Aroma Politik di Bulan Ramadan

Opini

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Oleh: Fathullah Syahrul

(Alumni KPG II Jaringan GUSDURian Makassar)

Momentum bulan suci Ramadan merupakan bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di seluruh penjuru dunia. Sebab, pada bulan itulah  pahala seseorang akan dilipat gandakan dan seluruh dosa diampuni.

Umat muslim sebelum memasuki bulan suci Ramadan dituntut untuk suci jiwa dan batinnya. Karena, bulan suci Ramadan tidak hanya mewajibkan menahan lapar dan haus saja tetapi menjaga seluruh jiwa agar terhindar dari nafsu dunia yang akan membawa seseorang menuju hal-hal yang negatif.

Momentum itu pula diikuti dengan momentum politik karena, mengingat bahwa Pemilihan Gubernur dan Calon Wakil Gubernur akan digelar pada tahun 2018 mendatang. Ketika orang bicara soal pemilihan (Pilkada) berarti kita bicara soal politik.

Politik acap kali dikatakan sebagai sumber utama dalam proses dan tahapan Pemilihan Kepala Daerah. Strategi politik sebagai kunci yang dipasang oleh beberapa kandidat untuk memenangi pemilihan tersebut.

Sebelum memasuki momentum pilgub 2018 mendatang momentum bulan suci Ramadan juga bisa dikatakan sebagai tanda dimana aroma-aroma politik mulai tercium di seluruh sudut-sudut daerah Sulawesi Selatan.

Hal itu ditandai lewat kampanye-kampanye politik para kandidat, lewat baliho dan media sosial bahkan, ada pula kandidat yang melakukan silaturrahim kepada para kiai dan ulama. Gerakan untuk mengunjungi para kiai dan ulama, kita tidak tahu menahu apakah ada niat yang terselubung dibalik kunjungannya selain silaturrahim?

Jika mengunjungi para kiai dan ulama dengan niat dan kepentingan tertentu berarti momentum bulan suci Ramadan hanya dijadikan sebagai momentum politik yang aroma-aromanya mulai menyengat di bulan Ramadan.

Ketika bulan suci Ramadan ditafsirkan sebagai bulan menahan; menahan lapar dan haus, menahan perbuatan maksiat, menahan hawa nafsu dan menahan seluruh perbuatan yang akan mendatangkan hal-hal negative maka, sejatinya kita sudah menjalani makna substansi dari bulan Ramadan itu sendiri.

Tetapi apakah di bulan suci Ramadan para kandidat yang akan bertarung di pilgub 2018 mendatang mampu menahan diri dari hasrat dan nafsu politk kekuasaan? Jika pertanyaa ini tak mampu dijawab maka, momentum bulan suci Ramadan akan tergadaikan lewat hasrat dan kekuasaan politik semata.

Hasrat kekuasaan politik yang saya maksud adalah sikap menyengsarakan rakyat hal itu ditandai dengan janji-janji politik sebelum terpilih tetapi ketika terpilih mereka lupa akan janjinya. Apatalagi kampanye dan janji politik itu diuraikan pada saat bulan suci Ramadan.

Aroma Politik Menuju Pentas Demokrasi

Aroma acapkali di simpulkan dalam dua kata yang saling bertentangan yaitu, harum dan busuk. Harum dan Busuk kedua kata ini selalu berlaku pada realitas politik saatini. Mengapa demikian? Karena, sebagai masyarakat sering kali melihat perilaku para politisi-politisi yang mementingkan diri sendiri.

Tetapi, tak sedikit pula para politisi-politisi yang betul-betul focus dalam membangun kesejahteraan masyarakat sebagai hasil dari politik kekuasaan yang beraroma harum.

Tak bisa terelakkan lagi bahwa, setiap momentum perubahan dan memontum demokrasi pasti seiring sejalan dengan aroma-aroma politik yang akan dibuat oleh para politisi; apakah hasilnya akan harum ataupun sebaliknya.

Jika proses janji dan kampanye-kampanye politik yang dilakukan oleh para kandidat akan menghasilkan aroma dan bau yang harum maka hal itulah yang harus dipertahankan. Tetapi, jika hasilnya justru mendatangkan aroma yang busuk dan menyengat maka hal itu pulalah yang harus dilawan.

Akhirnya, bulan suci Ramadan nan mulia ini dan sebelum memasuki momentum demokrasi tahun 2018 mendatang. Semoga bisa dijadikan sebagai momentum yang betul-betul positif yang tercium beraroma harum.Karena itulah masyarakat sendiri yang akan memilih apakah aroma politik akan tercium harum ataukah tercium busuk. Wallahu alam.