Cermin Spiritualitas Gus Dur

Opini

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Oleh

Fuad Al-Athor

Santri Pondok Pesantren Kasepuhan Qoshrul Arifin Atas Angin, Darmacaang, Cikoneng, Ciamis/Katib JATMAN DKI Jakarta

Sekira pertengahan tahun 1999 ketika hendak berangkat ke Jawa untuk kembali bergelut dengan kewajiban menimba ilmu pengetahuan, penulis melintasi kerumunan massa di samping sebuah pasar kecamatan. Ternyata sedang berlangsung perhelatan kampanye terbuka dan kebetulan dilaksanakan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Dalam salah satu orasi politiknya, seorang juru kampanye yang penulis pikir adalah seorang kiai menyampaikan agitasinya. “Bapak-ibu sekalian, ikutlah Gus Dur. Sebab beliau ini orang alim, kealimannya terbukti bahwa beliau pernah mulang (ngajar) kitab Al-Hikam (kitab yang berisi tentang ilmu-ilmu hikmah ketasawwufan). Ketahuilah bahwa tidak sembarang orang mampu mengajarkan kitab tersebut. Hanya orang yang keilmuannya sudah tingkat tinggi yang berani mengajarkan isi kitab tersebut!”

Kira-kira demikianlah, argumentasi yang sampai sekarang masih bersarang di ingatan kami yang menjadi semacam rambu-rambu penunjuk arah ketika mencoba membincang sisi spiritual tokoh satu ini, Gus Dur. Rambu berikutnya adalah “quote” paling misterius dari beliau sendiri yang berbunyi, “Guru spiritualitas saya adalah realitas dan Guru realitas saya adalah spiritualitas.”

Dua dilalah ini saja sudah cukup kemudian untuk, pada ratusan lembar-lembar kisah, dijadikan bingkai atas banyak hal dan peristiwa yang dianggap sebagai penanda spiritualitas beliau. Mulai dari keajaibannya dalam praktek, “sadar dalam tidur”, berkomunikasi dengan para arwah, memiliki prediksi-prediksi yang akhirnya “kejadian” dan banyak lagi lainnya. Ujungnya, beliau diyakini sebagai seorang waliyullah, seorang kekasih-Nya.

Kembali ke petikan “Guru spiritualitas saya adalah realitas dan guru realitas saya adalah spiritualitas,” yang minim penjelasan sehingga memosisikannya sebagai teks yang terbuka terhadap tafsir. Inilah sedikit coret-coretan penulis dalam mencoba memberi catatan kaki pada teks tersebut. Tentu saja, upaya ini dimaksudkan untuk “bercermin” pada orang-orang Alim yang dalam bahasa santrinya adalah “tabarrukan”.

Pendekatan yang paling memungkinkan untuk mengungkap makna dari quote tersebut adalah pendekatan maqomat/state atau kondisi spiritual yang beliau sendiri alami. Yang dalam hal ini menjelaskan, pertama; bahwa spiritualitas atau perjalanan keintiman rohani beliau pada keilahian seiring dan semakin dikuatkan dengan internalisasi tajalli beliau terhadap keesaan Tuhannya melalui realitas-realitas harian. Apakah ini mungkin? Sangat mungkin, sebab dalam dunia spiritual islam/mistik islam seseorang dimungkinkan untuk mengalami penyingkapan rohani dan mengalami musyahadah/penyaksian.

Jika demikian, maka beliau dipastikan telah memetik mutiara dari lelaku mistik “topo ngrame” atau berada dalam kondisi asketis meskipun dalam kondisi bersosialisasi,“solitude in the crowd” di mana dalam keberlangsungan aktivitas jasadiyahnya berlangsung pula aktivitas rohaniyah secara simultan. Sehingga dalam aktivisme juga ada spiritualisme dan sebaliknya. Dari sini pula kita bisa melihat keholistikan (islam yang kaffah) praktek keagamaan Gus Dur. Tidak ada dualisme dalam melihat “Realitas”, ia spiritual juga real (sekuler) pada saat yang bersamaan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah.” (24:37). Rasulullah SAW, mengisyaratkan dalam Haditsnya tentang hal ini: “Padaku terdapat dua sisi. Satu sisiku menghadap ke arah Pencipta ku dan satu sisi lagi menghadap ke arah makhluk ciptaan.”

Keadaan ini yang menyebabkan seseorang tidak bisa lagi menghindar dari “melihat Tuhannya” dalam detik demi detik kehidupannya. Sehingga di hatinya kesadaran tauhid-nya mencapai kulminasi yang memungkinkan ia untuk menerima pelajaran-Nya dari makhluk apapun yang dilihatnya. Namun, keadaan ini tidak kemudian menjatuhkan seseorang pada posisi phanteistik. Orang sekaliber beliau mesti telah melewati perdebatan dalam dunia sufi tentang pandangan wahdatul wujud dan wahdatus syuhud. Hal ini dijelaskan oleh hal kedua, yang dapat diungkap dari frase kedua dari quote beliau tersebut ; bahwa dalam melampaui perdebatan teologis tentang posisi pengungkapan tajalliyat tersebut diekspresikan secara unik (dan sesuai jamannya) dengan spiritualitas yang bertindak. Inilah yang, hemat penulis, lebih mendekati dalam pemaknaan dari “Guru realitas ku adalah spiritual”.

Di sinilah letak krusialitas, -kegentingan, dari spiritualitas beliau yang tidak saja membawa kita pada kekayaan khazanah keilmuan mistik dalam tradisi islam akan tetapi juga dalam hal memajukan amaliah-amaliahnya nun jauh melampaui kungkungan simbol-simbol keagamaan, masuk pada dimensi-dimensi yang tampaknya sekuler dan hanya produk pemikiran manusia. Spiritualitas yang bergerak, yang jika meminjam istilah Immanuel kant, merupakan categorical imperative (suatu kewajiban umum yang universal) yang bersumber dari samudra kesadaran spiritual beliau, langsung dihadap-hadapkan dengan kenyataan kondisi umat islam dalam posisi struktural dan kulturalnya.

Tugas pengabdian (ubudiyah) kemudian mendapatkan ruang praktik di mana pun, sebab Tuhan hadir pada setiap momen dan tempat yang tak terhingga. Tidak terbatas pada teks, institusi dan ritual keagamaan saja. Bagi mereka yang telah mencapai maqom kedekatan, Tuhan dapat ditemui di mana saja, bahkan, jika meminjam istilahnya Bung Karno, “Tuhan bersemayam di gubuk-gubuk orang-orang lemah.” Inilah universalitasnya. Sehingga, dengan kesadaran keabdiannya pula yang merasa rendah di sisi-Nya menggerakkannya untuk melakukan pembelaan sebagai kewajiban yang bersandar pada Adab-adab yang contohkan dalam Sunnah Nabi SAW. Jadi bukan dengan acting sebagai wakil-Nya melakukan pembelaan atas Tuhan seraya menyembunyikan rasa superior egonya dan menunjukkan ketidak-tahuannya posisi keabdiannya terhadap Allah SWT. Kemudian melabrak realitas apapun yang menurutnya keburukan tanpa mampu melihat “kehadiran” Tuhan di dalamnya yang juga menuntut penyikapan yang berdasar pada Adab-adab Rasulillah SAW.

Itulah mengapa gagasan dan perjuangan beliau selalu mengedepankan universalitas ketimbang partikularitas. Keadaan/maqom rohaninya yang mengizinkannya melihat universalitas kebenaran, pada gilirannya akan menyediakan konsep-konsep yang kuat sekaligus ketepatan meletakkannya dalam kekhususan ruang dan waktu dengan dukungan pemahaman yang jernih terhadap struktur dan situasi sosial yang ada.

Konsekuensi dari kematangan rohaniah di atas menjembatani dua entitas yang spiritual dan yang sekuler, bahkan bisa dikatakan menyatukannya dalam apa yang dikenal dalam khazanah sufisme sebagai “dawamul ubudiyah” kelanggengan pengabdian. Di sini ada keterhubungan, keterikatan secara rohaniah terhadap ke-Ilahian yang bermanifestasi dalam: kekuatannya mengartikulasi nilai-nilai dasar agama dan kelenturan atau pembaharuan-pembaharuan penerapan fiqh. Dengan kata lain, kesadaran ini merangkum dari yang non-historis dan yang historis sekaligus. Sehingga bukan suatu yang aneh jika ada kaidah fiqhyah yang mengandung semangat untuk melanggengkan sesuatu yang memang bersifat tetap dan tidak boleh berubah dan di sisi lain mengharuskan pada kesiapan-kesiapan upaya pembaharuan pada tataran yang selalu berubah atau historis.

Sebagaimana yang digariskan dalam tuntunan ulama-ulama salafus salihin mengenai manusia unggulan yang harus memiliki tiga keutamaan; 1). Kedekatan pada Hadirat Ilahi Subhanahu wa Ta’ala dan di samping itu, 2). Berpegang teguh pada Aqidah yang sahih menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan, 3). Melazimkan diri beramal menuruti Sunnah Nabawiyah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiga nilai inilah yang selalu menopang segenap sikap, perkataan, gerak dan aktivitas dari seorang yang digembleng dalam metode mistik Sunny yang melahirkan karakter kebijaksanaan, keluwesan dan moderatisme dari sosok seperti Gus Dur.

Dalam konteks yang lebih luas, melihat sosok Gus Dur tak ubahnya melihat sebutir mutiara berkilauan yang membawa penulis pada pertanyaan-pertanyaan bagaimana teknik pemotongan dan pemolesannya. Sebab yang kita saksikan adalah mutiara yang sudah jadi. Rasa penasaran ini tentu harus dikembalikan pada seperangkat metode pendidikan spiritual yang tersedia dalam islam khususnya dalam lingkungan islam tradisionalis, Nahdlatul Ulama.

Keberadaan dimensi sufistik dalam islam tradisional memberikan suatu prosedur standar dalam pembentukan pemikiran dan sikap yang memengaruhi secara dominan dalam tokoh-tokohnya. Inilah yang tidak tersedia dalam golongan yang sejak semula menolak sisi pendidikan mistik islam dan hanya bergantung pada teks ayat-ayat suci semata. Pada golongan ini, miskin akan metode tashfiyatul qolbi (pemurnian hati) yang memungkinkan terciptanya keterhubungan, kedekatan, keintiman dan gnostik, juga kurang akan praktek-praktek tazkiyatun nafsi (penyucian jiwa) yang akan menghantar pada peringai-peringai mulia; bijaksana, moderat, universalis dan berguna.

Dapat kita lihat perbedaan nyata antara keduanya jika kita melihat bagaimana kehidupan keberagamaan belakangan ini. Terbukti keluwesan, kebijaksanaan dan kebergunaan dari agama dari mereka yang sepaham dengan Gus Dur (berpaham aswaja) dibanding dengan trend-trend pemahaman keagamaan baru yang cenderung anti sosial. Bagi mereka yang setidaknya mengerti kedudukan nafs (ego) dari proses tazkiyatun nafsi tentu memiliki kesadaran bahwa meneriakkan takbir bukanlah untuk memperlihatkan kotornya nafs yang penuh dengan amarah, tapi untuk meninggikan nama-Nya dengan menaburkan kebajikan-kebajikan.

Akhirnya, demi mengingat ujaran sang juru kampanye di atas, marilah kita mengikuti, ittiba’ pada beliau sebagai washilah kita untuk berusaha menjadi lebih baik, lebih bisa berkontribusi bagi kemaslahatan bersama dengan meneruskan “tarekat” perjuangannya menciptakan kebaikan di bumi Nusantara ini.

Tulisan ini sudah terbit di NU Online dengan judul yang sama