Kehormatan Seragam Tujuh Belasan

Kolom

Reporter Andi Ilham Badawi, Editor Badauni AP


Seputarsulawesi.com - Upacara tujuh belasan, bukanlah upacara biasa, kehormatan upacara ini ditandai dengan seragam yang dikenakan oleh mereka yang berada di tengah lapangan. Sejak masa orde baru, hal detail seperti ini adalah bagian dari kebijakan pemerintah.

“Selama tahun 70an dan 80an, berbagai seragam dan aturan baru untuk pakaian seragam ini diciptakan dan direvisi oleh pemerintah nasional dan lokal”, Teruo Sekimoto, Pakaian Seragam dan Pagar Beton; Mendandani Desa pada Masa Orde Baru tahun 1970 dan 1980, dalam buku Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan.

Puncak hajatan Hari Kemerdekaan tak lain adalah upacara tujuh belasan  Di tanah lapang, perangkat negara hingga anak sekolahan, dengan hikmat menghadap bendera. Mengenang hari yang bersejarah, bangsa yang lama terjajah. Tiap ingatan, kembali ke permulaan, di mana bangsa Indonesia mampu berdikari. Berdiri di atas kaki sendiri.

Seragam-seragam beraneka warna dalam peristiwa seremonial publik membentuk suatu pemandangan yang umum di mana pun di dunia. “Akan tetapi, di bawah Orde Baru seragam telah menemukan arti khusus yang melampaui pertunjukan arak-arakan kebesaran dan upacara”, tulis Teruo Sekomoto.

Dalam menyambut upacara Hari Kemerdekaan, seragam yang akan dikenakan sangat diperhatikan oleh mereka yang hendak menghadiri acara ini. James Danandjaja, dalam tulisan Dari Celana Monyet ke Setelan Safari; Catatan Seorang Saksi Mata (Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan, 2005), menceritakan pengalamannya saat mengikuti upacara kemerdekaan. Sebagai seorang dosen di Universitas Indonesia, yang merupakan sebuah universitas negeri, pakaian formal yang ia kenakan ditentukan oleh negara.

Pakaian formal yang diisyaratkan adalah kemeja lengan panjang terbuat dari batik biru muda dengan pola Korpri (Korps Pegawai Negeri) berwarna biru tua ditambah pohon beringin yang dicapkan di seluruh bagian kain. Kemeja ini dikenakan bersama celana panjang biru tua. Untuk melengkapi seragam ini, disematkan lencana Korpri berbentuk pohon beringin di sisi kiri dada.

Sementara, para pegawai negeri yang berkedudukan lebih tinggi, sebagaimana kesaksian James Danandjaja, harus mengenakan setelan safari dengan lencana Korpri terpasang di dada sebagai seragam kerja dan saat menghadiri upacara Kemerdekaan. Bagi Presiden dan para menteri, lencana ini terbuat dari emas, berbentuk elag gaib menurut kepercayaan Jawa-Hindu (garuda) yang telah menjadi emblem nasional Indonesia (Garuda Pancasila).

Teruo Sekimoto menemukan hal yang unik dalam upacara Hari Kemerdekaan yang berlangsung di desa-desa. Para perangkat desa juga ikut mengenakan setelan safari yang dihiasi dengan lencana-lencana emas Korpri di dada dan peci. Mereka menggunakan setelan safari karena mengikuti kebiasaan para pegawai pemerintah, terlepas dari kenyataan bahwa para perangkat desa bukan pegawai-pegawai pemerintah sehingga mereka tidak terikat oleh aturan-aturan spesifik dalam berpakaian. Setelan safari jelas-jelas menjadi cirri-ciri mereka yang memiliki kekuasaan.

Penggunaan lencana korpri di bagian dada, juga terkait dengan hal yang berbau klenik, seperti yang diungkap oleh James Danandjaja. Menurut sebagian pegawai kala itu, lencana korpri diyakini dapat menangkis “ruh-ruh jahat” dalam bentuk “oknum-oknum tertentu” seperti polisi, tentara dan pejabat-pejabat pabean yang cenderung mempraktikkan pemerasan. Jadi setelan safari ditambah lencana korpri, memiliki kekuatan mistis untuk mengusir kekuatan-kekuatan jahat.

Dalam upacara Hari Kemerdekaan, semua elemen hadir di tengah lapangan. Di samping anggota polisi, tentara dan hansip yang mengenakan seragamnya masing-masing, anak-anak sekolah juga mengenakan seragam harian mereka; topi, kemeja putih, celana pendek atau rok biru muda bagi anak-anak sekolah dasar; topi putih atau baret merah, kemeja coklat dengan dasi merah, celana pendek atau rok coklat tua untuk pelajar sekolah menengah pertama.

Para guru tampil mengenakan seragam yang khusus dibuat untuk kesempatan ini: topi putih, kemeja batik ungu muda dan celana atau rok putih. 

Perempuan dan Pemuda

Istri para pejabat tidak ketinggalan untuk mengikuti upacara Hari Kemerdekaan, sama halnya seperti sekarang.  Pada masa itu, para istri pejabat sudah bergabung ke dalam organisasi bentukan pemerintah, yakni Pembinaan Kesejahteraan Perempuan (PKK). Mereka diatur untuk menggunakan seragam khusus PKK. Seragam PKK, menurut penelitian Teruo Sekimoto, tidak jauh berbeda dengan pakaian lengkap perempuan Jawa untuk kesempatan-kesemoatan resmi: kebaya tipis, selendang, kain batik, dan sandal hak tinggi.

Berbeda dengan kebaya yang digunakan untuk kepentingan pribadi, menjelang Hari Kemerdekaan, kebaya dan selendang dijahit dengan bentuk yang sama dari bahan dan warna yang sama pula. Kadang diberi tambahan kain batik dengan motif yang seragam. Hal ini membuat, penampilan para istri pejabat yang tergabung dalam PKK, berbeda dengan perempuan lainnya yang hadir pada saat upacara.

Gaya ikut-ikutan perangkat desa yang mengikuti pejabat pemerintah, juga menular kepada para pemuda. Mereka yang telah dikelompokkan dalam sebuah organisasi tidak resmi, menggagas setelan apa yang akan digunakan pada upacara nanti. Para pria mengenakan kemeja putih berlengan panjang, dasi hitam, dan celana warna coklat keabu-abuan, sedangkan para gadis mengenakan kebaya dan selendang dari bahan dengan tenunan kasar. Teruo Sekimoto, Pakaian Seragam dan Pagar Beton; Mendandani Desa pada Masa Orde Baru tahun 1970 dan 1980, dalam buku Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan.

Beragam Pemaknaan

Aturan pemerintah Orde Baru menyangkut pakaian seragam pada upacara Hari Kemerdekaan, tidak selamanya diikuti oleh para perangkat negara. James Danandjaja menuturkan bahwa umumnya hanya pejabat-pejabat pemerintah uang mematuhi aturan-aturan ini, sementara sebagian besar dosen, terutama di Jakarta, mengenakan kemeja Barat leher terbuka biasa.

Para dosen tersebut, tidak senang dengan sistem yang dibangun oleh Orde Baru, dan ditunjukkan dengan melanggar ketentuan mengenakan setelan safari. Mereka vokal mengrkritik kebijakan-kebijakan pemerintah. Mereka mengatakan tidak suka mengenakan harnas (berasal dari kata dalam bahasa Belanda untul “baju baja”) karena dengan mengenakan seragam ini, mereka merasa kehilangan kebebasan pribadi.

Di sisi yang lain, sebagaimana temuan Teruo Sekimoto, memakai seragam saat upacara Kemerdekaan merupakan tindakan suka rela. Para pejabat desa merasa senang dan sangat bangga mengenakan pakaian seragam. Seragam berfungsi sebagai tanda kedekatan si pemakai dengan negara. Agar dapat mengenakan suatu seragam pada masa Orde Baru, seseorang harus menjadi anggota organisasi yang diakui secara resmi, yang secara langsung atau tidak langsung menyatakan otorisasi pemerintah.

Fungsi seragam pada masa Orde Baru, dalam keadaan tertentu sepenuhnya eksklusif dan kaku, tetapi pada keadaan-keadaan lain lebih fleksibel dan spontan.Bagi anggota institusi-institusi tertentu berkedudukan kuat dan tersentralisasi seperti angkatan bersenjata, kepolisian, dan sekolah, seragam merupakan fakta kehidupan. Bagi pegawai pemerintah berpangkat rendah, seragam merupakan simbol dari status mereka yang lebih rendah, serta simbol kepatuhan mereka kepada atasan.

Menurut Teruo Sekimoto, mengenakan  seragam merupakan cara yang tepat bagi orang-orang yang merupakan alat negara golongan pinggir untuk membedakan diri dari massa tanpa nama yang tidak memiliki seragam dan dianggap tidak memiliki peran di dalam cara berpikir negara dan bangsa. Teruo Sekimoto, Pakaian Seragam dan Pagar Beton; Mendandani Desa pada Masa Orde Baru tahun 1970 dan 1980, dalam buku Outward Appearances; Trend, Identitas, Kepentingan.