Kue Lebaran

Opini

Editor Suaib Amin Prawono


Oleh: Abdul Karim

(Penikmat Kue Lebaran)

Ramadan punya banyak kisah masa lalu. Kisah masa lalu yang membekas hingga kini, salah satunya adalah kisah tentang "kue lebaran".

Dipenghujung ramadan, selain membeli baju baru, kita punya kebiasaan rutin lainnya; meyiapkan kue lebaran. Pasar pun tampak ramai oleh dagangan bahan-bahan kue, terutama kue kering. Ada mentega, minyak goreng, kacang tanah, gula pasir, tepung terigu, dan sebagainya. Tak lupa pula alat-alat cetakan kue dan toples kaca tempat kue. Pokoknya, dipenghujung ramadan, pasar kita berjudul "kue" dengan berbagai pernak-perniknya. Dan pada moment itu, di pasar, kaum perempuan mendominasi.

Lalu kita ingat, bagaimana ibu di rumah, bibi, dan saudara perempuan bekerja sama di dapur mengolah bahan kue kering yang telah dibeli di pasar. Aneka kue kering diproduksi bersama, dengan tata sesuai keinginan.

Pada moment seperti ini, perempuan adalah aktor utama. Dikampung saya puluhan tahun silam, pada penghujung ramadan kaum perempuan sibuk dengan urusan kue. Menariknya, mereka memproduksi kue dengan resep yang terwariskan dari generasi ke generasi, tanpa menggunakan panduan resep dari surat kabar atau buku. Adonan kue yang diproduksi dihafal diluar kepala. Dan inilah salah satu kekayaan "intelektual" dibidang kuliner yang patut disyukuri.

Di hari lebaran, aneka kue yang telah diproduksi berhari-hari itu menghiasi meja ruang tamu. Karib kerabat, handai taulan yang datang bersilaturrahmi disuguhi kue-kue original bikinan tangan sendiri dengan teh atau kopi panas. Bahkan, anak-anak SD yang datang bertamu pun disuguhkan kue yang sama. Tak heran bila selama sepekan pasca lebaran, aneka kue itu masih stay diatas meja ruang tamu.

***


Tetapi kita sedih, informasi dari seorang rekan dikampung halaman menyebutkan, berkurangnya tingkat kesibukan warga memproduksi kue lebaran dirumah dalam beberapa tahun terakhir. Pasalnya, di pasar, menurut rekan itu, bukan hanya bahan-bahan kue yang dijajakan. Tetapi kini, aneka kue lebaran pun dijajakan dengan ramai. "Ibu rumah tangga dan perempuan dirumah tak perlu lagi sibuk membikin kue, cukup ke pasar menunjuk kue jenis apa yang hendak dibeli", kata rekan saya diujung telepon.

Dan rupanya, itu tak hanya terjadi dikampung saya. Beberapa media melaporkan, di pasar-pasar tradisional di daerah kabupaten ramai pula dijajakan kue lebaran yang siap santap. Bahkan, beberapa diantaranya dipajang di kios-kios jajan. Membuat kue lebaran dirumah pun pelan-pelan surut.

Mungkin dari sisi ekonomi, membeli kue lebaran di pasar atau ditoko-toko memang punya selisih harga murah dibanding produksi sendiri. Begitupun dari sisi penghematan tenaga. Tetapi sesungguhnya ada sesuatu yang cukup berarti terkikis dari fenomena "beli kue siap santap" itu, yakni; terputusnya pengetahuan olah kuliner yang sejak dulu terwariskan turun-temurun.

Bagaimana membuktikannya? Barangkali dapat diamati dari fenomena temporer; apakah dizaman kini putri-putri kita pandai membikin kue lebaran seperti halnya putri-putri kita ditahun 1980-an silam? Nampaknya tidak lagi.

Fatalnya, terkikislah pengetahuan olah kuliner yang tergantikan oleh kecenderungan "membeli" yang disebut sebagai "kemoderenan". Kita seolah gengsi dan non-modern bila tak membeli kue siap santap di pasar, atau dipusat-pusat jajan mewah dikota. Disini, moderintas terasa merenggut rumah pengetahuan kuliner lokal kita, ironis.

Yang tak berubah disini hanyalah fungsi pasar. Ia tetap ramai dikunjungi. Ia tetap menjadi ruang transaksi. Dan, ia tak pernah peduli akan terkikisnya pengetahuan olah kuliner generasi kita.