Kisah Gus Dur yang Mengaku Keturunan Tionghoa

09 Mei 2017, 09:50:48 WIB || Editor:IQ Arsyad Sosok

Kisah Gus Dur yang Mengaku Keturunan Tionghoa 

Seputarsulawesi.com, Makassar - Keturunan etnis Tionghoa di Indonesia memiliki konotasi negatif bagi sebagian masyarakat. Padahal, dalam nadi Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur, ternyata mengalir darah Tionghoa.

Entah benar atau tidak, tetapi, Gus Dur berulang kali mengungkapkan hal itu di depan publik, bahwa dia keturunan Tionghoa. Pengakuan tersebut ia sampaikan dalam gelar wicara atau talk show "Living in Harmony The Chinese Heritage in Indonesia" yang digelar di Mal Ciputra, Jalan S Parman, Jakarta Barat, Rabu 30 Januari 2008 silam.

"Saya ini China tulen sebenarnya. Tetapi, ya sudah tercampurlah dengan Arab dan India. Nenek moyang saya orang Tionghoa asli," kata Gus Dur.

Dilihat dari garis keturunan, Gus Dur, ternyata merupakan turunan Putri Campa, yang menjadi selir Raja Majapahit, Brawijaya V. "Putri Campa itu lahir di Tionghoa, lalu dibawa ke Indonesia," ujarnya.

Putri Campa mempunyai dua anak hasil dari perkawinannya dengan Brawijaya V. Anak pertama laki-laki bernama Tan Eng Hian, dan anak kedua, seorang perempuan bernama Tan A Lok. Tan Eng Hian merupakan pendiri kerajaan Demak yang akhirnya berganti nama menjadi Raden Patah. "Dari sana keturunannya," ujar dia.

Sedangkan Tan A Lok, menikah dengan ulama muslim keturunan Tionghoa bernama Tan Kim Han. Dalam beberapa kesempatan lain, Gus Dur justru mengaku keturunan Tan Kim Han. Dia merupakan salah satu tokoh yang menggulingkan Kerajaan Majapahit dan ikut mengantarkan pendirian Kerajaan Islam Demak.

Dilansir dari merdeka.com, Selasa, 9 Mei 2017, Tan Kim Han adalah tokoh Muslim Tionghoa abad ke-15 dan 16. Dia diutus oleh iparnya, Jin Bun (dalam kitab Pararaton) atau Tan Eng Hian (versi Gus Dur) atau Raden Patah, bersama Maulana Ishak (sebagian riwayat menyebut ayah Sunan Giri), dan Sunan Ngudung (konon ayah Sunan Kudus) untuk mengadakan revolusi politik pada Majapahit.

Berita tersebut masih dipertanyakan kebenarannya, apakah Tan Kim Han itu tokoh fiktif atau asli? Karena, sejauh ini belum bisa dibuktikan. Meski demikian, sejumlah catatan lama tentang Tan Kim Han diyakini beberapa orang.

Ketika menjadi presiden, Gus Dur pernah berkunjung ke Universitas Beijing, China, pada 3 Desember 1999. Di sana, dia mendapat sambutan meriah. Selain mengaku sebagai keturunan Tan Kim Han, Gus Dur juga mengatakan, salah seorang putrinya belajar Mandarin di salah satu universitas di Indonesia.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2003, ternyata Gus Dur diundang untuk meresmikan monumen Tan Kim Han di China. Tahun itu, muncul silsilah singkat tentang Tan Kim Han, berdasar dua catatan silsilah dari marga Tan cabang Meixi dan cabang Chizai yang dikompilasi pada 1576 dan 1907.

Berdasarkan catatan tersebut, Tan Kim Han diketahui lahir pada 1383, pada masa pemerintahan Hongwu. Dia menikah tanpa anak dan mengajar di satu sekolah di Leizhou setelah lulus dalam ujian pada 1405.

Berdasar catatan Chizai Fang Jiapu pada 1907, Tan Kim Han ikut bersama Laksamana Cheng Ho berkunjung ke Lambri-Aceh. Setelah itu namanya tidak tercatat lagi karena menjadi pengikut agama lain, kemungkinan Islam.

Laksamana Cheng Ho melakukan ekspedisi laut pada 1405-1433 masehi, salah satunya ke Lambri atau Aceh. Perjalanan tokoh muslim China ini didokumentasikan Ma Huan dalam kronik China. Ma Huan tiga kali ikut dalam perjalanan Laksamana Cheng Ho, pada 1405, 1408, dan 1412. Dia juga mencatat Tan Kim Han ikut dalam perjalanan itu.

Pada 1413, Ma Huan mencatat Lambri telah menjadi kerajaan Islam, dengan populasi sekitar 1.000 keluarga, semuanya muslim dan mereka jujur. Raja di daerah itu beragama Islam. Tan Kim Han mungkin tertarik terhadap komunitas muslim yang hidup di Lambri lalu memutuskan untuk tinggal di sana, dan menikah dengan wanita setempat, membangun keluarga di Lambri.

Keluarga Tan Kim Han mulai berkembang dan menjadi yang berpengaruh di komunitas muslim di Lambri hingga Jawa Timur. Tan Kim Han memiliki nama panggilan Syekh Abdul Qodir Al-Shini.

Belakangan, seorang peneliti Prancis Louis-Charles Damais, ikut menelusuri jejak Tan Kim Han. Charles Damais sampai pada kesimpulan bahwa Tan Kim Han merupakan tokoh muslim yang memiliki nama lain Abdul Qodir Al-Shini, makamnya di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.

Kakek Gus Dur, Hasyim Asyari merupakan orang Jombang, putra dari Kiai Asyari. Jombang merupakan kabupaten kecil yang secara historis wilayahnya masuk dalam wilayah Majapahit. Makam Abdul Qodir Al-Shini masih satu kompleks dengan makam Putri Campa dan Raja Brawijaya V.

Source: Otonomi.co.id




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook