Hikayat Pampang yang Terpampang

Liputan Khusus

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Seputarsulawesi.com, Makassar - Pampang, salah satu kelurahan yang terletak di Jalan Urip Sumaharjo Kilometer 05, Kecamatan Panakukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pampang berdampingan langsung dengan Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan berhadapan dengan Universitas 45 sekarang Universitas Bosowa (UNIBOS).

Kelurahan Pampang dahulu dikelilingi empang dan pohon nipa, mulai dari depan Kampus Universitas 45 (sekarang Univeristas Bosowa) sampai di Universitas Muslim Indonesia (UMI). Tetapi kini, empang dan  pohon nipa sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanyalah hamparan rumah-rumah warga sejauh mata memandang.

Jalan masuk di  Kelurahan Pampang terbagi menjadi dua, yaitu; Jalan Pampang Raya dan Jalan Inspeksi Kanal Pampang (jalan ini baru di aspal pada tahun 2004). Menurut beberapa informasi, dahulu daerah ini hanya terdapat satu jalan saja, terletak di depan asrama tentara (sekarang jalan ini dikenal dengan nama, Jalan Pampang Raya). Saat pagi dan petang hari jalan ini selalu ramai dilewati  warga.

Menurut Talib (03/05/2016) salah satu warga yang ditemui saat itu, nama "Pampang" diambil dari nama “Pappa” (sejenis sayuran-Makassar), karena Pampang dulunya dialiri oleh sungai, di atasnya banyak ditumbuhi sayur Pappa sehingga orang mulai menyebut daerah ini dengan nama Pampang (dengan akhiran ‘’ng’’).

Kelurahan Pampang adalah salah satu dari 11 kelurahan yang berada di Kecamatan Panakukang, Kota Makassar, dengan luas 2,71 Km². Berbatasan langsung dengan Kelurahan Rappokalling di sebelah utara, Kelurahan Sinrijala di sebelah timur, Kelurahan Panaikang di sebelah selatan dan Kelurahan Karuwisi di sebelah barat. Kelurahan Pampang membawahi 8 RW dan 41 RT (kelurahan-pampang.com).

Tahun 2014 penduduk di Kelurahan ini mencapai 16.336 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebnyak 7.929 jiwa dan jumlah perempuan sebanyak 8.407 jiwa. Dapat diklasifikasikan pada kategori dengan membagi kelompok usia 0-10 tahun 3.700 jiwa, usia 11-20 tahun 4.500 jiwa, usia 21-30 tahun 2.005 jiwa, usia 31-40 tahun 1.660 jiwa, usia 41-50 tahun 3.200 jiwa, usia 51-60 tahun 1.108 jiwa dan usia di atas 60 tahun 162 jiwa.

Fasilitas umum yang tersedia di Kelurahan Pampang adalah Kantor lurah, tiga Taman Kanak-kanak (TK), lima Sekolah Dasar (SD) baik negeri maupun swasta, satu Sekolah Menengah Pertama (SMP), satu Sekolah Lanjutan Tingkat atas (SLTA), satu Akademi Keperawatan (AKPER), satu Akademi Kebidanan (AKBID), tujuh Masjid, satu Musollah, tiga Gereja, satu alfa midi dan satu rumah susun.

Alat transportasi yang digunakan warga Kelurahan Pampang untuk beraktivitas umumnya menggunakan prasarana darat dan sungai yaitu: mobil, motor, sampan dan speed board.  

Usaha yang digeluti masyarakat  Kelurahan Pampang misalnya; perdagangan tegel, batu merah, kayu dan cipping (kerikil). Ada juga usaha pertukangan dan bengkel. Usaha pertukangan melingkupi tukang kayu, tukang jahit, dan tukang cukur rambut. Sedangkan usaha bengkel melingkupi  bengkel las, bengkel motor dan service elektronik. (M. Sayful,  Kekerasan Koliktif di Perkotaan (Konstruksi dan Representasi Maskulin Dalam Budaya Masyarakat di Kota Makassar, [2015: 44-45]).

Megenai infastruktur di Kelurahan Pampang terdapat dua jembatan, satu di antaranya jembatan beton yang menjadi penghubung antar warga Pampang Dua dan Pampang Empat (Jembatan ini direnovasi kembali pada tahun 2014), satunya masih berupa jembatan kayu.

Untuk prasarana kesehatan, terdapat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan pos pelayanan terpadu (posyandu).

Dalam tesis M. Sayful (Kekerasan Koliktif di Perkotaan (Konstruksi dan Representasi Maskulin Dalam Budaya Masyarakat di Kota Makassar), umumnya masyarakat Pampang sangat kental akan ragam budaya Bugis Makassar sebagai bagian suku mayoritas yang mendiami sebagian besar di Kelurahan Pampang. Adapun suku bangsa lainnya yang mendiami wilayah Pampang seperti suku Jawa, Toraja dan lain-lain.

‘’Saya tinggal dulu di Lompobattang, Kecamatan Unjung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tahun 1976 orang tua saya membeli tanah di Pampang, belum ada listrik, orang masih pakai lampu strongki (lampu minyak yang tabungnya dari kaleng cat).
 
Pertama saya tinggal di sini, rata-rata mata pencaharian masyarakat saat itu  sebagai petani empang, selain itu mereka mengelolah daun pohon nipa untuk dijadikan atap, sedangkan buahnya diolah menjadi ballo nipa (minuman tradisional Makassar, bentuk Tuak yang di kenal dengan nama ‘’ballo.’’) untuk di jual. Tapi sekarang banyak yang bekerja sebagai tukang batu, tukang becak dan bentor.
 
"Di sini juga banyak orang Bugis-Makassar dan Toraja, banyak mi juga orang Tator di sini. Sekarang mi sudah banyak pendatang karena banyak orang yang jual tanahnya.’’ (Ani, 03 April 2016).
 
Pada tahun 1983, Pampang Satu di kenal dengan nama Kampung Sau dalam bahasa Bugis atau Makassar, “Sau”, artinya kulit kelapa atau sabut kelapa karena sebagian masyarakat Pampang  saat itu berprofesi sebagai pengrajin sabut kelapa. Sabut kelapa biasanya dibeli dari pasar Karuwisi, Kelurahan Panakkukang. Tidak terdapat informasi yang cukup detail  jumlah masyarakat  yang berprofesi sebagai pengrajin sabut kelapa. Pada tahun 1985 penjualan sabut kelapa kurang laku di pasaran sehingga  masyarakat Pampang mulai beralih profesi membuat gabus dan karung semen untuk dijadikan kantongan.

 ‘’Saya tingal di Pampang satu tahun 1981  baru tiga rumah, saya, daeng Tampo atau biasa dipangil Daeng Tallasa dan Daeng Hasang, mereka tinggal di sebelah sana, tempat rumah mereka sekarang. Di sini banyak pohon nipa dan empang mulai  dari kampus Universitas 45, UMI, hingga sampai di sekitar Asrama Tentara. Selain itu kebanyakan orang di sini itu penghuni baru, mereka tinggal di sini sudah bagus.
 
Pak RT yang pertama namanya Pak Syawal (Alm) saat menjabat sebagai RT ia membagun Puskesmas, membuat jalan ini (lorong) dengan beton tetapi tidak sebagus dengan yang sekarang. Uang yang ia dapat untuk membagun Jalan dan Puskesmas diperoleh dari pemerintah Daerah. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang ingin menamakan lorong ini dengan nama Syawal tapi ia sendiri tidak mau, katanya pada masyarakat, lebih baik tempat ini di namakan Kampung Sau saja. Masyarakat pun menyetujui dan akhirnya di pakailah nama Kampung Sau.’’  (Syahria, 03 Agustus 2016).

Kampus II UMI petama pondasinya didirikan pada tahun 1985, dan kalau subuh para pekerja biasanya mendirikan tiang  mengunakan mobil eskafator karena tanah UMI lumpur dan banyak empang.

Masyarakat Pampang biasa mengambil air minum di Kampus UMI atau di Asrama Tentara, yang terletak di Jalan Pampang Raya dengan mengunakan  jerigen. Banyak sekali antrean karena saat itu PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) belum masuk di Pampang. Kalau yang larang untuk mengambil air, biasanya warga mengetori sumur dengan bangkai hewan dan lain-lain. Air sumur yang ada di Pampang rasanya asin, warnanya kemerah-merahan. Masyarakat yang mengkomsumsi air saat itu, kata Syahria, terlihat bagian leher mereka berwarna hitam.

Kemudian di tahun 1997-1998 kanal Pampang mulai ditimbun, tahun 1999 terjadi banjir besar-besaran di Pampang. Ketingian air kurang lebih satu meter, masyarakat yang rumahnya  pingir kanal Pampang mengunakan perahu ke asrama Tentara. Pada tahun 2000-an baru diperbaiki kembali tangul yang rusak itu.

Kontributor: Sem