Laten Radikalisme di Kalangan Pelajar

Opini

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Oleh: Ikhlasul Amal Muslim

Di abad 18 paham akan pemaksaan di berinama radikalisme. Radikalisme di ambil dari bahasa latin “radix yang berarti “akar”,adalah istilah yamg digunakan pada akhir abad ke – 18 untuk pendukung gerakan radikal. Dalam sejarah, gerakan yang dimulai di britania raya ini meminta reformasi sitem pemilihan secara radikal. Gerakan ini awalnya menyatakan dirinya sebagai partai kiri jauh yang menentang partai kanan jauh. Dari historis radikalisme ini memberikan penalaran bahwa radikalisme sebuah pemikiran untuk pembaharuan sistem negara.

Maka wajar di setiap tempat ngumpul terselip sebuah pembicaran tetang pemahaman radikalisme, semenjak pehujung tahun 2016, dimana ada beberapa gerakan aksi kaum radikalisme yang dimana dalam aksinya tersebut tentang kasus penistaan agama yang dilakukan oleh gubernur Jakarta non aktif sekarang. Di warung – warung kopi banyak membicarakan radikalisme agama, termasuk kelompok pentungan FPI yang doyang akan aksi di jalan raya dengan kasus penistaan agama dan simbol – simbol yang penjelasannya ngawur.

Timbulnya beberapa aksi agama ini membuat benang kebangsaan mulai menampakkan kekusutan sebab kaum politisi juga ikut men - aminkan kegiatan aksi tersebut, tanpa melihat realitas sosial yang akan merusak benang kebangsaan. Dengan gencar para politisi terjun dalam aksi tersebut, Pemerintah pun bergerak cepat menanggulangi pemahaman radikalisme meskipun dalam tataran kepemudaan, terus bekerja keras demi meminimalisir gerakan kaum radikalisme akan benturan – benturan yang memicu akan adanya perang saudara. Termasuk pilkada Jakarata kemarin, seandainya ahok – djarot menang di putaran kedua mungkin masih ada aksi lanjutan dan bisa jadi ada gerakan makar yang memicu perang saudara.

Survei Benih Radikalisme Di Sekolah

Untuk merawat benang kebangsaan, maka perlu ketahui terlebih dahulu bibit kebangsaan, apakah dalam dunia pelajar dan sekolah di indonesia tidak ada pendoktringan radikalime? Karena kita kebanyakan memangtau dunia kampus sebab terpaku akan pengantin bom terorisme kebanyakan mahasiswa dan kurang memangtau dunia sekolah, padahal dia menjadi generasi bangsa sebagai pembangun peradaban.

Dalam tulisan kali ini akan merujuk pada pembahasan dalam dunia sekolah dan pelajar, yang dimana ada beberapa kasus mencengankan diantaranya, banyak para pelajar menganggap bahwa kafir itu adalah orang yang tak seagama dan kasus yang di temukan organisasi kepemudaan Nahdlatu Ulama yang GP Ansor menemukan buku yang berjudul Anak Islam Suka Membaca, mengajarkan radikalisme dan memuat kata – kata “jihad” dan “bom”. Buku tersebut telah banyak di konsumsi oleh beberapa taman kanak – kanak (TK) untuk di ajarkan. Sangat ironis jika masih anak – anak sudah di ajarkan untuk berjihad (perang) apa lagi kalau di gaungkan untuk membom, sama saja anak – anak di ajarkan untuk melakukan tindakan kriminal pembunuhan.

Dari hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LAKIP) pada oktober 2010 hingga Januari 2011, mengunkapakan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal dan temuan memperlihatka tigkat kesediaan guru untuk terlibat dalam berbagai kekerasan agama dan mora mencapai 28,2 % sedangkan di kalangan siswa mencapai 48,9%. Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,4% siswa dan 76,2 % guru setuju dengan penerapan syariat islam di indonesia (khilafah)

Jumlah menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom (aksi terorisme). Peneliti maafrif institute, Abdullah Darraz mengatakan melemahnya Pancasila dan Kebangsaan berbanding lurus dengan maraknya radikalisme itu.

Dari data di atas menjadi bibit masalah kebangsaan kita dikalangan pelajar sebab kurangnya penanaman nila – nilai kebangsaan yang di selaraskan dengan keagamaan. Dapat menimbulkan pemahaman agama yang cenderung radikal dengan mudah mengkafirkan orang lain dan ajaran budaya ke Islam di indonesia sering di anggap sesat. Sebab ajaran ke budaya ke Islaman di indonesia berbeda dengan budaya ke Islam yang awal mulanya penyebaran ajaran agama Islam.

Menangkal Radikalisme Di Sekolah

Penanaman moral kebangsaan di agama Islam jika di tafsir secara fundamentalis tanpa di maknai secara luas menimbulkan pemikiran intoleransi terhadap perbedaan. Beberapa guru Pendidikan Agama hanya menoton kepada pelajaran pahala dan bahaya dosa dan teramat menyedihkan jika guru Agama memberikan penalaran bahwa orang yang tak seagama adalah kafir. Disamping itu pula ketidak kreatifnnya guru membuat siswa enggan takut memberikan pertanyaan yang mengaitkan nasionalisme kebangsaan dengan Agama.

Kurangnya pemahaman tersebut dan banyaknya guru sedang merangset masuk kedalam dunia pendidikan membuat penyebaran ajaran agama radikalisme bergerak begitu masif. Bahaya laten radikalisme ini perlu di tanggulanngi sebaik mungkin seperti halnya 13 guru di pecat di kota semarang , gara – gara mengajarkan ajaran radikal di sekolah.

Lagi pula pasca pilkada jakarta kemarin menimbulkan riak – riak kelompok intoleransi berani mengibarkan benderanya sampai bendera Pusaka indonesia di tulisi kalimat tauhid sebagai tanda indonesia harus berlandaskan kepada ajaran agama Islam (khilafah islamiah). Dari survei pernah di lakukan oleh lembaga Setara Institute yang melibatkan 684 responden dari 171 sekolah di Jakarta dan Bandung pada tanggal 9 – 19 maret 2015 lalu menunjukkan bahwa di kalangan pelajar masih ada 9,5% yang setuju dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islamic State (IS) atau yang lebih di kenal dengan ISIS.

Pemerinta perlu mengadakan pembinaan tekhnis non formal dan pembelajaran nasionalisme kebangsaan dengan melaraskan agama. Agar para guru pendidik agama memberikan pelajaran tentang ajaran agama yang harmonis dan menghargai perbedaan. Di tambah pula kepada setiap pengurus OSIS di sekolah di berikan pula bimbingan tekhnis tentang bagaiamana menyebarkan ajaran nasionalisme kebangsaan indonesia dengan empat pilarnya sekaligus memberikan arahan untuk menjadi agent of peace dengan tugas utama menyebarkan bibit – bibit perdamaian dan menanggulangi pemahaman radikalisme, sehingga terciptalah suatu iklim pembinaan yang terus berkesimnambungan dari masa ke masa.