Dampak Emosi Generasi Millenial, Bunuh Diri Jadi Pilihan

Liputan Khusus

Editor Badauni AP


Seputarsulawesi.com - Seorang remaja mengakhiri hidupnya dengan tali gantungan. Persoalan asmara jadi pemicu untuk sebuah pilihan. Muhammad Hidayatullah 18 tahun, melakukan aksinya dengan sendiri, saat rumahnya sedang sepi, Rabu, 27 Juli 2017 pekan lalu.

Sehari usai kejadian Hidayatullah,  Risma Zukiman 18 tahun, seorang warga Dusun Jambua, Desa Limapoccoe, Kecamatan Cenrana, meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Salewangang, Kabupaten Maros, usai meminum racun rumput, Jumat, 28 Juli 2017, pekan lalu, Risma nekat minum racun, juga akibat persoalan asmara.

Kejadian dan kisah tersebut hanya sebagian dari sekian kisah lainnya. Bunuh diri, tak pernah mengenal kapan dan di mana, siapa yang akan melakukan.

Bunuh diri dianggap jalan untuk melenyapkan beban. Tanpa sisa, tanpa rasa. Tak tanggung-tanggung, World Health Organizatio (WHO) mencatat 800.000 orang, meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya.

Di Indonesia saja, pada tahun 2012, angka kematian akibat bunuh diri adalah 10.000. Sedang di tahun 2016, kasus bunuh diri di Indonesia mencapai angka 3,7 per 100.000 penduduk. Sungguh mencengangkan.

Bunuh diri juga tak kenal usia. Banyak diantara mereka mati muda di tangan sendiri. Menurut Center of Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat menyebut setiap tahunnya 10.000 orang Amerika Serikat meninggal akibat bunuh diri.

Bunuh diri adalah penyebab kematian terbesar ketiga bagi anak-anak muda yang berusia antara 10 hingga 24 tahun di sana. Kurang lebih ada sekitar 4.600 anak muda yang meninggal akibat bunuh diri setiap tahunnya.

“Dalam perspektif psikologi, bunuh diri itu tercetus dengan adanya ketidakmampuan menemukan pemecahan masalah dan tekanan hidup," kata Dosen Fakultas Psikologi Universitas Bosowa, Sulasmi Sudirman.

Kasus bunuh diri yang melibatkan seorang yang berusia muda, seperti kasus di Maros, cenderung unik. “Kasus di Maros itu agak unik. Pertama karena dia masih muda dan berasal dari keluarga mampu. Jadi tekanan finansial bukan masalah yang dihadapi, kata Sulasmi kepada seputarsulawesi, Minggu, 30 Juli 2017.

Kurangnya pengalaman dalam mengelola emosi, jadi salah satu faktor jika mengaitkan kasus bunuh diri dengan perspektif psikologi pada generasi millenial.

“Kecenderungan generasi millenial jika tidak mendapat pengalaman untuk mengelola emosi maka akibat paling fatal adalah bunuh diri. Kenapa begitu, karena dia menghadapi permasalahan dengan pacarnya. Poin utamanya, dia tidak mampu mengelola emosi dengan baik, seperti kecewa dan rasa sakit hati.”

Ketidakmampuan mengelola emosi akibat kurangnya pengalaman, menurut Sulasmi Sudirman berdampak pada kurangnya pilihan dalam menyelesaikan masalah.

“Saat dihadapkan dalam permasalahan yang pelik, maka tidak banyak pilihan untuk menyelesaikan masalah. Akhirnya, untuk mengakhiri kekecewaan, jalan yang ekstrim yah bunuh diri, katanya.

 

Media Sosial, Kesepian Generasi Millenial, Mencari Jalan Keluar

Generasi millenial memang banyak bersentuhan dengan dunia virtual. Hampir setiap saat mereka menatap layar smartphone. Laporan Ericsson menyatakan bahwa, pada tahun 2011, millenial bisa menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile hingga tiga jam sehari. Angka tersebut meningkat empat tahun kemudian menjadi 20 persen.

Akibatnya, pola dan gaya hidup generasi millenial cenderung berbeda dengan generasi sebelumnya.

Salah satu kecenderungan yang nampak menurut Sulasmi Sudirman adalah semuanya harus serba cepat. Dalam kasus bunuh diri misalnya, akumulasi permasalahan yang dihadapi cenderung mencari jalar keluar yang cepat. Bukan malah mencari jalan keluar yang lebih baik.

Pengalaman mengelola emosi yang kurang didapatkan dalam lingkungan nyata, membuat generasi millenial banyak mencurahkan permasalahan dan isi hatinya lewat media sosial. Meski demikian, media sosial bisa menjadi tempat yang buruk untuk mengungkapkan beragam permasalahan.

“Media sosial hanya sebagai sarana komunikasi dengan orang-orang yang layak di dunia maya. Generasi millenial yang mendapat asupan informasi dari media sosial, yang diterima dan mengarah pada emotional cut off  atau tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengutarakan isi hatinya secara aman dan nyaman, maka mereka tidak mampu mengenali permasalahan yang dihadapi dan tidak memiliki referensi solusi dari masalahnya,”ungkapnya.

Menurut Sulasmi, peran orang terdekat menjadi sangat penting. Untuk mendapatkan pengalaman mengelola emosi, sarana yang paling utama adalah orang tua, juga orang-orang terdekat.

 “Pola asuh orang tua sangat penting. Selain itu orang-orang terdekat, apakah memberikan banyak umpan balik saat yang bersangkutan curhat.”

Media sosial juga bisa berdampak baik apabila informasi yang ada di dalamnya memberikan contoh-contoh penyelesaian permasalahan. “Jadilah orang yang supportif baik di dunia maya dan dunia nyata, mampu meberikan pencerahan bagi orang-orang yang memiliki pemikiran untuk bunuh diri”. kata Sulasmi.

Ia juga berpesan agar generasi millenial pandai-pandai dalam memilah informasi yang ada di media sosial. “Bagi generasi millenial, pandai-pandai untuk membaca dan menyerap informasi di media sosial.”ujar Sulasmi.

 

 

Penulis: Andi Ilham Badawi.