Cinta Yang (tak) Bertuhan (3)

Sastra

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Oleh : Ijhal Thamaona

 

Genap setahun lamanya ibuku “tertidur”. Semua dokter sudah menyerah. Kini ibuku pun telah dipindahkan ke rumah. Ia dirawat di kamar ibuku sendiri. Sesekali perawat atau dokter datang membesuk, memberi saran atau mengganti infusnya. Keluarga yang dulu juga silih berganti datang menjenguk, kini tinggal datang satu-satu dan jarang.  Semua nampaknya pasrah, tepatnya menyerah pada nasib. Tapi tidak kawan….masih ada orang-orang yang yakin bahwa ibuku pasti sembuh. Dialah; Ayahku…., aku sendiri, dan Anne.

Aku masih merawat ibuku seperti biasa, pagi atau sore Anne datang menemani. Bergantian kami menjaga ibu. Annepun tak sungkan membersihkan tubuh ibuku. Jika Anne ada, aku biasanya mencuci pakaian kotor ibuku, atau kadang Anne yang mencuci pakaian dan memasak, aku yang menjaga ibu. Annepun terbiasa menggantikanku menyanyikan lagu untuk ibu. Untuk itu dia tidak sungkan mempelajari dan menghapal lagu-lagu shalawatan kepada Nabi Muhammad SAW. Iapun berusaha keras menguasai dan menghapal lagu Ininnawa. Lagu berbahasa bugis yang tentu juga asing bagi Anne yang berasal dari Manado.

Mulanya canggung, sumbang dan terdengar aneh. Tapi Anne tetap menyenandungkan shalawat dan menembangkan Ininnawa. Semakin lama ia melantunkan shalawat dan bersenandung ininnawa, semakin ia kuasai. Nadanya sudah Ia taklukkan. Kini Anne tak hanya bisa, namun jika Ia sedang menyenandungkan shalawat dan menembangkan lagu ininnawa, ayahkupun diam-diam ikut menyimak.  Suaranya mengalun syahdu, membuai rasa. Aku terpesona.  Tentu saja Anne bersuara merdu. Ia terbiasa menyanyi di gereja.

Setiap bersenandung, Anne laiknya aku,  iapun dengan penuh welas asih akan mengelus-ngelus rambut ibuku, menepuk tangannya,  berharap sepenuhnya ibu akan membuka kelopak matanya.  Setiap bersenandung, Ia seakan melepas nada dari relung hati terdalamnya. Jika sudah demikian matanya selalu berselaput embun. Rinai mengembang di kelopaknya. Siapapun di ruang itu pasti akan dikepung haru dan dicekam rasa sedih. 

Dan sore itu wahai para sahabatku……!!!

Kami sedang membersihkan tubuh ibuku. Karena kebetulan saat itu tak ada kegiatan lain, maka aku yang membersihkan tubuh ibuku dan Anne yang menaburinya bedak. Ia menyapukan bedak itu di sekujur tubuh ibuku tanpa rasa sungkan.

Aku kemudian duduk di sisi kanan pembaringan ibuku sambil mengenggam tangan kananya, tanganku yang lain mengelus rambutnya. Sementara Anne di sisi lainnya, melakukan hal yang sama. Aku mulai melantunkan shalawat….Anne mengikuti. Suaranya yang merdu seakan menuntun aku untuk melantunkan shalawat lebih baik.  Suara kami berdua seakan muncul dari dasar sanubari terdalam. Merintih, berharap ibu terbangun dengan shalawatan kami. Shalawat usai,  kami menembangkan lagu Ininnawa. Lepas Ininnawa kami kembali bershalawat. Hatiku dan aku yakin hati Annepun demikian, sama berbisik: “bangunlah ibuku….bangunlah….!”

Seakan lupa, kami terus bersenandung. Anne sejak semula matanya sudah berinai. Aku juga dicekat rasa haru luar biasa. Suasana betul-betul dicengkau nuansa haru-biru nan mistik. Bulu ditubuhku meremang dalam kesedihan. Kami seperti tak tau sedang melantungkan apa, bahkan suara kami nyaris tak kami dengar.

Senandung sendu kami berdua mengalun, menggetarkan ruangan ibu, menerobos keluar, melesap ke sanubari ayahku di beranda. Iapun beranjak ke kamar ibuku. Melihat kami dengan terpaku. 

Kami tidak berhenti, terus bershalawat. Setelahnya lagu Ininnawa. Kembali shalawat. Lalu Ininnawa…. shalawat….Ininnawa…..

Seakan sebuah pertunjukan hebat sedang berlangsung. Suara kami menerabas tembok rumah menyusup di sela pepohonan dan melesak ke seluruh batin manusia yang mendengarnya. Mengaduk perasaan. Menyentuh segenap jiwa.  Beberapa waktu telah berlalu.  Aku tidak tahu sekeras apa suara kami bersenandung, tapi ternyata tetangga berdatangan. Mereka merubung diluar kamar. Tapi tak ada yang bersuara. Mereka juga di dekap rasa sendu. Ibu-ibu bahkan meneteskan air mata. Yang laki-laki duduk termangu. Ayah akhirnya mengambil Qur’an, lalu tanpa suara membacanya.

Tanganku terus menggenggam tangan ibuku. Tapi….ya Allah….benarkah yang aku rasakan, ibu balas mengenggam tanganku. Aku melihat ke arah Anne. Iapun menatapku. Matanya melihat ke arah tangannya yang menggenggam tangan ibuku. Bukan hanya tanganku, tangan Annepun digenggam ibuku.

Dan….keajaibanpun menyeruak di sore yang di bekap haru itu. Tangan ibuku bergerak-gerak.

“Ibu….ibu…..” ucapku lirih  

Ayah meletakkan al-Qur’an. Mendekat kearah kami. Sepintas saya lihat Anne bergeser kesamping memberi tempat pada ayahku. Ayah kemudian menggenggam tangan ibuku. Aku terus berbisik di telinga ibu, memanggil-manggil namanya. Kelopak mata ibuku nampak bergerak-gerak. Aku terpukau. “Ya….Allah aku mohon keajaibanmu….” ucapku lirih dalam hati.  Perlahan dari bergerak-gerak, kelopak mata ibu mulai membuka, ia menatap ke atas tak berkedip. Aku berdiri tegang. Mataku ikut tak berkedip menatap ibuku. Bahkan aku lupa sedang berada di mana dan dengan siapa saat itu. Pelan mata ibuku kembali mengatup, lalu membuka lagi. Ia mulai berkedip. Matanya menatap ke arahku.  Aku masih terpaku.

“Idhoo…”. Satu kata keluar dari mulut ibuku. Aku masih bergeming, tak percaya.

“Idho anakku”…..dua kata ibuku kali ini bagai mengangkatku dari jurang ketaksadaranku.

Segera kudekap erat ibuku. Keharuan tak bisa lagi kupendam. Aku menangis. Aku merasa tangan ibu membelai rambutku. Aku semakin erat mendekapnya. Aku baru tersadar ketika ibuku berbisik:

” ….Mana ayahmu…”

Aku melepas dekapanku. Ayahku yang tadi menggengam tangan ibuku kini dengan penuh haru, mendekapnya erat.

“Idho….!, mana Anne ?”.

“Anne….?, siapa yang mencari Anne?”, batinku.

“Mana Anne,  Idho ? “. Sekali lagi aku dengar pertanyaan itu.

Aku terperangah, ternyata yang barusan mencari Anne adalah ibuku. Dari mana Ia tahu Anne. Aku bingung….tapi segera aku tersadar saat ini bukan saatnya bertanya kenapa ibu mengenal Anne. Yang penting saat ini mempertemukan Anne dengan ibu. Tapi mana Anne ?.

Aku baru tersadar Anne tidak berada di dalam kamar itu. Pasti di luar. Mungkin saat ini dia sedang menyiapkan air putih untuk ibu atau teh hangat atau apalah…..

Aku segera keluar kamar. Beberapa tetangga yang tadinya ada di luar kamar, satu-satu mulai masuk menemui ibu. Aku berjalan cepat kearah dapur. Dari sana memang terdengar ada orang yang sedang menyiapkan sesuatu.  “Pasti Anne”.

Di dapur memang ada perempuan yang tengah menyiapkan teh dan bubur untuk ibuku, tapi bukan Anne. Perempuan itu adalah Asse, sepupuku.

“Anne mana “. Tanyaku ketika sampai di depannya.

“Dia tadi keluar, sebelumnya tadi di sini, tapi cuma mengatakan Ibu mesti disiapkan bubur dan teh”.

Aku terdiam. Anne pergi diam-diam rupanya.  Asse tiba-tiba menyodorkan sesuatu kepadaku.

“Ini kak….ada titipan Anne untuk kakak”. Ujarnya sambil menyerahkan sebuah polpen kepadaku.

Aku menerima polpen itu dengan gemetar. Aku mengerti apa maksud dari Anne. Polpen ini adalah pemberianku dulu padanya. Itulah kenanganku. Kini Ia mengembalikannya. Dengan lunglai aku kembali ke kamar ibuku.

“Anne mana ?” itulah pertanyaan pertama yang diucapkan ibuku begitu aku sampai di kamar.

Aku terdiam. Lalu perlahan aku memperlihatkan polpen pemberianku dulu yang kini dikembalikannya.

“Itu kan polpen kesayanganmu, ada apa dengan polpenmu itu ?”.  Kali ini ayahku yang melontarkan pertanyaan.

“Polpen ini aku berikan dulu kepada Anne sebagai kenangan, tadi ia titipkan di Asse untuk mengembalikannya padaku”. Aku menjelaskannya nyaris tanpa semangat.

“Cari Anne, aku ingin bertemu dengannya !”.  setelah mengucapkan kata-kata itu dengan lirih, ia lalu meraih polpen itu dari tanganku. Aku beranjak keluar dari kamar.

“Aku harus mencari Anne di mana ?”. gumanku.  Dalam bayanganku berkelebat beberapa tempat-tempat yang sering kami kunjungi. Tiba-tiba aku teringat toko buku Wada’ta. Ya….tempat itulah yang paling sering kami kunjungi. Aku akan ke sana dulu semoga Anne ada di tempat itu.

Di toko buku Wada’ta aku bertemu Idrus. Ia malah bersiap-siap keluar.

“Eh…saya mau ke rumahmu” ucapnya.

“Tunggu dulu….Anne ada di dalam ngak ?”

“Ya benar….tadi Ia justru yang memberitahuku bahwa ibu sudah sadar”

“Tunggu  Rus…., nanti kita bareng ke rumah, saya temui Anne dulu”

Anne duduk di salah satu kursi di sudut toko buku Wada’ta. Ia nampak membaca sebuah buku. Dia baru menyadari bahwa aku berada di dekatnya saat aku menegurnya. Ia lalu meletakkan buku yang di bacanya.  Ia tersenyum, namun kelihatan tak sempurna. Bagaimanapun Ia terlihat ingin bergembira, namun tetap saja mendung menggelayuti wajahnya. Mata kejoranya tak berpijar. Dan mata itu aku tahu adalah cermin batinnya.

“Maaf Idho, aku pergi diam-diam “

“Aku mengerti….tapi sudahlah, ayo kita balik ke rumahku”

“Saya sudah bilang Idho, kita tidak boleh memaksakan hubungan kita, ibumu jauh lebih penting”.  Aku mendengar ucapannya sambil tersenyum. Setelah Ia berhenti bicara lantas akupun menimpalinya.

“Aku memanggilmu ke rumah karena ibu yang mencarimu”. Aku berhenti sejenak melihat reaksinya. Ia nampak ternganga keheranan.

“Maksudmu, apa ?” . terlihat Anne masih bingung.

“Ibu ingin bertemu denganmu, sudahlah ayo cepat”. Tangannya segera kuraih dan setengah menyeret dia untuk bangkit dari kursinya.  Dengan tergopoh-gopoh ia meraih tasnya.

***

Ibu menatap kami dengan lembut. Lalu perlahan ia meraih tangan Anne yang ada didekatnya.

“Anne, lantunkan lagi kepadaku shalawat dan lagu Ininnawa”. Ucapnya. Annepun dengan sepenuh rasa mulai melantunkan shalawat dan menembangkan ininnawa. Matanya nampak berkaca-kaca ketika ia mulai menyanyikan dua lagu kesenangan ibu itu. Suaranya mengalun, meresap, membelai sanubari. Ibu menutup kedua matanya. Dari balik kelopaknya beberapa butir air nampak menetes. Aku segera menghapusnya lembut. Anne kemudian menghentikan nyanyiannya.

“Idho dan Anne, suara kalianlah yang selalu saya dengar saat aku tak sadarkan diri”. Ucap ibuku tiba-tiba.

“Dalam tidurku itu, aku melihat kalian berdua selalu datang memanggilku, sambil bershalawat dan menyanyikan lagu Ininnawa itu”. Ibu melanjutkan ceritanya. Kami semua terdiam mendengarkan. Beberapa orang yang ada di situ juga menyimak dengan seksama.

“Suatu ketika, saya melihat kalian berdua datang dituntun oleh dua makhluk yang tidak kelihatan wujudnya. Mereka hanya seperti pendar cahaya. Makhluk yang menuntun Idho bersuara terlebih dulu, Ia berbicara padaku mengatakan bahwa engkau adalah umatnya. Sementara yang satunya juga melanjutkan mengatakan bahwa Anne adalah umatnya”.

Ibu berhenti beberapa jenak. Nafasnya agak tersengal setelah bercerita. Anne meraih gelas yang berisi air putih, lalu dengan hati-hati menyedokkan air tersebut ke mulut ibuku.

“Ibu lebih baik istirahat dulu”. Ucap Anne. Aku juga mengangguk. Ayah yang berada di samping kepala ibu hanya diam saja, tapi sejak dari tadi ia terus berzikir dan sesekali meminta ibu berzikir pula dalam hatinya.

“Tidak….!, aku harus lanjutkan cerita saya tentang apa yang saya saksikan saat tertidur koma hampir setahun”. Sahut ibuku. Ia kemudian menarik nafasnya. Lalu kembali bercerita.

“Dua makhluk berupa cahaya itu masih terus berbicara kepadaku, namun yang menuntun Idholah yang paling sering, sementara yang satu lagi lebih banyak diam”.

Kata  makhluk yang menuntun Idho:  “Ketahuilah di dunia ini, banyak manusia yang mengatas namakan Tuhan, mengatas namakan agama tertentu untuk membenci manusia yang lain. Bahkan atas nama Tuhan yang mereka sebut-sebut itu, mereka tega membunuh. Padahal Tuhan yang mereka maksud itu adalah Tuhan rekaan mereka sendiri. Merekalah yang menciptakan Tuhannya sendiri, membentuknya menjadi agama menurut mereka”.

Ibu terus bercerita. Ia melanjutkan perkataan makhluk cahaya yang dilihatnya selama berada dalam kondisi koma. 

“Wahai Nur’aeni, Saat ini kaupun tidak menerima Anne, kau bersikap demikian karena mungkin kau anggap Tuhanmu tidak menerima Anne. Ketahuilah Anne ini adalah ciptaan Tuhan. Mana mungkin Tuhan tidak menerimanya. Tuhan yang kau anggap tidak bisa menerima Anne itu adalah rekaanmu, ciptaan orang-orang disekitarmu, bentukan kebudayaanmu, orientasi kekuasaanmu bahkan kepentingan politikmu. Itulah yang selama ini dipertuhankan oleh kalian. Tuhan semacam itu lah yang kalian bela. Kalian bela-bela, karena kalianlah yang ciptakan untuk memenuhi hasrat untuk berkuasa”

“Cinta mereka berdua ini tidak beragama, tak mengenal Tuhan , dan bahkan tak mau bertuhan.  Karena Tuhan- Tuhan yang kalian selama ini agung-agungkan, hasil dari ciptaan kalian sendiri adalah Tuhan yang pembenci, tak punya kasih atau bahkan pilih kasih”.  Ibu terus melanjutkan ucapan misterius makhluk bercahaya itu.

“Saat itu aku tak bisa berkata-kata,suaraku tercekat ditenggorokan. Ibu melanjutkan ceritanya.  “Tapi ketika kedua makhluk bercahaya itu melepaskan pegangannya pada kalian berdua, lalu beranjak pergi, saya baru bisa bersuara”. Saya lalu bertanya :

“ Siapa kalian berdua?”.      

Tidak ada suara, mereka terus melangkah menjauh. Samar-samar di dalam gemerlap dua cahaya itu aku melihat huruf. Huruf-huruf itu merangkai kata, dari kata lalu muncullah tulisan. Makhluk cahaya yang menuntun Idho dan yang paling sering berbicara bertuliskan Rasulullah Muhammad SAW.  Sementara yang menuntun Anne, dalam gemerlap cahayanya bertuliskan Rasulullah Isa As.  Kedua cahaya itu terus menjauh dan kemudian lesap dalam hening.

Ruangan  yang sejak tadi sudah sunyi, kini semakin senyap. Semua nampak takjub mendengar cerita ibu.

Lengang yang memeluk suasana, pecah seketika. Ibu nampak tersengal-sengal kepayahan. Orang-orang yang ada ditempat itu mulai ribut. Ada yang menyuruh mencari dokter. Ada yang buru-buru mengurut dada ibu.    

“Sudahlah, tak perlu cari dokter, waktu saya memang segera akan tiba”. Sahut ibu tiba-tiba.

Mendengar itu aku tersentak kaget. Buru-buru kudekap ibu. Aku tak ingin mendengar kata itu.

“Idho anakku….engkau kini akan bersama Anne, dialah yang akan menemani hidupmu, ia perempuan yang baik untukmu.” Ucap ibu dengan tersengal.  Nampaknya Ia makin payah.  Aku terus memeluknya. Ketakutan tiba-tiba mencengkeram perasaanku.  Firasatku tidak enak.

“Anne….”. ibu menggapai tangan Anne. Anne mendekat, Ia mengenggam erat tangan ibuku. Dari menggenggam lantas dengan sepenuh hatinya Ia mencium tangan bundaku itu. Lirih suaranya berucap:

“Maafkan aku ibu, maafkan…..”

“Bukan kamu yang harus minta maaf, tapi aku anakku. Aku telah membenci cintamu pada Idho, hanya karena kau beragama lain, padahal cinta memang tidak beragama”.

Anne mengeleng. Air matanya kini meluncur deras membasahi pipinya.

“Tidak ibuku….tidak…., bunda tak pantas minta maaf dan tidak pernah bersalah, ibu adalah orang yang penuh cinta”. Anne mengucapkan kata-katanya sambil terisak.

“Anne, polpen kenangan dari Idho ambillah kembali”.  Tangan ibuku mencari polpen tersebut. Aku mengambilnya dari meja lalu menyerahkan kepadanya. Ibuku kemudian menyerahkan polpen tersebut kepada Anne.  Anne menerimanya,  lalu didekapkan ke dadanya. Samar-samar ibu terlihat tersenyum.

“Idho, Anne….! dengarkanlah….!, cinta kalian memang tidak bertuhan, tidak beragama, karena memang cinta tidak mengenal tuhan, khususnya tuhan yang diciptakan oleh manusia dengan mengatas namakan agama”. Ibu kembali tersengal. Namun dengan susah payah Ia melanjutkan kata-katanya:

“Ketahuilah wahai kalian anakku berdua, karena cintalah Tuhan menciptakan makhluknya, dan karena cintalah Tuhan menurunkan nabinya.” Kali ini suara ibu semakin perlahan. Sesekali, di sela-sela kata-katanya: “Ia berucap La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah”. Ayah kini berada di sisi kepala ibuku sambil terus menerus membisikkan lafadz Allah di telinganya. Ibu menoleh ke arah ayahku. Pandangannya sayu. Beberapa titik air mengalir keluar dari matanya. Ayah menghapusnya lembut. Tak ada suara keduanya. Ayah hanya mengangguk dan memegang erat tangan ibuku.

“Semua agama mengajarkan cinta, tapi cinta tidak beragama, bakan tidak bertuhan….”. suara ibu kembali terdengar meski lirih dan tidak jelas ia sedang berbicara dengan siapa.

“Cinta tidak bertuhan….cinta tidak bertuhan…..sebab cinta adalah Tuhan….Tuhan adalah cinta….”. kembali ibu berucap lirih. Pandangan matanya meredup. Mulut ibu komat-kamit. Aku mendekatkan telingaku ke mulut ibu. Ayah berzikir ditelinganya.

Aku mendengar suara ibu yang tinggal berupa bisikan.

La bayka allahuma labbayka (saya penuhi panggilanmu Ya Allah)….Labayka Ya rahim….ya rahman….(saya penuhi panggilanmu wahai Sang Pengasih & Sang Pencinta).    

 “Engkaulah Cinta….Engkaulah Cinta…..La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah….”

Itulah suara terakhir yang bisa aku dengarkan dari bibir ibuku. Lalu senyap. Semua diam. Sunyi menggantung.  Ayah terpekur….Air matanya nampak mengambang dari matanya. Anne memeluk ibu. Aku menatap tak percaya. Beberapa tetangga datang mendekat. Sebagian memegang nadi di tangannya, yang lain menempelkan telinga di dadanya.

“Ibumu telah pergi anakku”….satu suara terdengar. Aku menatapnya. Ia adalah tanteku.

“Ibumu telah menghadap pada Tuhannya….menyatu di keharibaan-Nya. Tanteku melanjutkan ucapannya.

Aku terhenyak. Anne memeluk ibu dengan tangis pilu. Sepupuku, keluaraku semua menagis sedih. Ayah menitikkan air matanya.  Tapi aku masih duduk terhenyak.  Tak ada suara tangis. Tapi sungguh….hatiku bagai diremas…kakiku rasanya tidak menapak. Ketika Anne menatapku sedih, barulah semua pecah. Meski tanpa suara aku menangis… sahabatku..!. Mungkin aku terlihat ringkih….tapi biarkanlah….Kita memang hanyalah makhluk yang ringkih….yang baru sadar kerapuhan kita ketika berhadapan dengan peristiwa yang maha hebat nan ajaib.  Selebihnya acap kali kita berubah menjadi pongah….seakan lebih berkuasa dari Tuhan yang menciptakan kita.

Sore itu keajaiban terjadi berkali kali. Ibuku tersadar, keajaiban luar biasa. Lalu keajaiban lagi ketika ibuku mengenal Anne bahkan mencarinya. Lantas cerita ibuku yang juga menakjubkan adalah keajaiban selanjutnya.  Puncaknya ibu kembali ke sang Pencipta, Sang Pencinta, Tuhan Penguasa Alam.  Itulah puncak keajaiban di sore yang sejuk itu.

Proses penguburan jenazah ibuku telah selesai.  Sore telah bergerak menuju senja. Matahari mulai turun di balik gunung.  Sinar merah memenuhi cakrawala.  Aku terpekur di depan makam ibuku. Anne disampingku juga diam terpekur.  Di sini tinggal kami berdua.  Perlahan kami bangkit.  Saling menatap . Lama dan sendu.  Tak ada kata.  Hanya mata kami seakan telah  berjanji pada ibu….kami akan menyatu dalam cinta.  Kami akan menjadi pencinta…..karena ibu adalah pencinta….agama itu cinta….dan Tuhan adalah sebenar-benarnya cinta.

 

Selamat jalan  ibuku tersayang almarhumah Hajjah Sitti Nur’aeni;

Ilaa Hadrathi al-Mustafa Rasulillahi Muhammad SAW Al-Fatikhah

Wa Ilaa Hadrathi Hj. Sitti Nur’aeni, Al-Fatikhah.

 

Wassalam.

 

 

*Baca cerita sebelumnya Cinta Yang (tak) Bertuhan Bagian pertama Klik Disini

 

*Baca cerita sebelumnya Cinta Yang (tak) Bertuhan Bagian kedua Klik Disini