Filosofi Kutho Jowo Alit

Opini

Editor Suaib Amin Prawono


Oleh: Abdul Hakim Madda

(Pemerhati Budaya)

Wonomulyo adalah sebuah kecamatan yang secara perekonomian sangat berkembang di Kabupaten Polman bahkan di Sulbar. Menurut sejarahnya, Wonomulyo dibangun oleh para transmigran asal Jawa yang tergabung dalam proyek kolonisatie Mapilli pada tahun 1937.

Mereka membersihkan rawa-rawa dan hutan di kawasan yang sekarang ini dikenal dengan Sidodadi. Selanjutnya diteruskan pada tahun 1939 dan 1941, di daerah Bumiayu dan Sumberjo. Kedatangan mereka dipimpin oleh seorang asisten Wedana (camat) bernama Raden Soeparman.

Ia dibantu Raden Soebakir (menangani pertanian) dan Raden Soekiran (kesehatan). Selama sepuluh tahun mereka bekerja keras mengolah tanah, hasilnya menggembirakan. Setelah kekalahan Jepang, dan kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Wonomulyo berkembang pesat hingga menjadi kawasan niaga yang sangat diminati para saudagar.

Karena besarnya pengaruh masyarakat Jawa. Maka Wonomulyo ditata menjadi Kutho Jawa Alit (Kota Jawa Kecil). Penamaan perkampungan di Wonomulyo ditujukan ke daerah asal mereka. Jadi jangan heran jika anda menemukan kampung yang namanya sama dengan di Pulau Jawa. Jombang, Tulung Agung, Yogya, Magelang, Sumberjo, Sidorejo, Sidodadi, Kebundalam, Kebunsari, Arjosari, Kediri, Cirebon, Kuningan, Sugihwaras, dsb.

Uniknya, pusat Kota Wonomulyo juga mengadopsi tata kota Islam di Jawa. Yakni alun-alun sebagai pusat kota yang di kelilingi pendopo, pasar dan Masjid. Tata kota semacam ini bukan sekedar tata ruang bernilai estetika, tapi juga filosofis.

Tata kota seperti ini lazim kita temukan di Jawa seperti Yogyakarta, Solo, Jombang, Tuban, Ponorogo, Purwerejo, dsb. Artinya, kiblat tata kota Wonomulyo mengarah ke kota-kota besar bersejarah di Pulau Jawa. Bahkan ada pengamat yang menyatakan ini satu-satunya kota di luar Pulau Jawa yang ditata seperti itu.

Apa filosofi tata kota demikian? Di dalam sejumlah literatur hal ini disebut Sedulur Papat Limo Pancer. Yakni, alun-alun sebagai pusat kota atau titik nol dikelilingi empat bangunan. Alun-alun di tengah, Masjid di sebelah barat, Pendopo di sisi utara, dan pasar di bagian selatan. Adapun sisi timur dibiarkan kosong dan tak punya bangunan apa-apa. Ini semua ada maknanya.

Menurut keyakinan Orang Jawa, ini mengibaratkan perjalanan hidup manusia yang dilambangkan berasal dari kekosongan dan kembali kepada Allah dengan berisi keyakinan. Manusia itu ibarat perjalanan matahari sejak terbit, tergelincir, hingga terbenam. Manusia lahir seperti matahari yang terbit, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, tua, lalu mati yang dilambangkan matahari tenggelam.

Dalam perjalanan hidup, tujuannya adalah Allah yang dilambangkan bangunan masjid yang berada di sisi barat alun-alun. Perjalanan menuju Allah selalu ada godaan kekuasaan yang lambangkan bangunan pendopo (politik) dan godaan kekayaan yang dilambangkan pasar (ekonomi).

Bagi Orang Jawa, seorang muda disebut tasih timur (masih seperti matahari baru terbit, masih pagi dan segar). Dan bagi Orang Mandar juga ada istilah muaq asarmi allo, yakni waktu asar adalah waktu peringatan bahwa sebentar lagi matahari tenggelam. Segera kembali ke Allah untuk memperbaiki diri sebelum mati.