HMI Butuh Hipster, Sudah Lelah Dengan Politisi

Opini

Editor Suaib Amin Prawono


Oleh; Dhiram Tenrisau
(Dokter Gigi, Pengurus Besar HMI)

Bayangkan saja suatu agenda pemilihan dalam gedung atau ruangan, dua kelompok anak muda yang baru satu dua tahun bermahasiswa dan masih idealis dan militan, kedua kelompok ini saling memandang dengan amarah dan benci. Saling umpat dan memaki, dan akhirnya bentrok tak dapat dihindari.

Benda tajam dan yang paling tumpul dikeluarkan untuk menyerang kelompok lainnya. Mereka saling menyerang atas nama etnis, daerah, hingga kandidat ketua. Kaca – kaca ruangan pecah, kursi berserakan. Salah seorang kemudian ditelepon atau lewat pesan singkat oleh senior mereka yang dipanggil “kanda”, dan kalimat instruksipun meluncur. Para kelompok ini – setelah menerima sebungkus rokok - kemudian mundur dan tertinggallah puing dan horror yang terus melekat.

Di lain tempat atau warung kopi sebuah hotel berbintang, Orang yang dipanggil “kanda” itu telah mengirim instruksi, kemudian mereka bersenda gurau mengenai ulah dan tingkah “dinda” mereka.  Mereka sedang mentransaksikan suara di pemilihan dalam kepulan asap rokok dan kopi yang menunggu diseruput. Sembari tertawa, mereka memeriksa jikalau rekening mereka sudah dikirim oleh para pemesan konflik.

Kira–kira seperti itulah sedikit gambaran belakang layar kegiatan yang disebut Kongres HMI yang beberapa kali sempat saya hadiri. Ajang rutin ini adalah ajang evaluasi HMI dan yang paling menjadi daya tarik adalah agenda pemilihan ketua umum Pengurus Besar (PB) untuk satu periode kepengurusan. Saya teringat akan teriak lirih sebuah band rock Inggris bernama The Who. Pete Townshed – si pentolan band - menulis lirih “Teenage Wasteland”, di mana anak muda yang karena ilusi, terjebak dalam pembuangan sampah dalam lagunya “Baba O’Riley”.
 
Bonus Demografi, Hipster, dan Zeitgeist
Sejarah gerakan sosial Budaya, adalah gerakan muda. British Invasion oleh para pemuda jalanan yang memainkan musik dengan tokohnya The Beatles. Gerakan ini mampu memperluas Imperialisme Inggris. Atau pada era Perang Vietnam di Amerika Serikat, dimana para pemudanya melakukan protes dalam bentuk kecil dan kreatif namun memiliki efek yang signifikan, misalnya saja pagelaran musik Woodstock tahun 1969 atau juga pada simbol perlawanan budaya dalam lukisan–lukisan karya Andy Warhol. Gerakan sederhana tersebut namun memberi efek besar bagi dunia, sehingga disebut sebagai Zeitgeist (semangat zaman). Gerakan pemuda kulit hitam dalam musik Jazz dan Blus terhadap politik apherteid. Berbeda dengan Indonesia, yang gerakan mahasiswa dan pemudanya pada tahun 1998 yang disebut gerakan reformasi bukan suatu gerakan budaya atau subkultur anak muda.

Untuk menghancurkan budaya itu, maka perlu dilakukan budaya tanding dalam tubuh HMI sendiri. Dan setiap budaya tanding tentu membutuhkan aktor penggerak. Maka dari itu adalah tugas berat  untuk melahirkan orang – orang yang berbeda. Orang–orang yang melompati cara berpikir awam. Orang–orang yang tidak memfokuskan diri pada kekuasaan serta membangun dengan karya yang nyata. Mereka yang kelak melahirkan zeitgeist.

Merujuk pada kamus Mirriam Webster atau Oxford Dictionaries, orang–orang itu kemudian saya sebut sebagai hipster. Sekalipun seringnya hipster ini dikaitkan dengan konotasi negatif misalnya anak gaul, justru mereka inilah yang merupakan audiensi aktif – sebut saja konsumen produk budaya yang kritis - serta orang yang menjadi cerminan bagi orang lain. Saya harus sepakat dengan pernyataan Rene Suhardono Canoneo dalam ulasannya di salah satu media nasional. Menurutnya Hipster ini adalah orang yang menjaga budaya secara esensi. Hal yang sama dibutuhkan di dalam tubuh HMI.

Pesan untuk Milad HMI
Sehabis kongres di Pekanbaru kemarin, HMI banyak menuai pil malu.  Cerita – cerita buruk dan memalukan mengenai vandalisme, kekerasan, atau pelaksanaan yang molor sama seperti sebelumnya. Awalnya saya sangat berharap para rombongan kelak mengisi bawaannya dengan buku atau gagasan, bukan dengan aneka senjata tajam, juga menjadikan HMI sebagai arena pertarungan ide, bukan money politics untuk dompet pribadi.

Kejayaan HMI tak terlepas dari terjunnya ke politik. Hingga pada puncaknya HMI terlalu banyak melahirkan politisi. Politisi ini banyak yang menjadi broker. Terkadang broker inilah yang pragmatis. Bukan bermaksud skeptis terhadap politik, namun saya percaya masih banyak hal lain seharusnya menjadi jalan para pemuda untuk bangsa. HMI masih suka saja di wilayah politik. Semua orang ber-HMI seakan dipaksa menjadi politisi. Jadilah komentator politik hingga politisi amatiran.

Penyakit pragmatisme ini menjangkit para politisi yang dominan menguasai struktur dan jabatan penting. Mereka telah mengakar dan melahirkan ilusi sementara bagi para pemakainya. Pragmatisme diikuti sedikit tindakan premanisme memang kerap terjadi pada organisasi besar, salah satunya di HMI. Juga menjadikan HMI sebagai tempat seburuk – buruknya pembuangan sampah.

Himpunan sudah kenyang dengan politisi kelas teri yang ujungnya menjual gerakan. Himpunan ini sudah muak dengan kader yang bermulut besar penghuni warung kopi dan café. Himpunan ini sudah kelebihan para penyedia preman untuk momentum pilkada. Himpunan ini butuh orang yang berkarya dan melihat HMI dan Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Bisa musisi yang militan seperti Cholil Mahmud, sineas berdedikasi seperti Aditya Ahmad, figur sederhana Emha Ainun Nadjib, intelektual produktif seperti Gamal Albinsaid, pengusaha kreatif seperti Reza Nurhilman. Bisa juga melahirkan kembali sosok seperti Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Munir,Jusuf Kalla -sebagai pengusaha bukan politisi-, juga Taufiq Ismail.

Saya melihat ada harapan saat kepengurusan PB HMI periode Arief Rosyid. Gagasan bernama “HMI untuk Rakyat“. Di dalamnya teruari merencanakan bonus demografi – melihat fenomena ledakan usia muda dan produktif yang terjadi di Indonesia - yang secara nasional dirancang oleh Pengurus Besar HMI. Adalah besar harapan kami agar para kader HMI membumikannya. Sayang sekali lagi gagasan ini tidak selesai hingga ke akar rumput organisasi ini : komisariat.

Menurut saya gagasan “HMI untuk Rakyat” ataupun “Bonus Demografi perlu dilanjutkan. Organisasi ini menaruh harapan pada kader – kader yang berpikir beda alias Hipster.  Tiada maksud untuk pembunuhan karakter “kanda” atau himpunan. Lebih dari itu, tulisan ini adalah sebuah bentuk otokritik kepada saya, anda, ataupun kita yang merasa ber-HMI, yang pernah merasakan proses, hingga yang kini menikmati hasil dari HMI. Karena saya percaya HMI adalah cerminan Indonesia.Yakin Usaha Sampai