Mas’ud Shaleh: Cinta Tanah Air, Amanat Kiai Yang Wajib Dijaga

Sulbar

Editor Suaib Amin Prawono


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Polewali Mandar mengadakan buka puasa bersama dan dialog kebangsaan “Cinta Tanah Air sebagian dari Iman” di sekretariat GP Ansor Polewali Mandar, Jalan Pemuda Pekkabata, Sabtu (16/07).

Kegiatan tersebut dihadiri lansung Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Mas’ud Shaleh sekaligus didaulat menjadi Keynote Speaker. Dilanjutkan arahan singkat dan testimoni dari Ketua Dewan pembina GP Ansor Kabupaten Polewali Mandar Azikin Noer.

Mas’ud Shaleh dalam paparannya mengemukakan bahwa piagam Madinah (The Madinah Charter) hasil perjanjian formal antara Rasulullah Muhammad SAW dengan penduduk Madinah, tidaklah membentuk ikatan Kewarga-agamaan atau kewarga-sukuan, melainkan semangat kewarganegaraan yang islami yang memayungi semua agama dan suku di negri Madinah kala itu.

“Baginda Nabi SAW mendirikan negara Madinah atau civilized state, negara beradab yang memayungi semuanya," urai Masud Shaleh dalam pengantarnya.

Di sisi lain, dalam sejarah berdirinya NKRI, pendiri NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari memberikan rumusan yang sangat dahsyat terkait relasi negara dan agama sekaligus sebagai amanat bahwa Hubbul Wathan Minal Iman, Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman.
Sehingga Konsepsi NKRI Harga Mati yang digelorakan setiap warga negara merupakan pengamalan nilai nilai cinta kepada tanah air yang mengandung semangat keagamaan, khususnya islam itu sendiri. Dari sini melahirkan sikap islam nasionalis atau nasionalisme religius.

KeIslaman dan Kemandaran

Selain mengurai tentang filosofi dan metode (manhaj) Hubbul Wathan Minal Iman atau cinta tanah air adalah sebagian dari Iman, Masud Shaleh juga mengurai tentang relasi antara ke Islaman dan Kemandaran. Bagaimana Islam bersenyawa dengan nilai-nilai di Mandar, yang maujud dalam akhlak orang Mandar yang Islami.

“Wake' ayu lagi dinyawai tenna maladzi, occong pai rupa tau (akar kayu saja perlu diperlakukan secara manusiawi, apatah lagi sesama manusia)” kata Masud Shaleh mengutip pesan leluhur Mandar bagaimana menghargai manusia dan alam semesta.

Mantan Ketua KPM-PM ini mengatakan, sebelum Islam masuk di tanah Mandar, para leluhur sudah memiliki tradisi yang dinamakan Tabeq. Sebuah kearifan lokal orang Mandar yang mengajarkan tentang sopan santun kepada sesama. Islam yang disyiarkan oleh para Wali yang juga mengajarkan adab sopan santun sangat senafas dengan tradisi Tabeq tersebut. Sehingga, tradisi tetap dipertahankan.


“Oleh karena itu, saat Islam dianut oleh orang-orang Mandar, dan melakukan tradisi Tabeq, kita sudah tidak bisa membedakan mana Tabeq sebagai kearifan lokal (local wisdom), mana tabeq yang islami. Ibarat gula dan kopi menjadi satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan,” urai pria yang karib disapa Anchu itu.

Pererat Silaturrahim Kader

Sementara itu, Ketua GP Ansor Polewali Mandar Busra Baharuddin mengemukakan bahwa tujuan dilaksanakannya kegiatan tersebut, selain untuk selain berbuka puasa bersama, juga untuk mempererat silaturrahim kader dan para dewan senior GP Ansor Polewali Mandar. Selain itu, dialog kebangsaan tersebut dalam rangka menyikapi fenomena sosial kemasyarakatan yang saat ini marak terjadi yang berpotensi mengancam keutuhan Pancasila dan NKRI.

"Kegiatan ini Sebagai momen silaturrahim sekaligus menyikapi fenomena sosial yang akhir ini marak terjadi yang berpotensi mengancam keutuhan NKRI dan Pancasila, "ujar Busra Baharuddin.

Dialog yang berlangsung satu jam setengah tersebut dimoderatori Muhammad Arif, Ketua GP Ansor Polewali Mandar Bidang Pendidikan dan Pelatihan. Sedangkan yang menjadi panitia pelaksana adalah dua wakil sekretaris GP Ansor Polewali Mandar Muhammad Assaibin dan Sudianto. Keduanya dibantu sejumlah kader Ansor dan Banser serta sejumlah kader PMII Polewali Mandar. (Muhammad Arif)