihat Sheikh `Abd al-Wahhâb al-Turayrî, Scholar and Notables,

https://www.ummaland.com/document/download/id_475/,

[2] Everett K. Rowson, the Effeminates of Early Medina, Journal of the American Oriental Society Vol. 111 No. 4 (1991) [3] Di banyak tafsir, kata ‘al-qawaidu min al-nisai” dimaknai “wanita tua”. Saya lebih condong memaknainya dengan “perempuan yang punya prinsip” dengan alasan terdapat banyak perempuan Islam terkemuka yang memegang teguh prinsip untuk hidup selibat, diantaranya adalah Umm Shurayk (Ghaziyyah bint Hakim), Umm `Abd Allah bint `Abd Allah b. Ja`far b. Abî Tâlib, Umm al-Kirâm bint Ahmad b. Muhammad b. Hâtim al-Murwaziyyah, Umm `Abd Allah Habîbah bint al-Khatîb `Iz al-Dîn Ibrâhîm b. `Abd Allah b. Abî `Umar al-Maqdasiyyah, Umm `Abd Allah Fâtimah bint Sulaymân b. `Abd al-Karîm al-Ansârî, Atamm al-Rajâ’, Hâtûn bint Ismâ`îl b. al-`Adil b. Abî Bakr b. Ayûb b. Shâdî, Nawâb Zayn al-Nisâ’ Bîkum bint Muhyî al-Dîn Orank, lihat Sheikh Muhammad al-Qannâs, Scholar and Notables, opcit. [4] http://www.britannica.com/topic/Occams-razor [5] History of Homosexuality, http://www.conservapedia.com/History_of_homosexuality [6] Athanasius, History of the Arians, http://www.documentacatholicaomnia.eu/03d/0295 0373,_Athanasius,_Historia_Arianorum_%5BSchaff%5D,_EN.pdf