Cinta Yang (tak) Bertuhan

Sastra

Editor Muhammad Iqbal Arsyad

Oleh : Ijhal Thamaona

 

*Baca cerita sebelumnya Cinta Yang (tak) Bertuhan Bagian pertama Klik Disini

Sudah tujuh jam. Ibu belum juga siuman. Aku duduk di sisi tempat tidurnya di ruang ICU rumah sakit itu. Ayah saya duduk di sisi sebelahnya lagi. Sementara di ruangan itu masih sesak dengan keluarga, tetangga dan beberapa temanku. Di luar ruangan masih banyak lagi handai taulan yang menunggu. Tanganku terus memegang tangan ibuku. Sejak pertama aku melihat ibuku pingsan, aku seperti tidak berpijak dibumi.  Setiap aku melihat wajah ibuku yang sedang tak sadarkan diri, hatiku bagai diremas. Aku merasa karena tindakankulah ibu jadi begini. Beberapa kali air mataku menyeruak keluar. Setiap itupula buru-buru aku menghapusnya dengan selampai yang aku pegang.

Terus terang aku tidak mau terlihat cengeng di depan semua orang, tapi tidak bisa kumungkiri, saat ini aku begitu ringkih, bahkan seakan kembali menjadi anak kecil. Anak tunggal ibuku yang sangat disayangnya. Sesungguhnya saat ini aku ingin mendekap ibuku dengan sepenuh-penuhnya. Seperti dulu jika  takut, aku akan memeluk ibuku, menangis tersenguk dalam pelukannya. Segera ibukupun akan mendekapku erat. Jika seperti itu aku akan segera merasa tenang. 

Malam sejak tadi menyelungkupi bumi. Jam di dinding ruangan itu menunjuk angka 8. Sepuluh jam ketegangan meyelimuti suasana. Kami semua didera kecemasan luar biasa.  Ibu tak kunjung siuman. Seorang dokter tua di iring dua dokter muda dan beberapa perawat masuk ruangan itu. Dokter tua itu berbicara dengan ayahku. Aku jelas mendengarkan semuanya. Ibuku ‘koma’.  Ada pembuluh darah dikepalanya yang pecah. Tapi yang membuatku tak bisa menahan diri lagi adalah ucapan dokter yang terakhir.

“Kita tidak tahu berapa lama ibu Nuraeni koma seperti ini pak, Ia bisa bertahan  seminggu, sebulan, setahun bahkan lebih dari itu. Tapi percayalah Allah Maha Kuasa atas segalanya”. Ucap dokter itu dengan pelan kepada ayahku.

Aku memegang erat tangan ibuku.  Kucium tangan itu lama sekali. Aku berharap dengan itu, Ia akan merasakan betapa aku sangat ketakutan saat itu, berharap ibu segera mendekapku seperti dulu.  Kini aku biarkan butiran air mata yang terus merembes keluar.  Seolah tak sadar, setelah kucium tangan ibuku, aku kini mendekapnya erat.

“Dekap aku ibuku….peluk aku dengan tanganmu itu, aku sungguh ketakutan saat ini. Ya…Allah….ku mohon !”. Dalam sanubariku, kata-kata itu kuucapkan berulang-ulang.

Tapi ibuku tak bereaksi. Pamanku dan Yusbar temanku, pelan-pelan meraih pundakku. Menggeser aku dari ibuku. Ibu akan dipindahkan ke ruangan lain. Ke kamar tersendiri yang lebih tenang untuk perawatan selanjutnya.

Inilah hari pertama ibu di kamar rumah sakit ini. Sejak itu pula aku tak pernah jauh darinya. Ujian terakhirku aku tinggalkan. Ayahku telah menyuruhku untuk ikut ujian lagi. Tapi aku menampik dengan halus.

“Ayah….jika aku harus berhenti kuliah, biarlah….aku ingin menemani ibu di sini”. Ucapku saat itu.  Ayahku tak berkata apa-apa.  Untuk sejenak matanya berkaca-kaca. Ayah tahu betul, ikatan ibu dan anak ini. Ayah tahu betul betapa ibu dulu seakan terikat secara batin dengan aku, anaknya, yang lagi nyantri di pesantren.  

Jika aku sakit di pesantren, ibu di rumah pasti tahu.  Ia merasakan sakit anaknya.  Besoknya ibu akan segera mengajak ayah menjengukku. Ayah tahu tiap malam Ibu selalu terbangun dan tidak pernah absen  melakukan shalat tahajjud. Mendoakan aku anaknya.  Karena itu ayah tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku bersikeras untuk terus berada disisi ibuku.  Aku ingin terus di sisinya dalam tidurnya yang tak berbatas waktu.

Mulai saat itulah aku seperti menghilang dari dunia.  HP-ku lebih banyak kumatikan. Tiap pagi aku membersihkan tubuh ibuku. Membersihkan kotorannya. Menggosok punggungnya dengan lembut.  Menaburkan bedak ditubuhnya. Tak sekalipun aku biarkan perawat atau keluargaku yang lain mengambil alih aktivitasku ini. Setelah ibu kubersihkan. Aku mulai duduk di dekat kepalanya. Sambil menggenggam lembut tangan ibuku aku membaca surah Yasin.  Di tengah bacaan surah Yasin itu, lara terkadang menyergapku.  Kesedihan yang datang begitu saja, tanpa bisa aku cegah.  Setiap selesai membaca surat Yasin, aku akan mengelus-elus kepalanya.  Aku ingat begitulah dulu ibuku menidurkanku.  Akupun ingat, ibuku jika mengelus kepalaku, akan selalu menyenandungkan shalawat kepada Nabi lalu melanjutkan dengan nyanyian lagu Bugis pengantar tidur: ‘Ininnawa’.   Maka akupun tak pernah luput melantunkan shalawat dan melanjutkannya dengan  menyanyikan lagu Ininnawa sambil mengelus rambut ibuku.

Ininnawa Sabbarae,
Ininnawa Sabbarae
Lolongeng Gare Deceng,
Alla Tosabbara’ ede
Alla Tosabbara’ ede

Duhai hati yang diliputi kesabaran
Duhai hati yang diliputi kesabaran
Kelak kan mendapat berkah
Untuk mereka yang bersabar
Mereka yang bersabar

Pitutaunna’ Sabbara
Pitutaunna’ Sabbara
Tengnginakkullolongen
Alla Riasengnge Deceng
Alla Riasengnge Deceng

Tujuh tahun kubersabar
Tujuh tahun kubersabar
Tak kunjung jua kudapati
Oh… apa yang disebut kemulian
Oh… apa yang disebut kemulian

Sabbara’ko Musukkuru
Sabbara’ko Musukkuru
Mugalung tokalolang
Alla Muallongi Longi
Alla Muallongi Longi

Bersabar dan bersyukurlah
Bersabar dan bersyukurlah
Berikhtiar di segala pintu rejeki
Bahagia sentosa akhirnya
Bahagia sentosa akhirnya

Mallongilongio Matti
Mallongilongio Matti
Aja’ Mutakkalupa
Alla Ri Puang Seuwwa’e
Alla Ri Puang Seuwwa’e

Kelak engkau bahagaia sentosa
Kelak engkau bahagaia sentosa
Janganlah lupa
Pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Pada Tuhan Yang Maha Kuasa

Sabbara’ko Mumapata
Sabbara’ko Mumapata
Muattunrungtunru Toto
Alla Sappai Deceng’nge
Alla Sappai Deceng’nge

Sabar dan tegarlah engkau
Sabar dan tegarlah engkau
Jalani Qada dan Qadarmu
Mencari pahala dunia akhirat
Mencari pahala dunia akhirat

Deceng Enre ko Ri Bola
Deceng Enre ko Ri Bola
Tejjali’ Tettappere
Alla Banna Mase Mase
Alla Banna Mase Mase

Duhai suka cita, mari-marilah kemari
Mari-marilah kemari, duhai suka cita
Di rumahku yang bersahaja
Dengan hati yang lapang
Dengan hati yang lapang

Jika senja mulai membayang dan matahari segera akan kembali keperaduannya, aku kembali membersihkan ibuku. Menggosok tubuhnya dengan kain basah yang hangat. Setiap aku menyaksikan tubuh ibuku yang semakin ringkih, kalbuku kembali seperti diremas-remas.  Lagi-lagi jika seperti itu diam-diam aku hanya bisa menangis dalam hati. Setiap malam menjelang tidur, aku kembali berada disisi kepalanya, membacakan Yasin, melantunkan shalawat dan mendendangkan lagu  Ininnawa.  Setelah aku yakin ibuku tertidur, barulah aku akan berbaring di sisinya. Aku sendiri tidak tahu bagaimana aku yakin ibuku sudah tertidur atau belum, sebab sesungguhnya Ia tak pernah secara kasat mata terbangun dari tidur panjangnya.   Mungkin hanya perasanku saja yang meyakini Ia sudah tertidur.

Enam bulan sudah aku menjalani hari-hari bersama ibuku yang masih ‘tertidur’. Aku hampir tidak pernah meninggalkan kamar di mana ibuku di rawat.  Kuliahku  yang sudah di ujungnya aku tinggalkan. Beberapa kali  ayah bersama dengan paman, beberapa temanku, bahkan dosenku datang berbincang denganku. Mereka memintaku untuk kembali ke bangku kuliah. Namun setiap mereka datang menyampaikan maksudnya. Aku hanya menunduk, dan berucap lirih :

“Bagaimana bisa aku meninggalkan ibuku , sementara Ia tidak pernah bisa jauh dariku bila aku sakit”  

***

Malam itu hujan masih menyerbu dari langit, meski curahnya tak sederas sore tadi. Gelap seakan menggigil dalam dekapan udara yang dingin. Ayahku baru saja pulang ke rumah. Dua orang sepupuku yang ikut menemani di rumah sakit, meringkuk disudut kamar.  Mereka tertidur dalam pelukan udara yang dingin. Aku baru saja selesai membaca surah Yasin dan melantunkan shalawat disamping ibuku.

Kini seperti biasa aku melantungkan kembali lagu Ininnawa. Tanganku bergerak perlahan mengelus rambut ibuku. Entah mengapa dalam suasana sunyi dan udara yang dingin itu, hatiku di dera perasan yang mengharu biru.  Aku rindu mendengar suara ibuku, tapi kini, dia hanya diam seribu bahasa.

Di sudut hatiku yang lain ada geletar rindu yang berbeda. Entahlah….namun dalam kesenyapan seperti ini, sudut hatiku itu rasanya merindukan sosok yang lain. Enam bulan tak kudengar kabarnya.  Anne….ya….Anne Cristina. Di mana Ia kini ?. Mungkinkah Ia sudah lupa padaku, atau aku yang memutuskan hubungan dengannya. Ya….selama enam bulan ini Hp-ku amat jarang aku aktifkan. Mungkin ia pernah menghubungiku, tapi tak bisa nyambung. 

Bukankah Ia bisa menanyakan kepada teman-temanku ?. Apa sulitnya mencari informasi tentangku ?. Sisi lain hatiku memberontak. Ada bilur kecewa direlungnya. Cinta ternyata berpamrih sobat. Seikhlas-ikhlasnya, ia ternyata tetap butuh perhatian. Aku berpaling menatap wajah ibuku yang nampak tidur dengan tenang. Dari menatap wajah tenangnya, tiba-tiba aku merasa bersalah, menuduh cinta punya pamrih. Pada sosok ibuku ini, pada cinta yang dipancarkanya, pada sayang yang dicurahkannya, pernahkah Ia meminta balasan ?. Ya…Allah, siapa saya ini yang berani berpikir demikian.  Ibu yang sepanjang masa mencintai, tanpa jeda sedikitpun.  Bahkan tak punya waktu untuk berpikir untuk apa ia mencintai. Jika sekarang Ia bersedih karena aku mencintai Anne, perempuan yang berbeda agama denganku itu, pasti bukan karena kepentingannya.  Itu semua terjadi, hanya karena Ibuku amat mencintaiku.

Tok…tok….

Tok..tok….

Terdengar dua kali ketukan halus di pintu kamar perawatan ibuku. Aku melihat jam di dinding, jam 22.30. Tak biasanya perawat datang jam segini. Tapi aku tak berlama-lama memikirkannya. Perlahan kuseret langkahku menuju pintu.

Di depanku kini berdiri sesosok perempuan dengan payung yang sudah di lipat di tangan kirinya. Di tangan kanannya, terlihat kantongan yang berisi sesuatu. Sinar lampu jelas menerangi wajahnya yang putih halus. Matanya yang cemerlang itu mengerjap sendu. Wajah yang sangat  kukenal kini persis di depanku. Mata yang diam-diam aku rindukan, saat ini tengah menatapku luruh.  Anne, ya….Anne yang baru saja menyeruak dalam kenanganku, kini berdiri tepat di hadapanku. Beberapa jenak keheningan menyelimuti kami. Pelan-pelan Anne meletakkan payungnya di sisi dinding. Tangan kanannya menyerahkan bungkusan yang dia bawa. Aku menyambutnya dengan tangan bergetar. Sebelah tangannya menggenggam tanganku.

“Boleh aku masuk”.  Ucapnya perlahan, nyaris tidak terdengar.

Aku mengangguk, lalu berjalan lebih awal ke dalam. Ia mengikuti dengan langkah pelan. Kedua sepupuku yang sejak tadi meringkuk disudut kamar, masih tampak pulas. Anne mengambil kursi di sudut kamar, lalu di bawa mendekat ke sisi tempat tidur ibuku. Tangannya meraih tangan ibuku, lalu dengan takzim menciumnya. Ia menatap pilu ke arah ibuku yang sedang “tertidur” itu.  Matanya merelap. Perlahan dari sudut mata kejoranya yang kini meredup sendu, air matanya luruh. Aku hanya duduk diam disampingnya. Lara juga tengah mengaduk-ngaduk perasaanku.

“Maafkan aku Idho”.  Lirih suaranya hampir tidak terdengar. Aku menatapnya. Lalu perlahan aku berucap.

“Tak ada yang harus meminta maaf, apalagi kamu”

“Aku tidak pernah datang menjenguk ibumu yang sedang sakit ini, aku jadi orang tegaan Idho”. 

Air matanya semakin deras. Pundaknya terguncang menahan tangis. Aku hanya menggenggam tangannya berusaha menenangkan. Namun akupun sebenarnya sedang diserbu rasa haru. Sekuat tenaga aku berusaha untuk terlihat tenang.

“Aku tidak bisa datang, karena khawatir, kedatanganku hanya mendatangkan masalah”. Anne melanjutan ucapannya. Aku diam, menunggu kata selanjutnya dari orang yang sebenarnya tengah kurindukan ini.

“Aku juga berkali-kali menghubungimu, tapi HP-mu tidak aktif”.

“Ya…benar Anne, HP-ku lebih banyak tidak aktif, aku lebih senang tidak berhubungan dengan dunia luar”. Kali ini aku menimpali perkataannya.

“Kenapa Idho, kenapa….?”

 “Bahkan kabarnya kamupun meninggalkan bangku kuliah”. Ucap Anne lebih lanjut.

“Aku tidak bisa meninggalkan ibuku”. Jawabku singkat.

Anne menatapku dengan sendu. Kini tangisnya telah reda, tapi bilur kepiluan nyata masih membayang di matanya.

“Ibumu sakit begini karena hubungan kita bukan ?. Tanya Anne tiba-tiba. 

“Mungkin ibuku sedih karena hubungan kita , tapi sakit ini adalah hal yang lain”.  Ujarku singkat, dan memang hanya itu yang dapat kukatakan.

Anne tiba-tiba menatapku. Matanya yang biasanya bersinar indah itu, kini terlihat sendu. Dengan susah payah ia berusaha mengucapkan sesuatu.

“Idho, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk kesembuhan ibumu, tapi rasanya karena cinta kita inilah ibumu jadi tertekan, Ia tidak bisa menerimaku, menerima orang yang tidak seagama denganmu”.

Beberapa jenak aku termangu, meraba hendak ke mana ucapan dari Anne ini. Namun sebelum ia melanjutkan katanya, akupun berucap :

“Ketahuilah Anne, ibuku mungkin tidak sepertiku, yang bisa bergaul rapat dengan siapa saja, dari mana saja dan agama apapun yang dianutnya, tapi Ia bukanlah pembenci agama lain”.

“Aku tahu Idho…aku tahu…., mana mungkin seorang anak yang dihatinya hanya ada cinta, dilahirkan oleh ibu yang kekurangan rasa sayang”. Anne cepat menimpali perkataanku. Dan sebelum aku sempat bicara, Anne sudah melanjutkan kembali ucapannya:

“Aku baru kali ini melihat ibumu, dan sayangnya dalam kondisi sakit seperti ini, tapi melihat ibumu dalam tidurnya itu, aku tahu ibumu adalah orang yang memiliki hati yang penuh cinta, dadanya sesak dengan kasih sayang”.  Sejenak Anne terdiam. Namun tak lama Ia kembali bertutur dan akupun dengan senang hati mendengarnya. Entah mengapa berbincang dengannya membuat hatiku yang selama ini kosong, seakan pelan terisi sesuatu yang hangat dan indah.  

“Idho aku mencintaimu, tapi jika hubungan kita hanya menyesakkan rasa sedih pada ibumu, maka hubungan ini tidak harus berlanjut”. Jika tadi Anne bisa bertutur cukup lancar. Kalimat terakhir ini kembali diucapkan dengan susah payah.  Matanya kembali berkabut.

Meski sudah meraba sejak dari tadi arah dari tuturan Anne, namun mendengar Ia mengucapkan kata itu, jiwaku seperti disiram air es, dingin dan berkabut.  Bukannya menjadi sejuk, tetapi terasa seperti ditusuk sembilu yang mencucuk. Hatiku menggigil ketakutan.

“Anne, bukankah engkau sudah tau, membangun komitmen dengan orang beda agama tidak pernah berjalan mulus”. Ucapku setelah berhasil menindih rasa dingin yang menikam di sanubariku.

“Bukan sekadar hambatan orang tua, bukan sekedar factor teologis, hubungan beda agama harus diletakkan dalam  kontestasi yang lebih luas; ekonomi, budaya bahkan politik”. Aku memberi jeda dalam ucapanku, melihat ke arah Anne yang kini nampak masih terpekur.

Lantas  aku melanjutkan ucapanku; 

“Bukankah  sejak semula kita telah siap dengan semua itu”  ?.

Belum ada reaksi, Anne tetap menekuri lantai. Untuk beberapa jenak aku malah ikut terdiam. Pikiranku mengembara pada saat kami sedang mendikusikan nasib beberapa orang hebat semacam Ahmad Wahib, Sutan Syahrir dan lainnya  yang cintanya harus kandas karena beda agama dan juga beda ras[1].

Ahmad Wahib seorang pluralis, di duga pernah jatuh hati pada seorang yang bernam F.Sisca, wanita yang dari namanya saja jelas bukan orang Islam. Wahib memang seorang pluralis sejati. Ia juga tidak bermasalah dari sisi agama,  namun toh….tembok kebudayaan terlalu tinggi menghadang. Jika memaksakan diri tetap melanjutkan hubungan, kebudayaan Sampang-Maduranya akan menyisihkan Ia. Dan Wahib tak sanggup menanggung itu. 

Sutan Syahrir yang menikahi Maria Duchateau secara Islami, sebenarnya tak ada masalah dari sisi teologis agama. Namun ketika berjalan-jalan dengan istrinya itu di kota Medan, pada penghujung 1932, mereka dianggap melanggar keelokan moral.  Bahkan “dituduh” mengusik kepatutan politik. Saat Indonesia sedang berseteru dengan Belanda, tak laik seorang tokoh semacam Syahrir menikahi orang Belanda.  Handai tolan, bahkan khalayak ramai, berat untuk menerimanya. Cinta merekapun akhirnya karam.  Keduanya dipisahkan. Maria Duchateau di bawah pulang oleh kolonial Belanda ke negeri Kincir Anginnya.  Syahrirpun tinggal merana di Indonesia.

Demikian pula cinta Dr Soetomo dengan Everdina Broering nyaris sama mirisnya dengan kisah cinta Sutan Syahrir. Tak semata beda agama, tapi kedudukan Soetomo yang meski seorang Doktor terpelajar namun pribumi, dianggap tak sepadan dengan Everdina yang orang eropa itu. Kali ini khalayak eropa yang mencelampakkan Everdina.  Kisah cinta merekapun kandas dengan kepiluan yang meresap sampai ke sumsum.

“Idho….”. 

Anne tiba-tiba memecah sunyi dengan sapaan pelannya. Begitu pelan sehingga nyaris tidak terdengar. Namun dalam suasana senyap saat ini, suara itu tetap terdengar bagiku. Aku mengangkat mukaku, menatapnya lekat.

“Idho….aku paham tembok tinggi akan menghadang kita….aku telah siap….sangat siap….tapi tidak jika ibumu harus seperti ini”. Ucap Anne dengan nada yang masih pelan.

Pelan aku meraih tangannya. Sambil tetap menggengam tangan Anne aku sentuhkan ke tangan ibuku.

“Anne….!, Wahib boleh gagal…, Syahrir mungkin telah merana, Sutomo patah arang….cinta mereka kandas dan karam, tapi sejarah tak selamanya linear. Yakinlah selalu ada patahan dalam sejarah tentang cinta beda agama”.

“Kau ingin mengatakan bahwa kini saatnya sejarah itu kita patahkan Idho ?”. Kali Ini Anne berucap dengan nada yang lebih tegas.

Aku mengangguk pasti.

Perlahan ia melepas tangannya dari gengamanku, meski Ia tetap menggenggam tangan ibuku.

“Saat ini, yang saya pikirkan hanya bagaimana agar ibu bisa sembuh Idho, karena itu, tak akan kita bahas tentang hubungan kita”. Anne berkata tandas. Tak terasa muka saya memanas.

Aku menatapnya dalam. Aku malu, Anne ternyata mendahulukan kesembuhan ibuku di banding cinta kami, saat saya justru terlalu bernafsu membicarakan hubungan cinta itu. Aku menatapnya dengan dalam. Kembali kuraih tangannya lalu aku mengangguk dengan tegas. Anne membalas tatapanku, sinar matanya yang hilang beberapa saat yang lalu, kini berkerjap kemilau lagi. Lalu dengan nada yang terang dan lebih mantap Ia berkata :

“Izinkan aku menemanimu Idho….untuk merawat ibu sampai sembuh”.   

 Untuk pertama kalinya sejak ibuku sakit mulutku membentuk lengkungan. Aku tersenyum. Entah senyumku itu sempurna atau hanya lengkungan patah, aku tidak tau. Tapi aku kembali mengangguk.

 

(Bersambung....)



[1]Kisah-kisah cinta Ahmad Wahib, Syahrir dan Sutomo yang kandas dapat di baca dalam essay Na’imatur Rafiqoh, “Pergolakan Asmara dalam Sengketa Keberagma(a)n”dalam Me-Wahib, (ed Zen & Siswo). Jakarta:Paramadina, 2015  


Video