Masjid Mempertemukan Semua

Lipsus

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


sumber foto : Tribun Kaltim - Tribunnews.com

Seputarsulawesi.com, Makassar- Masyarakat urban dikenal sebagai masyarakat yang cenderung individualis. Kebanyakan dari mereka lebih mementingkan diri sendiri dan jarang terlibat dalam persoalan yang melibatkan banyak orang. Masyarakat urban yang hidup dalam ruang perkotaan yang rural, juga plural, lebih banyak dipengaruhi oleh logika perkotaan yang modernis sekaligus mengandung bias liberalisme. Bias inilah yang cenderung membuat sebagian masyarakat kota bersikap nafsi-nafsi.

Sikap individual masyarakat urban, juga sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor pekerjaan yang mereka geluti. Rata-rata penduduk kota, menghabiskan waktu selama  8 jam di siang hari untuk fokus ke pekerjaan. Belum lagi, pekerjaan di sektor industri dan bidang jasa, kadang bisa membuat pekerjanya menghabiskan waktu bekerja, hingga 10-12 jam.

Tuntutan dan beban hidup di kota, banyak membuat para pekerja rela menghabiskan waktunya untuk lembur, demi tambahan pendapatan. Hal ini membuat penduduk kota di siang hari, bahkan hingga malam hari, sering meninggalkan rumahnya untuk bekerja. Dan saat kembali ke rumah, waktu lebih banyak digunakan untuk istirahat, ketimbang bersosialisasi dengan tetangga sekitar.

Di Kota Makassar sendiri, berdasarkan rilisan Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, angkatan kerja per tahun 2014 berjumlah 600.051 jiwa, dengan pembagian yang bekerja sebanyak 534.428 jiwa dan 65.623 jiwa tidak bekerja. Jumlah ini terus meningkat tiap tahunnya. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Makassar per 2017, sebanyak 1.769.920 jiwa. Berarti sekitar 40 % penduduk Kota Makassar berstatus sebagai pekerja. Baik yang bekerja di sektor pemerintahan, industri, wiraswasta, hingga bidang jasa.

Penelitian yang dilakukan oleh Shirly Wunas dan Venny Veronica Natalia dari Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, mengenai pembangunan insfraktuktur transportasi di Kota Makassar pada tahun 2015, menunjukkan  laju pertumbuhan penduduk di Kota Makassar meningkat pesat di wilayah sub urban. Wilayah sub urban sendiri, ditandai dengan maraknya pembangunan kluster perumahan minimalis.Pada wilayah sub urban di Kota Makassar, terdapat 29% dari total jumlah penduduk yang akan terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.

Suburnya pembangunan perumahan di wilayah sub urban, menarik minat bagi masyarakat kota yang memiliki pekerjaan dan re-rata gaji di atas 5 juta/bulan, untuk membeli perumahan dan bermukim di wilayah tersebut. Kebanyakan dari mereka berdatangan dari wilayah kota lainnya, atau dari beberapa daerah. Faktor pendatang dan kesibukan pekerjaan, mempengaruhi kurangnya kohesi sosial masyarakat perkotaan yang bermukim dalam suatu kompleks perumahan.

Meski demikian, fasilitas publik di sebuah kompleks perumahan justru bisa meningkatkan kohesi sosial tersebut. Adanya rumah ibadah, semisal masjid, bisa membuat penduduk kota, khususnya yang beragam Islam sering mengalami perjumpaan. Apalagi di bulan Ramadan seperti sekarang ini, intensitas pertemuan akan semakin meningkat.

Jika pada bulan-bulan biasa, mereka hanya bertemu atau berpapasan saat pergi bekerja, atau sepulang bekerja. Saat bulan Ramadan, penduduk kota akan lebih sering bertemu ketika ritual ibadah secara berjamaah.

Mereka bisa bertemu dan bersosialisasi, pada saat buka bersama di masjid. Pengajian Ramadan juga bisa mengumpulkan ibu-ibu, yang jarang muncul saat kegiatan majelis taklim sebelum-sebelumnya. Bapak-bapak akan lebih banyak berinteraksi menjelang salat tarawih. Dan anak-anak kecil bisa berkumpul dan bermain bersama menjelang berbuka puasa. Adanya bulan Ramadan, bisa menjadi penguat kohesi sosial di antara penduduk kota yang secara khusus beragama Islam. Kesibukan pekerjaan bukan lagi jadi penghalang untuk saling mengakrabkan diri.

Pertemuan Budaya

Sebagai ruang publik, masjid menyajikan beragam identitas yang saling silang. Dalam hal beribadah, orang-orang datang ke masjid, dengan berbagai ekspresi dari identitasnya masing-masing. Ekspresi itu bisa dikaitkan dengan simbol kebudayaan tertentu.

Modernitas yang membawa globalisasi kebudayaan, memberi warna bagi kehidupan perkotaan. Imbas dari arus globalisasi ini mengakibatkan keberagaman ekspresi umat muslim dalam menjalankan ritual ibadahnya. Perjumpaan dengan sisi tradisonal yang sedikit banyak dibawa oleh penduduk desa yang hijrah ke kota, menimbulkan hibriditas dalam ekspresi kaum muslim perkotaan.

Di masjid, terlebih di bulan Ramadan, kita bisa menjumpai orang-orang yang datang beribadah salat tarawih, mengenakan setelan pakaian yang berbeda. Ada yang datang dengan bersarung dan berbaju koko, tapi ada juga yang bersarung dan berkemaja khas orang barat. Kadang, ada yang memakai celana jeans, tapi tubuh bagian atasnya dibungkus oleh baju koko. Belum lagi yang berpakaian gamis. Jenis-jenis songkok juga bermacam-macam, mulai dari songkok hitam hingga songkok haji. Talkum kaum perempuan juga sangat berbeda-beda motifnya, ada yang bermotif biasa hingga mengikuti trend kekinian.

Ekspresi berupa pakaian beribadah yang berbeda-beda menandakan ruang publik (masjid) masih nyaman dalam mengakomodir keberagaman ekspresi tersebut. Bukankan Gus Dur pernah mengatakan bahwa apapun pakaian yang kamu kenakan, kamu tetap seorang muslim.

Masjid di bulan Ramadan, adalah ruang pertemuan budaya yang harus kita sikapi secara arif. Bahwa, perbedaan itu bisa memberi banyak warna bagi kehidupan perkotaan yang serba sumpek. Kota yang menjadi representasi kemajuan, perlu dijamin keterbukaannya terhadap segala macam bentuk heterogenitas.

 

Kontributor: Ilham Badewe