Meneladani Imam Syafi'i

01 Jul 2016, 10:27:08 WIB || Editor:-Opini

Meneladani Imam Syafi Gambar via; jalanlurus.id

Oleh

Hasibullah Satrawi

(Penulis adalah Alumnus Al-Azhar Kairo, Mesir, peneliti pada Moderate Muslim Society (MMS) Jakarta

Wahai Abu Ishak, janganlah Engkau mengikuti semua kata-kataku. Ikutilah yang sesuai dengan dirimu. Karena ini berkaitan dengan agama.

Muhammad Sallam Madkur mengutip pernyataan Imam Syafii di atas dalam kitabnya yang berjudul Tarikhu At-Tasyri'Al-Islsmiy wa Mashadiruhu (Kairo, hal. 124). Ini adaIah pesan dari Imam Syafi'i kepada semua pengikutnya (khususnya Abu Ishak) agar tidak menaklid pandangannya secara membabi buta. Abu Ishak adalah salah satu murid sekaIigus ”teman diskusi” Imam Syafi'i.

Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafi'i di atas, sejatinya seseorang tidak terperangkap pada sikap taqlid (mengikuti pandangan) secara membabi buta, terutama dalam hal-hal yang bersifat keagamaan. Hal ini tak berarti pandangan Imam Syafi'i atau imam lainnya lemah, melainkan karena masing-masing orang mempunyai pandangan, konteks dan kemaslahatannya sendiri-sendiri.

Pesan di atas juga menyisipkan hal yang sangat penting untuk diteladani oleh kita semua, yaitu sikap mengapresiasi dan menghormati keragaman pendapat yang ada. Pesan di atas menunjukkan kesadaran dan kearifan Imam Syafi'i dalam menyikap hal-hal yang bersifat keagamaan; bahwa masing-masing pihak mempunyai konteks dan kemaslahatannya sendiri-sendiri; bahwa suatu ajaran akan ditafsir dan dipahami dalam banyak pandangan (sesuai dengan kemampuan dan konteks yang ada); dan bahwa semua perbedaan itu sejatinya dihormati dan diapresiasi.

Tentu saja hal ini tak berarti bahwa Imam Syafi'i meragukan keabsahan dan kekokohan pandangannya sendiri. Imam Sayfi'I sangat yakin atas keabsahan dan kebenaran pendapatnya. Namun keyakinan ini tak membuat Imam Syafi‘i menutup mata dari adanya pandangan-pandangan yang berbeda.

Itu sebabnya beliau mengakatan dalam kesempatan yang lain, Pandaganku benar, tapi ada kemungkinan salah. Sedangkan pandangan orang lain salah, tapi juga ada kemungkinan benar.

Dalam konteks keragaman dan menghormati pandangan-pandangan yang ada, Abu Zahrah menempatkan Imam Syafi'i sebagai imam mazhab yang fenomenal. Tidak hanya karena beliau tampil sebagai tokoh pertama yang secara resmi menteoritisasi ilmu fikih, lebih dari pada itu, karena beliau terkenal banyak mempunyai pandangan dalam satu permasalahan. Pada masa tertentu Imam Syafi'i membiarkan pandangan-pandangannya tersebut terbuka tanpa ada penjelasan lebih lanjut mengenai pandangan yang diutamakan oleh beliau (As-$ydfi’i, Kairo, 1948:32O).

Fenomena qawul qadim (pandangan lama) dan qawul jadid (pandangan baru) cukup membenarkan pandangan Abu Zahrah di atas. Pandangan lama adalah hasil ijtihad Imam Syafi'I selama berada di Irak. Sedangkan pandangan baru adalah hasil ijtihad Imam Syafi'i selama berada di Mesir.

Tentu saja, perbedaan dua pandangan Imam Syafi'i di atas bukan karena adanya ajaran yang berbeda atau berubah. Karena Islam secara normatif tidak akan pernah berubah sepanjang masa. Perubahan tersebut terjadi karena perbedaan konteks lokal yang menjadi objek ijtihadnya. Konteks di Irak bukanlah konteks di Mesir. Perbedaan konteks di dua negara Islam tersebut membuat Imam Syafi'i mengeluarkan gagasan baru yang berbeda. Kaidahnya adalah, hukum dapat berubah sesuai dengan perubahan konteks atau latar belakang (al-ahkam yaduru ma'a al ‘illati wujudan wa ’adaman).

Sejarah Keilmuan

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi' yang berdarah tulen suku Quraiys. Imam mazhab yang Iahir pada tahun 767 M/150 H di Kota Gaza (Palestina) ini kemudian Iebih dikenal dengan sebutan Imam Syafi'i, yaitu dinisbahkan kepada embahnya yang ketiga bernama Syafi'.

Setelah berumur dua tahun, Imam Syafi'I dibawa oleh ibunya ke Kota Mekah (tempat kelahiran para pendahulunya). Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas. Ulama yang meninggal dunia pada tahun 820 M/767 H ini sudah hafal Al-Quran semenjak umur 7 tahun. Dan pada usia 10 tahun beliau sudah hafal kitabAl-Muwattha' yang dikarang oleh lmam Malik.

Imam Syafi'i belajar tentang ilmu keislaman ke banyak ulama besar di pelbagai macam aliran pemikirannya. Di Mekah beliau belajar langsung kepada ulama-ulama besar, seperti Syeikh Muslim bin Khalid Az-Zanji, Syeikh Sufyan bin 'Uyaynah AI-Hilaliy dan lain sebagainya. Beilua juga belajar langsung kepada Imam Maiik di Madinah. Bahkan beliau juga mempelajari pandangan-pandangan Imam Abu Hanifah di Irak melalui muridnya, Muhammad bin Hasan.

Dengan kata Iain, ada dua model aliran ilmu keislaman pada saat itu yang membentuk keilmuan Imam Syafi‘i. Yaitu aliran ilmu keislaman yang cenderung tekstualis dan aliran ilmu keislaman yang cenderung rasionalis. Aliran tekstualis berpusat di Madinah dengan menampilkan Imam Malik sebagai guru utama. Sedangkan aliran rasionalis berpusat di Bashrah dan kota-kota lrak lain pada umumnya dengan menampilkan Imam Abu Hanifah beserta murid-muridnya sebagai guru utama.

Kekuatan utama aliran tekstualis adalah teks, baik teks dalam arti Al-Quran, Hadis, atau pun perkataan sahabat Nabi.Hal ini bisa dipahami, mengingat kota Madinah sangat kaya dengan teks keislaman. Di kota Nabi ini, sebagian ayat Al-Quran diturunkan. Dan di kota ini pula, perkataan, perbuatan, dan sepak terjang Nabi Muhammad SAW secara umum terekam dengan sangat jelas. Terlebih lagi dengan banyaknya para sahabat yang bermukim dikota suci itu.

Adapun aliran rasionalis menjadikan akal sebagai kekuatan utama mereka. Aliran ini berpusat di Irak dan kota-kota besar di sana pada umumnya. Dari segi intelektualitas, lrak memang tidak kalah dari Madinah dan kota-kota terkenal lain saat itu. Namun dari segi teks keislaman, Irak tidak ada apa-apanya dibanding kota Nabi itu. Madinah kaya dengan teks keislaman, sedangkan Irak miskin dari teks keislaman. Setidak-tidaknya bila disbanding dengan kota Madinah.

Madinah bertaburan para sahabat, sedangkan Irak hanya dikunjungi sebagian kecil sahabat Nabi. Itu pun di masa belakangan, yaitu di masa kekuasaan sahabat Utsman bin Affan ra. (penguasa ketiga dalam Islam) ketika beliau menganulir kebijakan khalifah kedua (sahabat Umar bin Khattab ra.) yang melarang sahabat Nabi agar tidak keluar dari kota Madinah.

Namun Imam Syafi'i tidak mau dikuasai oleh dua aliran ilmu keislaman seperti di atas. Berbekal intelektualitasnya yang sangat tinggi, beliau menciptakan aliran ilmu keislaman tersendiri yang mlerupakan kombinasi dari dua aliran ilmu keislaman di atas. Di satu sisi Imam Syafi'i menggunakan semangat tekstualisme dalam aliran ilmu keislaman di Madinah. Tapi di sisi lain beliau juga menggunakan semangat rasionalisme yang dipelajarinya dari murid-murid Imam Abu Hanifah di Irak.

Kitab beliau berjudul Ar-Risalah yang dikenal sebagai buku pertama dalam sejarah ilmu keislaman yang membahas teoritisasi ilmu fikih cukup menggambarkan pandangan-pandangan Imam Syafi'i yang mengombinasikan dua aliran tekstualism dan rasionalisme. Dalam buku ini, beliau melansir kaidah-kaidah penting dalam fikih, terutama dasar-dasar hukum Islam, yaitu Al-Quran, Sunnah, Ijma' dan Qiyas. Dalam konteks kehidupan umat Islam di Indonesia yang mayoritas menganut mazhab Imam Safi'i, sepak terjang keilmuan dan kearifan beliau seperti di atas perlu diteladani bersama. Hingga umat Islam tidak terjauhkan dari tuntunan-tuntunan agung yang terdapat dalam agama ini. Dan lebih daripada itu, agar perbedaan-perbedaan ijtihad yang ada tidak membuat umat Islam terpecah belah yang hanya membuat umat ini semakin terbelakang.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook