Bissu Tidaklah Bisu

Dari Novel Pepi Al-Bayqunie

14 Okt 2016, 15:48:36 WIB || Editor:IQ Arsyad Sastra

Bissu Tidaklah Bisu Saprillah Syahrir / Pepi Al-Bayqunie

Seputarsulawesi.com, Makassar- Peneliti Litbang Agama Makassar dan juga Dewan Pembina GUSDURian Sulselbar, Saprillah Syahrir Al-Bayquni menulis novel kebudayaan yang di angkat dari kehidupan para Bissu.

Dengan nama pena Pepi Al-Bayqunie, Saprillah mencoba menceritakan Saidi (tokoh utama) yang sedang mencari identitas dirinya yang calabai (waria) di tengah tekanan agama dan akhirnya menemukan jati dirinya sebagai Bissu.

Bissu adalah ahli waris adat dan tradisi luhur Bugis, yang dipercaya menjadi penghubung antara alam manusia dan alam Dewata.

"Bissu melampaui jenis kelamin. Bissu bermakna bersih. Suci. Seorang Bissu tidak memiliki nafsu seksual yang berkobar-kobar layaknya lelaki atau calabai. Seorang Bissu sejati adalah ia yang telah melampaui nafsu seksualnya. Karena sifat-sifat itulah seorang Bissu menjadi penghubung antara alam Dewata dan alam manusia,"tulis Pepi dalam novel terbarunya yang berjudul CALABAI: Perempuan dalam Tubuh Lelaki.

Dalam dunia hari-hari, komunitas Bissu ini dapat dijumpai di beberapa daerah, seperti Kabupaten Bone dan Pangkep. Setting lokasi yang dituturkan Saprillah Syahrir Al-Bayquni pada novel ini lebih banyak di Segeri, Kabupaten Pangkep, tempat Bissu Saidi mendidikasikan dirinya sebelum akhirnya wafat 2011 silam.

Komunitas Bissu selama ini seringkali menjadi cercaan publik, dianggap sebagai kelompok biseksual (lelaki sekaligus perempuan), waria, atau indo' botting. Namun dalam novel ini, Saprillah mengetengahkan sisi lain dari Bissu, yakni perjalanan spiritual tokoh Saidi menjadi seorang Bissu (bermakna bersih).  

Dengan demikian, novel ini sesungguhnya merupakan sebuah upaya menegaskan salah satu bentuk eksistensi Bissu (spritualitas suci-bersih). Artinya, novel ini hendak bilang; "Bissu tidaklah Bisu".   Bissu, bukanlah soal seks atau jenis kelamin semata.



"Ini adalah Novel keempat saya, yang ceritanya berbasis kehidupan para Bissu," jelas pria yang lahir di kampung jeruk, Malangke, Lutra ini kepada Seputarsulawesi.com, Jum'at (14/10).

Pepi tertarik menuliskan kehidupan Bissu ke dalam sebuah novel berawal saat dia masih aktif di Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel melakukan pendampingan komunitas tahun 2002. Darisitu Ia berkenalan dengan Puang Matoa Saidi, pimpinan komunitas Bissu.

Tahun 2011, ketika Puang Matoa Saidi meninggal dunia, Ia terpicu untuk melanjutkan penulisan novel tentang bissu yang tertunda 10 tahun.

"Mulai saat itu, saya coba mengumpulkan kembali ingatan dengan berdiskusi beberapa sahabat saya dan kembali mempelajari sosok Bissu melalui tulisan-tulisan yang ada, baik itu disertasi maupun tulisan yang saya kumpulkan dari internet," papar Dewan Pembina GUSDURian Sulselbar ini.

Namun, tambah Pepi, tokoh utama Saidi dalam novel ini tidaklah merepresentasikan kahidupan Puang Matoa Saidi secara utuh, Tapi, Saidi dalam novel ini ialah tokoh yang saya ciptakan sebagai ruang untuk menceritakan kembali kepingan-kepingan ingatan saat bergaul dengan komunitas Bissu.

Sebelumnya, alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini sudah menuliskan tiga buah novel yang juga di angkat dari pengalamannya baik sebagai santri, aktivis mahasiswa, pendamping komunitas maupun sebagai peneliti agama dan kebudayaan. Tiga Novel sebelunya berjudul Tahajud Sang Aktivis, Kasidah Maribeth, Jejak: Cinta Tak Pernah Salah Mengenal Tuannya.

(Bal)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook