Mengenal “Tuan di Tanase”, Penyebar Islam di Tanah Mandar

Opini

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Muhammad Arif
(Pekerja sosial, tinggal di Paropo, Mombi Sulawesi Barat)

Desa ini dikenal sebagai negeri beras merah dan surganya buah durian, itulah Puppu’uring. Desa yang terletak di wilayah utara Kecamatan Alu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Di balik bentangan buminya yang subur dengan letak geografis yang didominasi alam pegunungan yang menghijau, serta dialiri sungai yang jernih, terdapat sebuah kampung yang menawarkan kesejukan ruhani yang tak terlukiskan: Tanase nama kampung itu.


Kampung Tanase adalah sebuah dusun yang terdiri dari puluhan rumah yang tepat berada di kaki gunung. Di atas gunung terdapat sebuah petilasan atau tempat peristirahatan terakhir salah satu penyebar Islam di tanah Mandar (terutama di Kerajaan Alu dan sekitarnya), dan umumnya orang di Mandar menyebutnya Tuan di Tanase. Ia adalah seorang Ulama dengan kedalaman ilmu spritual yang luar biasa. Bahkan diyakini merupakan seorang wali yang sengaja diutus ke tanah Mandar untuk menyebarkan risalah ke Islaman.

Sang wali diketahui berasal dari Banda Aceh Pulau Sumatera. Dari sejumlah keterangan warga di Tanase, penulis mendapati bahwa Tuan di Tanse yang memberi nama kampung tersebut dengan sebutan Tanase, yang berarti Tanah Aceh.

“Beliau dari Banda Aceh, datang menyebarkan Islam disini, beristri orang disini dan beliau pula yang menamai perkampungan ini dengan nama Tanase, yang berarti Tanah Aceh, “ ujar Jamal Kepala dusun Tanase kepada penulis, minggu 11 juni 2016, tepat 15 Ramadhan 1438 Hijriah. Waktu itu, pak Jamal menemani penulis nyekar (berziarah) di petilasan Tuan di Tanase, yang kurang lebih 300 meter jaraknya dari perkampungan warga.

Petilasan yang berukuran sekitar satu meter setengah itu diatasnya terdapat dua buah batu berbentuk lonjong. Kemudian, disitu terdapat pula keramik tanah berwarna coklat tempat pembakaran kemenyan. Kemudian petilasan lantainya dialasi campuran semen dan pasir berukutan 3x3 meter, serta beratapkan seng yang sudah mulai tampak lusuh. Dengan tiga tiang penyangga sebagai penopang, petilasan itu berada dibawah pepohonan jati yang rindang dan sejuk.

Disamping petilasan Tuan di Tanase, terdapat makam yang menurut pak Jamal adalah mendiang istri dari Tuan di Tanase, yang kala itu diperistri oleh beliau. Hasil pernikahan dengan istrinya inilah yang Kemudian keturunannya telah turun temurun bermukim di Tanase.

Warga Desa Puppuuring, banyak yang tak tahu nama asli salah satu wali penyebar Islam di tanah Mandar ini. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui. Warga Tanase sangat merahasiakan namanya. Bahkan mereka meyakini, jika dalam kondisi sulit, mengingat namanya saja dalam hati, akan ada segera pertolongan Allah yang datang. Demi menghargai warga dan para keturunannya, penulis tak mencantumkan nama asli Tuan di Tanase dalam catatan singkat ini.

Berbeda dengan makam wali pada umumnya, petilasan tersebut bukan tempat dimana Tuan di Tanase dimakamkan. Melainkan hanya sebagai tanda dimana beliau terakhir berjumpa dengan warga. Menurut penuturan pak Jamal, Tuan di Tanase sebelum menghilang, ia sudah berpesan kepada warga Tanase, bahwa jika ingin mencarinya cukup datang dimana ia terakhir dilihat oleh warga. Apa yang pak Jamal ceritakan berdasarkan isi lontar warisan para leluhur di Tanase yang masih tersimpan rapi hingga sekarang.


Semasa dengan Tuan di Bulo-bulo.

Jika dilacak masa hidupnya, Tuan di Tanase menyebarkan islam di tanah Mandar sekitar abad ke XVII. Kala itu, adalah masa pemerintahan Raja Balanipa IV, Daetta Kenna I Pattang. Tuan di Tanase semasa pula dengan Tuan di Bulo-bulo, yang menurut sejumlah sumber adalah penyebar Islam di bumi Pitu Ulunna Salu, yang peristirahatan terakhirnya bisa kita jumpai di kampung Bulo-bulo Desa Besoangin, Tubbi Taramanu, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Meski banyak juga yang meyakini, makamnya berada di dusun Tibung, yang juga secara administratif adalah wilayah Desa Besoangin.

Tuan di Tanase dan Tuan di Bulo-bulo merupakan dua sahabat karib yang memiliki maqam keilmuan agama yang cukup tinggi. Umumnya beberapa wali, keduanya juga dikenal memiliki karomah yang luar biasa. Berdasarkan penuturan sekretaris desa Puppu’uring, Tarsan yang penulis sambangi di rumahnya di dusun Tologo. Pak Tarsan acapkali mendengar cerita dari para sesepuh tentang karomah Tuan di Tanase yang sudah turun temurun diyakini warga. Dari penuturan Pak Tarsan, pernah suatu ketika Tuan di Tanase dan Tuan di Bulo-bulo melaksanakan salat di atas daun pisang. Tuan di Bulo-bulo berada diatas daun, sedangkan Tuan di Tanase berada di bawah daun tersebut.

“Cerita yang pernah saya dengar dari masyarakat, Tuan di Tanase dan Tuan di Bulo-bulo pernah salat bersama di atas daun pisang yang masih utuh di pohonnya. Yang satu berada diatas daun, satunya lagi berada di bawah daun,” tutur Tarsan yang juga sangat meyakini keistimewaan para wali tersebut.

Beras merah dan Berkah Tuan di Tanase

Beras merah dan buah durian adalah hasil bumi yang menjadi primadona di Desa Puppu’uring. Sebagai bentuk penghargaan kepada Tuan di Tanase dan sebagai cara untuk meraup berkah Tuan di Tanase secara terus menerus, maka di Desa Puppu’uring ada ritual tahunan di petilasan sang wali. Biasanya, ketika hendak memulai “mattanang” atau menanam padi, seluruh warga akan berbondong-bondong meminta berkah di petilasan Tuan di Tanase.

Warga meyakini akan berkah penyebar Islam ini. Mereka kemudian mengadakan doa bersama meminta rezki dari Tuhan melalui perantara Tuan di Tanase. Warga berharap dengan berkahnya, tanaman akan tumbuh subur dan menghasilkan panen padi (beras merah) yang berkualitas. Beras merah inilah sebagai konsumsi pangan warga di desa Puppuuring. Dari informasi yang penulis himpun, padi yang ditanam itu melalui proses yang alamiah. Tidak menggunakan pupuk atau bahan pestisida lainnya. Dan tidak untuk diperjual belikan.

“Iya, setiap tahun warga desa akan berbondong-bondong berziarah di petilasan Tuan di Tanase, sebelum menanam padi, terlebih dahulu warga akan meminta berkah dari Tuhan dengan berdoa disana,” ujar Ahmad warga kampung Siapper desa Puppuuring.
Itulah catatan singkat penulis mengenai Tuan di Tanase. Penyebar Islam di tanah Mandar yang mungkin sebagian orang belum mengenal namanya. Meski belum mengulas secara detail tentang sosok dan karya-karya luhurnya serta peninggalan-peninggalan lainnya. Tetapi paling tidak dapat menjadi kran pembuka untuk menarasikan sosok agung beliau selanjutnya, bagi penulis atau pun penulis lain yang tertarik untuk mengenal lebih dekat tentang sosok Tuan di Tanase.

Zaman berganti, penguasa berubah, raja demi raja berlalu, dan kini era teknologi informasi. Namun yang pasti, bagi warga Puppu’uring, sang wali akan tetap hidup dan menyatu dengan kehidupan masyarakat di Tanah Mandar. Semoga catatan singkat ini, bermanfaat bagi siapa pun yang meluangkan waktu untuk membacanya. Terlebih lagi bagi diri pribadi penulis. AL FATIHA.