Curhat Sepasang Saksi Hidup Tenggelamnya Kapal Tampomas II

Sulbar

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


foto.dok.ss/J.M Tiger

Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Pernah nonton kisah cinta Jack dan Rose dalam film Titanic (1999) karya James Cameron. Kisah cinta yang sangat memiluhkan yang diperankan oleh aktor ternama Leonardo Dicaprio (Jack) dan Kate Winslet (Rose). Kisah cinta dua sejoli yang abadi dalam kenangan tenggelamnya kapal Titanic (1912).

Tak hanya tenggelamnya kapal titanic yang melegenda. Sebuah kapal penumpang milik Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) KMP Tampomas II yang tenggelam di sekitar Kepulauan Masalembo (1981) tak bisa hilang dari sebagian ingatan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi.

Tenggelamnya KMP Tampomas II merupakan musibah pelayaran terbesar Indonesia. Bahkan penyanyi Iwan Fals mengabadikan peristiwa itu dalam sebuah lagu "Celoteh Camar Tolol Dan Cemar" (1983).

Salah satu sumber tercatat memperkirakan 431 orang tewas (143 mayat ditemukan dan 288 orang hilang bersama kapal) sementara 753 orang berhasil diselamatkan. Namun, sumber lain mangatakan jumlah orang tewas lebih dari itu.

H.Abdul Rahman (81) dan Hj. Sukriah (70), suami istri yang menjadi saksi hidup tenggelamnya KMP Tampomas II. Tak bisa lepas dari ingatan mereka bagaimana ribuan mayat terapung di lautan lepas dan kobaran api di kapal KPM Tampomas II.  Tanggal musibah yang mengerikan dari perjalanan hidupnya itu tercatat baik dalam ingatannya "17 Januari 1981," kata H. abdul Rahman.

Ia dan istrinya handak pulang dari membeli barang dagangan di Ibukota Jakarta. Namun, naas kapal yang ia tumpangi terbakar dan tenggelam saat dalam perjalanan menuju Pulau Sulawesi.

"Saya ingat betul kejadian itu pada Minggu malam sekitar pukul 10.00 WIB," tuturnya.

Orang-orang sudah mulai panik, kecemasan di wajah penumpang sudah mulai terlihat. Kajadian itu seperti sarang semut yang mandapat serangan, semua kocar-kacir, teriakan, tangis dan ucapan Asma Allah SWT menyatu di malam itu di tengah lautan yang gelap.

Banyak mayat yang terapung di laut, ada yang mati terbakar, ada yang mati tenggelam, ada yang mati kedinginan, ada yang mati kelaparan. kecemasan mendalam saya saat itu bagaimana nasib saya dan istri saya.

"Alhamdulillah, setelah mengapung selama 7 jam dilautan dengan gempuran ombak. Saya dan istri saya ditemukan kapal penyelamat," katanya.

Makanya setiap tanggal 17 Januari saya selalu buat acara syukuran di rumah bersama keluarga. "Saya jadikan 17 Januari sebagai hari ulang tahun saya bersama istri," katanya.

Pasangan ini pun berharap ke depannya kejadian KMP Tampomas II tidak terulang lagi dalam pelayaran di Indonesia.

(J.M. Tiger/ Bal)