Kappung Masigi: Kampung Ulama di Tanah Mandar

Kolom

Editor sesi.com

Oleh : Abdul Hakim Madda
(Ketua GP. Ansor Mamuju Utara)

Sejak ratusan tahun yang lalu, Kappung Masigi telah terkenal sebagai perkampungan Panrita (ulama), sehingga banyak santri yang berguru di kampung ini. Para santri umumnya berasal dari kawasan tanah Mandar dan tanah Bugis, bahkan dari tanah Jawa. Kontribusi kampung ini sangat besar dalam tradisi keilmuan di Sulawesi, bahkan di Nusantara, karena jaringan keilmuan dan ulama terangkai.

Di antara mereka ialah AGH. Abdul Hamid, Ustadz Haji Saran, AG. Manrulu, AGH. Maddapungan, AGH. Mas'ud Buraerah, AGH. Ahmad Zen, AGH. Muhammadiyah, AGH. Muhammad Nur, AGH. Mas'ud Rahman, Dr. H. Wajidi Sayadi, MA, Dr. H. Muhammad Zain, Ust. Muhammad Tawaf, dan lain sebagainya.

Tidak hanya dari Tanah Mandar, banyak juga ulama dari Tanah Bugis yang belajar agama di Kappung Masigi, antara lain: AGH. Abdul Halim (Masalembu, Jawa timur), AGH. Abdul Kadir (Mangkoso), AGH. Anas (Pare-Pare), AGH. Muhammad Gessa (Tanete Rilau, Barru).

Sejak Ratusan tahun yang lalu, kampung yang terletak di Bonde, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polman ini menjadi pusat pengkajian keislaman (mangayi kittaq). Bahkan, ada yang menyebut Kappung Masigi setara dengan Pulau Salemo di Pangkep. Dua nama daerah ini memang sangat masyhur dan pernah menjadi barometer tafaqquh (kepahaman) seseorang jika ingin mendalami Agama Islam.

Seperti halnya di Pulau Salemo, di Kappung Masigi juga diajarkan berbagai macam kitab, mulai dari dasar-dasar Bahasa Arab, tahsin bacaan Al-Qur'an, kajian Ilmu Fiqh, Hadist, tafsir dan Tasawuf. Tertarik mendalami Ilmu-ilmu keislaman? Datanglah ke Kappung Masigi. Karena sampai hari ini, kegiatan mangayi kittaq masih terus berlangsung.

Kappung Masigi adalah salah satu alternatif pilihan untuk memperdalam ilmu keagamaan. Wajar jika banyak santri dari berbagai pesantren di Sulawesi dan sekitarnya datang ke Kappung Masigi untuk tujuan ini. Kalau mau lebih banyak gurunya, tidak hanya di Bonde bisa berguru. Sebab, kajian kitab juga diselenggarakan di Pesantren Salafi yang dipimpin Annangguru Latif di Parappe atau Pondok pesantren Hasan Yamani yang lokasinya tidak terlalu berjauhan. Atau, berguru juga di Pambusuang, salah satu Kanzul Ulama fi Jazirah Mandar (Gudangnya Panrita di Tanah Mandar).

Hal serupa dengan Kappung Masigi dengan daerah lain, katakanlah di Tanah Jawa itu kurang lebih sama dengan Kauman. Di mana-mana kita bisa temukan nama Kauman dan selalu digunakan sebagai nama pemukiman Muslim di sekitar Masjid Agung atau Masjid Raya. Di Yogyakarta, pusat Kampung Kauman berada di sisi Utara Masjid Gedhe Kauman. Di Surakarta juga demikian, pusat Kauman-nya berada di sisi barat Masjid Agung Surakarta. Di Surabaya, Bangil, atau Ponorogo juga demikian.

Baca juga : Meluruskan Stigma Negatif Tentang Mandar

 

 


Video