Melepas Belenggu Kapitalisme dalam Akuntansi

Opini

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Muhammad Aras Prabowo

(Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Mercu Buana Jakarta)

Ilmu akuntansi seringkali dianggap sebagai ilmu kapitalis, sebab dalam aktualisasinya selalu berbicara untung dan rugi. Informasi akuntansi sangat diperlukan untuk merumuskan pengambilan keputususan disebuah perusahaan, termasuk bagaimana cara untuk menekan biaya untuk meningkatkan keuntungan. Selain itu, ketundukan Akuntan (sebuah profesi akuntansi yang telah menempu Pendidikan Profesi Akuntansi) kepada pihak manajemen dan pemilik perusahaan menguatkan stigma masyarakat bahwa akuntan adalah kaki tangan kapitalis.

Berbagai fenomena pelanggaran etika dalam profesi akuntansi seperti yang kita lihat puncaknya pada kasus Enron Corporation menyebabkan akuntansi kehilangan integritasnya. Kasus pelanggaran etika untuk memenuhi nafsu serakah para manajer, konsultan dan akuntan menyebabkan salah satu kantor akuntan the big five Arthur Andersen terpaksa bubar yang berdampak kepada kehilangan kepercayaan publik terhadap profesi ini.

Dampaknya pemerintah dan parlemen melahirkan Sarbanes Oxley Act yang mengatur peningkatan pertanggungjawaban perusahaan (korporasi) atau disebut juga corporate Responstability Act. Kasus Enron ini sangat berdampak negatif pada profesi akuntan sehingga kepercayaan publik kepada profesi akuntan berada pada titik nadir titik yang paling rendah.

Namun, berbagai upaya dilakukan untuk menepis persepsi mengenai akuntansi sebagai ilmu kapitalisme. Kelahiran akuntansi syariah dan Corporate Social Responsibility (CSR) adalah sebuah usaha yang ingin menegaskan bahwa akuntansi merupakan ilmu sosial dan kemasyarakatan, mewujudkan kesejahteraan masyarakat bagian dari tanggung jawab perusahaan.

Istilah Akuntansi Syariah sebetulnya berawal dari disertasi PhD-nya DR. Iwan Triyuwono yang berjudul “Shari‟ate Organization and Accounting: The Reflections of Shelf‟s Faith and Knowledge” tahun 1995 di University of Wollongong, Australia. Disertasi ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Organisasi dan Akuntansi Syariah yang diterbit menjadi sebuah judul buku pada bulan Maret 2000.

Di Indonesia istilah tersebut muncul pada pertengahan1997 ketika Harian Republika memuat tulisan DR. Iwan Triyuwono dengan topik pembicaraan masalah akuntansi syariah. Sejak saat itu wacana akuntansi syariah mulai ada dan berkembang di Indonesia. Sehingga pada tahap awal, istilah akuntansi syariah merupakan pemicu bagi lahirnya akuntansi syariah pada tingkat wacana (discourse).

Lebih lanjut, Iwan Triyuwono menjelaskan, bahwa akuntansi konvensional yang sekarang berkembang adalah sebuah disiplin dan praktik yang dibentuk dan membentuk lingkungannya. Oleh karena itu, bila akuntansi dilahirkan dalam lingkungan kapitalis, maka informasi yang disampaikannya jiga mengandung nilai-nilai kapitalistik. Kemudian keputusan dan tindakan ekonomi yang diambil seseorang yang berdasarkan pada informasi ini juga mengandung nilai-nilai kapitalistik. Akhirnya realitas yang diciptakan adalah realitas yang kapitalistik. Singkatnya, informasi akuntansi yang kapitalistik akan membentuk jaringan kuasa yang kapitalistik juga. Jaringan kuasa inilah yang akhirnya mengikat dan melilit manusia dalam sengsara kapitalisme.

Penguatan nilai moral dan etika dalam akuntansi memiliki peran untuk menghidarkan dari praktik kapitalisme dalam penerapannya. Untuk itu, pengembangan ilmu akuntansi yang berbasis etika perlu ditingkatkan lewat riset. Kolaborasi ilmu akuntansi dengan realitas sosial akan melahirkan wajah akuntansi yang humanis, emensipatoris, transendental, dan teleologis. Hal ini menjadi tanggung jawab bagi para mahasiswa dan akademisi yang berhubungan langsung  dengan bidang tersebut untuk mengembangan akuntansi multiparadigma, khususnya berkaitan dengan ilmu sosiologi dan budaya di Indonesia.

Sedangkan, akuntansi CSR sebagai sebuah dorongan bagi perusahaan atau pemilik modal untuk meningkatkan tanggung jawab, baik yang berhubungan dalam internal maupun eksternal perusahaan. Misalnya, praktik tanggung jawab sosial yang berhubungan dengan karyawan dan terkait dengan isu-isu seperti investasi dalam modal manusia, kesehatan dan keselamatan dan perubahan manajemen, sedangkan praktek lingkungan adalah bertanggung jawab terkait pengelolaan sumber daya alam dan kesejateraan masyarakat setempat.

Akuntansi CSR diharapkan turut serta bekonstribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Penyaluran dana CSR harus berdaya guna dengan melaksanakan sebuah program yang betul-betul dibutuhkan dalam masyarakat. Tidak hanya dijadikan sebagai fomalitas dan alat penggugur kewajiban atas tanggung jawab sosial. Sehingga CSR dapat melahirkan sebuah sikap empati dan menekan persepsei kapitalisme dalam akuntansi.

Akuntansi Syariah dan CSR adalah sebuah usaha untuk merekonstruksi wajah akuntansi yang lebih humanis dan menepis persepsi masyarakat mengenai akuntansi dalam hegemoni kapitalisme. Semakin banyak akuntansi bersentuhan dengan masyarakat, maka akuntansi akan semakin familiar dan tuduhan akuntan sebagai tangan kanan kapitalisme akan luntur secara sendirinya.