Meluruskan Stigma Negatif Tentang Mandar

10 Okt 2015, 23:46:56 WIB || Editor:sesi.comOpini

Meluruskan Stigma Negatif Tentang Mandar 

Oleh: R. Kottir 

(Reporter Seputarsulawesi.com)

Ketika menyebut nama Mandar, biasanya yang terlintas di benak sebagian orang-orang di luar Mandar adalah dunia yang penuh dengan mistik dan marabahaya. "Orang Mandar itu bisa kasih lembek  kepala orang ya?" Demikian pertanyaan yang diutarakan salah seorang teman penulis sewaktu kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar beberapa tahun lalu.


Saya tidak tahu, sejak kapan stigma itu bermula, tapi yang jelasnya ucapan dan kecurigaan seperti itu acap kali penulis temui dan tidak jarang membuat penulis resah dan sedikit agak gengsi menyebutkan asal daerah saat berkenalan dengan orang-orang  di luar Mandar. Apalagi jika yang bersangkutan adalah seorang perempuan.


Meski tak semua orang di luar Mandar berpandangan seperti itu, namun saat mendengar ucapan seperti itu penulis secara pribadi merasa tidak nyaman, karena seolah berjalan ke tanah Mandar adalah berjalan ke dunia purba, gelap dan penuh dengan nuansa mistik yang menakutkan. Demikian pula, meski argumentasi tentang Mandar itu tidak bisa dibuktikan secara ilmiah kebenarannya, namun stigma itu seolah sudah menjadi kebanaran umum dan terus terwariskan secara turun temurun. Ironisnya, tidak jarang ada orang tua di luar Mandar yang berpesan ke anaknya dengan mengatakan "Nak, hati-hatiko sama orang Mandar karena banyak  baca-bacanya".


Olehnya itu, tulisan ini ingin mencoba untuk meluruskan stigma yang menurut penulis kurang rasional itu. Apalagi stigma seperti itu kebanyakan diucapkan oleh mereka yang belum pernah berkunjung dan memahami kearifan budaya masyarakat Mandar.


Daerah Religius
Mandar merupakan daerah yang cukup religius dan banyak dihuni oleh ulama-ulama besar serta tidak jarang dikunjungi oleh orang-orang dari luar Mandar. Dalam hal agama, ada dua desa yang sangat kesohor di tanah Mandar, yaitu Desa Parappe, Kecamatan Campalagian dan Desa Pambusuan Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar. Di dua wilayah ini, pengajian dan pengkajian agama masih cukup intens dilakukan. Dan bahkan tidak jarang orang-orang di luar Mandar yang ingin melanjutkan studinya ke Mesir, terlebih dahulu mendatangi salah satu dari dua desa tersebut. Mereka menetap di sana, minimal setahun, guna memperdalam ilmu agama dan ilmu tata bahasa Arab (Nahwu-Shorof). Hal ini sekaligus menandakan bahwa Mandar itu menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Islam.


Meski pengampu ilmu Nahwu-Shorof di wilayah tersebut hidup serba terbatas, tapi dengan ketulusan dan pengharapan ridha Allah Swt, mereka dengan ihlas mengajar orang-orang  yang datang dari daerah lain (di luar Mandar), serta merelakan rumah mereka untuk ditempati menginap oleh sang murid. Demikian pula, hal yang sama juga ditemukan di daerah Pambusuang Kecamatan Balanipa, Pengajian dan pengkajian agama tidak hanya dilakukan di masjid-masjid secara berjamaah, tapi juga di rumah-rumah Annangguru (kyai).

Di Mandar nilai kegamaan jauh lebih berkembang, ketimbang isu-isu mistik yang tidak rasional itu. Meski penulis sendiri yakin akan adanya dunia mistik, namun itu sangat jarang terjadi, dan itu pun biasanya hanya tersiar dari kabar yang tak jelas sumbernya. Dan bahkan sampai hari ini, penulis sendiri belum pernah menyaksikan langsung fenomena mistik yang sering diungkapkan oleh orang-orang di luar Mandar itu.


Olehnya itu,  melihat Mandar tidak hanya cukup dengan stigma, tanpa melihat secara utuh nilai dan tradisi keagamaan yang berkembang di tanah Mandar. Jika demikian, lalu kenapa muncul stigma buruk tentang Mandar? Entahlah, boleh jadi hal itu disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang Mandar.


Keterbukaan
Dalam sebuah pasang orang-orang Mandar disebutkan bahwa; “Mua' didundumi uai marandanna to Mandar, to Mandarmi tu'u tau, andiammi tau mala sikira-kira adae"  yang artinya kurang lebih sebagai berikut; Bila air jernihnya orang Mandar sudah diminum, maka kita sudah termasuk orang Mandar, dan itu berarti kita tidak bisa untuk saling berburuk sangka, apalagi sampai mencari keburukan. (Idham, 2008 :22)


Dalam pasang tersebut tergambar sangat jelas betapa orang Mandar itu sangat menghargai orang luar, karena  jangankan untuk menyakiti, berburuk sangka saja kepada orang yang telah meminun air putih orang Mandar sudah haram hukumnya. Tentunya  ini sekaligus menandakan bahwa orang-orang Mandar itu sangat terbuka dengan orang lain, bahkan saking terbukanya, ada anekdot yang mengatakan bahwa kekayaan alam orang-orang Mandar itu dinikmati oleh  orang-orang luar, mereka berinvestasi di Mandar, tapi hasilnya atau uang dari hasil investasi tersebut, tidak beredar di tanah Mandar tapi di Kota Makassar.

Selain itu, di Mandar, kehidupan masyarakatnya juga dikenal sangat multikultur. Hampir semua etnis di bangsa ini bisa ditemukan di wilayah tersebut. Sejak dulu mereka hidup rukun dan damai, tak satupun di antara mereka merasa dipinggirkan. Apalagi sampai mengeluhkan  mistik yang menurut orang luar Mandar cukup menakutkan itu. Meski demikian, tetap saja stigma miring itu terus terproduksi sampai saat ini, khususnya bagi mereka yang belum pernah berkunjung ke Mandar dan hanya meyakini info tentang Mandar dari orang lain.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Berita Terkait