Hasrat Kekuasaan

29 Mei 2017, 21:59:06 WIB || Editor:sesi.comOpini

Hasrat Kekuasaan 

Oleh: Fathullah Syahrul

(Alumni KPG II GUSDURian Makassar) 

Bulan suci Ramadan adalah bulan yang dinanti kehadirannya oleh segenap umat muslim di seluruh penjuru dunia. Bulan yang di dalamnya menyimpan keberkahan dan selama Ramadan, umat Islam diwajibkan berpuasa.

Terlepas dari itu, momentum bulan suci Ramadan juga seiring sejalan dengan momentum perhelatan pesta demokrasi di Sulawesi Selatan yang akan bergulir tahun 2018 mendatang. Perhelatan demokrasi ini (Pilgub) akan diikuti oleh beberapa calon Gubernur yang didaulat sebagai putra terbaik Sulawesi Selatan.

Dari beberapa calon Gubernur yang akan bertarung pada pilgub tahun 2018 ini rata-rata akan diikuti oleh orang-orang yang pernah menjabat bupati di beberapa wilayah di Sulawesi Selatan. Sebut saja, Rusdi Masse Bupati Kabupaten Sidrap (Dua Periode), Nurdin Abdullah Bupati Kabupaten Bantaeng (Dua Periode), Ichsan Yasin Limpo Bupati Kabupaten Gowa (Dua Periode) dan Agus Arifin Nu’mang Wakil Gubernur (Dua Periode).

Kalau kita melihat secara sepintas nama-nama diatas, mungkin terlintas dalam benak kita, bahwasanya hal itu biasa-biasa saja, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Tetapi ada beberapa hal yang menjadi catatan;

Pertama,tidak ada yang abadi dalam dunia politik yang abadi hanyalah kepentingan (Interest), kepentinganlah yang membuat mereka akhirnya bertekad tetap maju dalam perhelatan Pilgub 2018 mendatang.

Hasrat “kuasa” mengental seolah membulatkan niat mereka menyambung kekuasaan dari daerah menuju provinsi. Dengan tawaran visi dan misi dengan maksud membangun. Pada hal sejatinya, pembangunan di masing-masing daerah yang mereka pimpin pun boleh jadi belum maksimal. Hal itu ditandai semakin masifnya ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di masing-masing daerah mulai dari Ekonomi, Sosial, Politik, Ekonomi dan Budaya.

Kedua, dalih pembangunan yang termaktub dalam visi dan misi mereka akan dijadikan alas an rakayat untuk memilih di bilik suara nanti. Dalih pembangunan yang katanya akan dimaksimalkan padahal membingungkan.

Kalau kita melihat secara kasat mata dalih pembangunanan yang semuanya tertuang dalam visi dan misi mereka memang sudah maksimal, tetapi apakah visi pembangunan itu nantinya tidak akan menganggu sumber penghidupan rakyat, misalnya menggusur tanah mereka, menghilangkan jejak-jejak kebudayaan dari leluhur mereka dengan alas an modernisasi?

Ketiga, hasrat kuasa yang mereka miliki karena di back up oleh kekerabatan, jabatan dan uang tidak akan pernah ada putusnya. Hal inilah yang mungkin dikatakan oleh George Orwell dalam novelnya yang berjudul Animal Farm.

Lewat karyanya itu, Orwell mengingatkan kita semua akan ekpresi-ekspresi politik kebinatangan dan bahaya totalitarianisme. Ekpresi-ekspresi kebinatangan muncul dalam sarung politik kekerabatan, jabatan dan uang yang semuanya itu dibalut oleh hasrat kekuasaan.

Ketika hasrat kuasa yang begitu mengental dan menjadi sebuah episode yang tak akan ada akhirnya. Puncaknya, akan menutup ruang-ruang orang lain yang sama sekali tidak memiliki ekspresi-ekspresi politik.

Demokrasi yang selama ini kita agung-agungkan jangan sampai tercederai hanya karena hasrat kuasa yang celciusnya begitu tinggi dan efeknya dirasakan oleh masyarakat. Karena yang lebih penting dari itu semua adalah menghapus ketimpangan-ketimpangan yang terjadi serta mengutamakan kesejahteraan masyarakat.

Akhirnya, momentum bulan suci Ramadan semoga bisa dijadikan sebagai momentum renungan bagi seluruh masyarakat Sulawesi Selatan dan para kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur untuk bisa mensucikan diri sebelum memasuki pesta demokrasi tahun 2018 mendatang.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook