Masjid Awaluddin Gantarang Lalang Bata di Selayar

Kolom

Editor Suaib Amin Prawono


Oleh : Fadhil Nugraha

(Pelancong dan Penggiat Seni)

Libur Idul Adha Tahun 2015 lalu membuat saya bosan di Kota Makassar, untuk mengusir kebosanan itu, saya mengajak teman-teman saya jalan-jalan ke Bantaeng, kebetulan di sana memang banyak kawan, yah.. sekalian silahturrahmi pasca Idul Adha.

Di Pantai Seruni Bantaeng, beberapa kawan mengajak untuk menyeberang ke Kabupaten Kepulauan Selayar, mendengar itu, tentunya saya sangat senang sekali, soalnya saya belum pernah berkunjung ke tempat itu. Selayar selama ini hanya saya dengar dari cerita teman tentang sejarah masa silam Kabupaten yang terkenal dengan wisata bawah lautnya itu.

Tak hanya itu, saya juga penasaran dengan Gong Nekara, peninggalan saudagar China, penasaran dengan jangkar besar, peninggalan kapal-kapal China,  karena perairan Selayar di masa silam adalah jalur perlintasan kapal dagang dari berbagai penjuru dunia.

Sampai di selayar saya dengar kabar tentang kampung tua bernama Gantarang Lalang Bata. Langsung saja saya mengunjungi kampung itu. Sampai di tempat ini, saya melihat sebuah masjid tua peninggalan Datuk ri Bandang, namanya Masjid Awaluddin Gantarang Lalang Bata.

Setelah saya baca artikel Datuk ri Bandang, Selayar merupakan daerah yang pertama dikunjunginya, sebelum sampai ke tanah Gowa. Kondisi masjidnya sudah sangat tua. Meski dinding masjid ini sudah ditembok dan direnovasi, namun tiang-tiang yang menjadi penyangga masjid itu masih terlihat utuh dan cukup kuat untuk menopan tegaknya masjid tersebut.

Meski demikian, ada hal yang membuat saya sedikit kecewa. Pasalnya, sampai di lokasi ini, tepat waktu sholat Magrib, di mesjid itu tak ada aktivitas jamaah, nampaknya warga setempat sangat sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Akhirnya, saya mengambil inisiatif untuk memanggil penjaga mesjid di rumahnya untuk menyalakan pengeras suara masjid.

Saya membanyangkan andaikan tak ada tamu yang berkunjung hari itu, mungkin saja, saya tak akan menemukan aktivitas (sholat Magrib) di masjid itu. Meski jamaahnya hanya saya, pengurus masjid (Pak Doja) dan 5 orang kawan yang menemani saya saat itu.