Mengenal Lebih Dekat Potensi Wisata Toraja

Kolom

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Oleh

Siti Zahra

Berwisata seharusnya tidak hanya sekadar menikmati keindahan alam sambil selfie, ataupun sekadar berburu kuliner khas suatu daerah. Karna lebih dari itu berwisata akan mendekatkan kita pada alam, dan akan mengenalkan kita akan kekayaan budaya dan sumber daya alam produktif yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sehingga berwisata akan menambah wawasan pengetahuan, bukan hanya pengetahuan akan keindahan daerah wisata tersebut, namun pengetahuan akan kekayaan budaya, alam, serta pengetahuan kondisi ekonomi dan politik daerah wisata tersebut.

Demikian halnya dengan daerah Tana Toraja. Toraja yang terkenal sebagai daerah pariwisata sangat membanggakan kaindahan alamnya. Bukan hanya keindahan alamnya, namun adat dan kebudayaan penduduk Toraja memiliki keunikan dan kekayaan makna yang menarik untuk di kenal lebih jauh. Kebudayaan itu kemudian menjadi kekayaan wisata bagi daerah Toraja.

Misalnya seperti pekuburan tua yang ada di Tana Toraja di desa Kete’ Ke’su yang telah menjdi objek wisata di Tana Toraja.  Hal yang menjadi daya tarik pada tempat ini adalah terdapatnya peninggalan purbakala berupa kuburan batu yang berbentuk perahu. Kuburan batu tersebut berisi tengkorak dan tulang belulang manusia yang diperkirakan telah ratusan tahun lamanya. Sebagian besar kuburan tersebut  tergantung di dinding-dinding goa.

Selain itu, di kawasan ini pula terdapat beberapa rumah adat Toraja yang disebut Tongkonan yang diperkirakan berusia 300 tahun. Menariknya, selain keunikan dari rumah adat ini, salah satu dari rumah adat trsebut dijadikan sebagai museum yang didalamnya terdpat beberapa koleksi benda adat kuno Toraja, seperti senjata tajam, keramik, bendera merah putih pertama yang dikibarkan di Toraja, patung berbagai ukiran dan kain dari cina. Disekitar kawasan wisata inipun akan di temui beberapa penjual sofenir khas Toraja.

Tidak hanya di Kete’Kes’su, pemandangan yang hampir samapun dapat di temui di kawasan wisata Londa. Londa merupakan salah satu wisata di Toraja yang paling populer dikunjungi wisatawan.  Pada wisata ini, wisatawan akan menemui peti mati yang berjejer di tepi dinding bukit batu serta patung-patung manusia. Selain itu terdapat pula sebuah makam goa yang berusia ratusan tahun. Iklim alam yang masih sangat alami serta hutan yang terkesan liar, menambah suasana mistis dikawasan tersebut.

Salah satu kawasan wisata di tana Toraja yang wajib untuk dikunjungi pula adalah wisata Negeri Diatas Awan. Gumpalan awan yang menutup sebagian kampung Lolai Toraja ini, akan memanjakan mata wisatawan. Dengan berada dipuncak gunung Lolai, wiasatawan akan menemukan hamparan awan yang padat, lebih rendah dari tempat kaki berpijat, memberi kesan seolah kita berada di negeri atas awan. Pancaran sinar matahari pagi yang muncul dibalik awan, menambah keindahan alam yang tersajikan didepan mata. Namun pemandangan tersebut hanya dapat dinikmati saat pagi saja, sehingga sebagian wisatawan memilih memasang tenda ataupun menginap di rumah-rumah warga sekitar untuk dapat menyaksikan dan merasakan langsung berada di negeri atas awan.

Kekayaan adat budaya di Toraja telah membentuk Toraja menjadi daerah wisata adat. Pekuburan tua seperti Kete’kesu dan Londa merupakan wisata yang terbentuk dengan kekayaan adat dan budaya penduduk Toraja. Kebiasaan dan kepercayaan para nenek moyang  penduduk Toraja, yang menagabadikan mayat dan menempatkannya ditempat-tempat yang tinggi atau di dalam goa, seperti yang dilihat pada pekuburan-pekuburan tua yang berada dalam goa dan dinding goa londa dan kete’kesu, menjadi manufer kekayaan wisata Toraja sekarang.

Banyak pula wisatawan, reporter dan peneliti yang tertarik untuk mengetahui dan mengkaji lebih dalam  mengenai kebudayaan dan adat istiadat yang ada di Tana Toraja. Misalnya seperti budaya upacara Pesta Mati yang biasa disebut  Rambu Solo.  Upacara ini digelar untuk meghormati dan mengantar arwah jenazah menuju tempat peristirahatan abadi bersama para leluhur  mereka. menariknya,  orang yang meninggal akan dianggap benar-benar meninggal ketika upacara seluruh rangkaian prosesi upacara Rambu Solo ini telah terselesaikan. Sehingga sebelum prosesi adat ini selesai, maka jenazah akan tetap dianggap sebagai mahluk yang hidup dan diperlakukan layaknya seperti orang yang hidup, misalnya seperti diberi makan dan diajak bicara. Selain itu upacara ini mewajibkan adanya penyembelihan kerbau, dan kerbau yang disembelipun hanyalah kerbau bule atau Tedong Bonga yang harganya bisa mencapai puluhan sampai ratusan juta. Upacara Rambu Solo ini merupakan upacara kematian yang bisa menghabiskan biaya ratusan bahkan milyaran rupiah.

Terdapat pula Tradisi Ma’nene di tana toraja. tradisi ini cukup unik dan menyeramkan, dimana mayat yang telah meninggal bertahun-tahun dapat bangkit kembali dan berjalan menuju rumahnya. Mayat tersebut merupakan mayat yang telah disemyamkan

dan diawetkan selama bertahun-tahun pada tebing-tebing tinggi dan kuburan batu. Diwaktu tertentu, mayat tersebut akan diturunkan dan diberi pakaian baru oleh keluarga, bahkan kadang diberi mantra yang hanya penduduk Toraja yang bisa melakukan, sehingga mayat itu bisa berjalan menuju rumahnya. Perlakuan tersebut merupakan bentuk penghormatan yang tinggi pada keluarga dan leluhur yang telah meninggal.  Bagi masyarakat Toraja kematian adalah sesuatu yang harus dihormati dan disakralkan, sehingga jenazahpun harus tetap diberi penghormatan. Tradisi Ma’nene ini merupakan salah satu bentuk penghormatan penduduk Toraja kepada keluarga atau leluhur yang telah meninggal.

Selain kekayaan tradisi, di Tana Toraja juga terkenal dengan kenikmatan kopi yang dimilikinya, Tidaklah lengkap apabila ke Tana Toraja hanya sekedar menikmati alam dan mendalami adat budaya yang ada, tanpa menikmati suguhan kopi khas Tana Toraja. dalam acara pembukaan International Barista Competition pada tanggal 16 Desember 2016 yang lalu, bupati Toraja bapak Nico Biringkanae m  engatakan bahwa selain dapat menikmati buah kopi, daun kopi ditana Torajapun dapat dinikmati pula, dan bahkan kalau bisa, tahun depan akar dari kopi Tana Torajapun dapat dinikmati. Selain itu melalu sambutannya pada acara tersebut, bapak Bupati Nico mensosialisasikan untuk melakukan afternoon kopi, yaitu menikmati kopi Toraja saat sore hari.

Bukan hanya kopi, ketika menelusuri desa-desa yang ada di Tana Toraja, hamparan persawahanpun akan kita temui. sebagian dari penduduk di desa masih mengandalkan bertani sebagai sumber mata pencaharian. Selain itu tanaman bambupun menjadi salah satu kekayaan alam milik Toraja. maka tidak heran apabila terdapat banyak pengrajin yang memanfaatkan tanaman bambu ini untuk dijadikan sofenir-sofenik khas Toraja.

Terdapat pula warisan dari lelulur Toraja yang melegenda di Sulawesi Selatan yaitu tenun Khas Toraja. pengrajin tenun khas Toraja dapat kita temui di desa Sa’dan Malimbong Toraja. tenunan khas Toraja diproduksi dengan menggunakan alat tradisional dan bahan alami asli daerah setempat, berupa kapas yang diolah menjadi benang  dengan menggunakan beras merah. Saat berkunjung kedaerah ini wisatawan dapat langsung menyaksikan proses pembuatan kain tenun bahkan dapat mencoba untuk menenun langsung. Kain tenun yang telah jadi dengan berbagai motif khas Toraja memiliki variasi harga, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Tana Toraja hanyalah bagian kecil akan gambaran keindahan dan kekayaan Indonesia. Bukan hanya kekayaan alam, namun keunikan dan keberagaman adat budaya yang dimiliki menjadi bagian kekayaan itu sendiri. Sehingga tidaklah mengherankan apabila banyak Negara-negara luar yang mengincar dan menginginkan Indonesia.  Mulai dari pengincaran kekayaan sumber daya alamnya sampai pada pengklaiman kekayaan adat budayanya itu sendiri.

Luasnya wawasan pengetahuan akan kekayaan alam dan tradisi bangsa Indonesia akan meningkatkan rasa bangga dan cinta untuk negeri ini. Dari rasa bangga dan cinta tersebut akan mendorong sikap penjagaan terhadap bangsa ini. Dengan demikian menguatkan eksistensi dan melestarikan tradisi dan budaya, menghargai dan menjaga keberagaman serta menjaga kekayaan alam Indonesia adalah bentuk kecintaan dan penjagaan kita terhadap Indonesia. Sebagaimana yang dilakukan penduduk Toraja dalam menjaga tradisi, adat dan budaya daerahnya, memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dimiliki tanpa merusaknya, serta menjaga kedamaian dengan membumikan sikap toleransi beragama, sehingga di Tana Toraja tetap aman dan damai walaupun dengan berbagai perbedaan keyakinan yang ada.