Buka Bersama; Silaturahmi, Konsumerisme dan Politik Popularitas

Lipsus

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Gambar via Rumah.com

Seputarsulawesi.com, Makassar - Pada bulan ramadhan, orang-orang tidak hanya mencari berkah, tapi juga berburu makanan. Banyaknya pilihan makanan yang hadir menjelang berbuka puasa, cukup banyak membangkitkan selera. Di kota-kota besar, mulai dari emperan trotoar hingga restoran kelas wahid, menyajikan menu makanan yang variatif, dan kadang hanya ada di bulan ramadhan. Orang-orang rela menguras dompet lebih dalam, agar bisa memuaskan selera makannya.

Kota Makassar tak mau ketinggalan merayakan euforia bulan ramadhan. Restoran-restoran mewah bersolek ria, menambah varian menu dan jumlah tempat duduk. Rumah makan yang tergolong menengah juga tak mau kalah, apalagi yang tergolong biasa. Karena mereka paham, bahwa orang-orang kota akan datang sebelum pukul delapan belas, menjelang berbuka puasa.

Masyarakat urban Makassar punya dua pilihan untuk berbuka puasa, apakah di rumah sendiri atau rumah makan. Tapi, pilihan kedua sering jadi yang utama, dengan alasan kepraktisan. Alasan lainnya yaitu masyarakat urban juga sangat lekat dengan budaya konsumerisme. Dalam paper yang ditulis Alfitri berjudul Budaya Konsumerisme Masyarakat Perkotaan (Majalah Empiris, Volume XI, No. 01, 2007)menyatakan bahwa perilaku konsumerisme di perkotaan selain dipengaruhi oleh kepribadian konsumen, juga oleh lingkungan perkotaan. Lingkungan perkotaan yang dimaksud adalah semakin banyak munculnya pusat-pusat perbelanjaan modern yang dapat mendorong orang untuk mengunjungi dan berbelanja, walaupun sebenarnya tidak direncanakan dari rumah.

Tumbuhnya banyak pusat perbelanjaan modern, juga dibarengi menjamurnya restoran/rumah makan. Jumlah restoran/rumah makan di Kota Makassar sendiri, menurut data Dispenda pada tahun 2014, adalah 925 buah. Dari jumlah tersebut, terbagi ke dalam berbagai jenis rumah makan yang menyajikan berbagai jenis makanan dan pilihan menjelang berbuka puasa. Rumah-rumah makan tersebut, tersebar di penjuru kota sehingga memudahkan masyarakat urban dalam memilih dan menemukan rumah makanan mana yang ia akan tuju.

Perekat Sosial dan Konsumsi Tanda

Buka bersama di bulan ramadhan, menandakan masih adanya budaya kolektif masyarakat perkotaan. Di media sosial misalnya, linimasa banyak dipenuhi oleh foto orang-orang yang sedang berbuka puasa bersama. Ramai-ramai mereka menjalin kembali silaturahmi dengan kerabat atau teman lama, yang jarang bertemu di bulan-bulan sebelumnya. Bulan ramadhan, seakan jadi satu-satunya bulan untuk bersilaturahmi setiap tahun.

Silaturahmi ini banyak dilakukan di rumah-rumah makan. Sehingga, setiap menjelang berbuka puasa, sangat jarang ditemukan rumah makan di Kota Makassar yang tampak lengang. Rumah-rumah makan akan penuh sesak oleh pengunjung. Menjelang berbuka puasa, pelayan rumah makan sangat sibuk melayani tamu satu per satu. Dan pelanggan, harus sabar mengantre menunggu makanannya disajikan. Jika terlambat datang, siap-siap saja menunggu lebih lama.

Meski rumah makan penuh sesak, masyarakat urban masih tetap saja memilih berbuka bersama di tempat itu. Sinar, seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar, mengaku tidak merasa risih jika harus berbuka bersama dengan teman-temannya, meski rumah makan tersebut sedang penuh sesak. “Di bulan ramadhan tahun ini, saya pernah berbuka puasa bareng teman-teman alumni SMA di salah satu rumah makan besar. Memang tempatnya penuh sesak dan kita harus antri, tapi tidak mempengaruhi kami yang sedang ngumpul-ngumpul. Saya santai saja sih, asalkan bisa ngumpul bersama teman lama. Makan di tempat seperti itu, juga lebih baik viewnya untuk foto-foto, dan bagus diunggah di media sosial.” Ujarnya.

Buka bersama sekaligus silaturahmi, akan menambah daya rekat sosial yang selama ini renggang. Tetapi di balik itu, konsumsi tanda juga bekerja sama baiknya, terlebih pada masyarakat perkotaan. Teori Baudrillard (Nanang, 2012), menjelaskan bahwa logika konsumsi masyarakat bukan lagi berdasarkan use value atau exchange value melainkan hadir nilai baru yang disebut “symbolic value”. Maksudnya, orang tidak lagi mengkonsumsi objek berdasarkan nilai tukar/nilai guna, melainkan karena nilai tanda/ simbolis yang sifatnya abstrak dan terkontruksi.

Alasan Sinar yang terakhir, “view yang menarik untuk berfoto-foto dan mengunggahnya di media sosial”, mengindikasikan bergesernya tahapan konsumerisme masyarakat perkotaan. Berbuka bersama sebagai tindakan konsumsi, lebih mengutaman nilai simbolik. Lebih kepada simbol prestise dan gaya hidup perkotaan yang serba mewah. Terlebih, konsumsi tanda banyak kita temukan pada masyarakat perkotaan yang berbuka bersama di gerai-gerai makanan cepat saji.

Sarana Mendongkrak Popularitas

Bukan hanya artis yang butuh popularitas, politisi juga menganggap hal itu sebagai kebutuhan. Popularitas yang tinggi akan mendongkrak dukungan, dan tentunya suara saat pemilu nanti. Bulan ramadhan adalah momen yang tepat, guna mengumbar populiritas. Bahwa politisi, khususnya yang mereka yang muslim, taat beragama danpunya kepekaan sosial tinggi bagi masyarakat di sekitarnya.

Para politisi hadir di berbagai ulasan yang dimuat oleh media, dengan framing yang sangat islami. Ulasan-ulasan itu banyak yang bertema tentang buka puasa politisi ini dengan warga ini atau seorang politisi berbuka puasa dengan ratusan anak panti asuhan. Citra/image religius berusaha dibangun para politisi sedemikian rupa, agar menarik hati calon simpatisannya.

Belum lagi, para politisi yang memiliki akun media sosial sendiri, memudahkan mereka untuk menyebarkan kegiatan-kegiatan ibadah maupun sosial di bulan ramadhan. Tentu hal ini akan mengangkat citra mereka di hadapan para calon pemilih dengan identitas yang sama. Apalagi, dari hasil survei Marketeers dan Markplus Insight, pengguna internet di Indonesia mencapai 74 Juta orang atau 28 persen populasi Indonesia. Menurut data itu, hampir separuh netizen berusia di bawah 30 tahun dan 16 persen di atas 45 tahun. Artinya, hampir separuh pemilih dalam pemilu mendatang.

Dampak penggunaan media sosial bagi para politisi akan sangat menguntungkan pada pemilihan umum mendatang. Ciaran McMahon, dosen psikologi Dublin Business School, melakukan sebuah studi terkait dampak media sosial dan raihan suara dalam pemiliham umum bulan Februari 2011 di Irlandia. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa kandidat parlemen Irlandia yang memiliki akun di facebook dan twitter memiliki perbedaan suara yang besar dibandingkan dengan yang tidak punya. Kandidat yang memiliki akun facebook mendapatkan rata-rata 4.402 suara, sementara yang tak memiliki akun facebook hanya mendapat rata-rata 2.100 suara.

Bulan ramadhan menjadi momentum yang tepat, guna membangun citra yang religius bagi seorang politisi. Popularitas yang terdongkrak akan mendorong para pemilih, khususnya yang beragama islam, untuk mempertimbangkan citra tersebut. Meski demikian, sosial media juga perlahan-lahan membentuk rasionalitas publik dalam menilai seorang politisi. Netizen, sebagai konsumen media, sudah lebih kritis dalam menilai. Mereka bisa saja akan membandingkan popularitas di dunia maya dengan kinerja nyata para politisi.

Kontributor, Ilham Bedewe