Iyule Bare’ dan Penghormatan Jenasah Bangsawan Sulawesi-Selatan

09 Apr 2016, 16:50:17 WIB || Editor:IQ Arsyad Kolom

Iyule Bare’ dan Penghormatan Jenasah Bangsawan Sulawesi-Selatan 

 

 Oleh : Zulengka Tangallilia

Kematian akan menghampiri semua makhluk yang bernyawa di muka bumi ini terutama manusia, baik cepat ataupun lambat pasti akan datang kapan dan di mana saja. Indonesia sebagai Bhineka Tungga Ika di mana memiliki 1.340 kelompok etnik atau suku bangsa (BPS. 2010) memiliki masing-masing cara yang unik dalam prosesi memakamkan sanak saudaranya yang telah meninggal dunia.

Tradisi pemakaman yang paling terkenal di Indonesia ada di Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Tana Toraja yang dikenal dengan nama Rambu Solo di mana pada saat jenasah akan dimakamkan ke peristirahatan terakhirnya akan di gotong banyak orang sembari menggoyang-goyangkannya.

 

(Gambar 1.1 : Iyule Bare’, alat pengusung Jenasah orang yang dimuliakan di Sulawesi-selatan)

Dalam tradisi suku bugis, saat seorang yang dimuliakan seperti seorang Raja, Anakarung (Bangsawan), Panrita atau Anreguru (Ulama) terdapat satu hal yang khusus dalam membawah jenasah ke tempat peristirahatan terakhinya, mereka akan ditandu dengan Iyule Bare’ di mana  tandu itu akan digotong puluhan bahkan ratusan orang.

 

(Gambar 1.2 : Iustrasi Iyule Bare’)

Iyule Bare’ adalah alat pengusung jenasah orang yang dimuliakan atau menuju tempat peristirahatan terakhirnya (kuburan) yang terbuat dari bambu dan dibuat kerangka membentuk segi empat dengan wala suji bagian dalamnya. Saat ditandu menuju tempat peristirahatan terakhirnya, salah satu atau dua orang sanak keluarga terdekatnya seperti istri, anak, dan cucunya memayungi jenasa di atas tandu sembari sesekali melempar uang koin atau benno dari beras ke arah bawah sebagai bentuk sedekah.

Penggunaan iyule bare’ sebagai alat mengusung jenasah memiliki aturan tersendiri dalam penggunaanya, ini dapat kita liat dari susunan wala suji. Susunan wala suji ini masing-masing penggunaannya mengikuti tingkat status sosial orang yang telah meninggal dunia. Seperti contoh pada gambar 1.2 yang mana yang meninggal dunia adalah prangkat addituang Sidenreng (Sidrap) Arung Batuee H.A. Baharman.

 

(Gambar 1.3 :Proses Pembuatan Iyule Bare’)

Bagian bawah iyule bare’ dibuat lebih lebar untuk nantinya memudahkan saat mengusung jenasah oleh puluhan bahkan ratusan orang, Saat pembuatan iyule bare’ harus di korbankan hewan ternak seperti kerbau ataupun kambing dan setelah itu terdapat patokka-Nya berupa ayam.

 

(Gambar 1.4. Bagian Bawah Iyule Bare)

Penggunaan iyule bare’ sebagai pengusung jenasah saat ini masih dilakukan di banyak daerah di Sulawesi Selatan yang didiamin banyak suku bugis. Seperti Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Sidenreng Rappang, Luwu, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia.

 

(Gambar 1.5 : Pengorbanan Hewan pada Iyule Bare’)

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook