Mudik : Jalan Spritualitas Kemanusiaan

04 Jul 2016, 14:52:12 WIB || Editor:sesi.comOpini

Mudik : Jalan Spritualitas Kemanusiaan 

Oleh: lukman rahim

(Field Officer Bina Desa Jakarta Untuk Sulawesi Barat)

bulan yang penuh ampunan ini tak terasa tinggal beberapa hari lagi kita akan berpisah, tak ada jaminan apakah kita masih diberi kesempatan oleh ALLAH SWT untuk bertemu lagi dengan bulan yang penuh rahmat ini ditahun berikutnya, terlepas dari itu, ada yang menarik diakhir Ramadan, biasanya menjelang akhir Ramadan atau persisnya mendekati hari lebaran idul fitri seperti ini, jalan besar itu ramai, macet, kendaraan dengan bermuatan penuh lalu lalang, kendaraan roda duapun terkadang melebihi kapasitas angkutnya berjejer menyusuri jalan. di Bandara, terminal, pelabuhan dan stasiun, orang rela berdesak-desakan antri tiket dan bahkan banyak yang rela tidur diterminal demi mendapatkan tiket untuk pulang kampung, suasana seperti ini orang menyebutnya mudik, mudik tradisi yang lahir di negara berkembang khusus negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Mudik adalah kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik sebagai ajang untuk melepas rindu merupakan nilai-nilai primordialisme yang bersifat positif, karena pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga melepas rindu dengan orang tua.

Mungkin suasana mudik tahun ini sedikit berbeda dengan mudik tahun-tahun sebelumnya, karena bahan ceritapun akan makin beragam, kalau biasanya percakapan hanya terkait soal pekerjaan atau susah senangnya kehidupan di kampung orang, kali ini  mungkin akan seru dengan gelak tawa dan tangis dari kemanakan dan cucu - cucu baru.

Rasa rindu yang sekian lama terpendam oleh kerasnya kehidupan di kampung orang, membuat mudik menjadi perjalanan spirtual yang luar biasa atau dalam istilah Emha Ainun Najib mudik sebagai upaya memenuhi tuntutan sukma untuk bertemu dan berakrab-akrab dengan asal-usulnya yang penuh dengan rasa kemanusiaan.

Karena Ditengah zaman globalisasi yang serba individualis, oportunis seperti saat ini, menjadikan senyum sapa salam menjadi barang langkah bahkan hampir punah, dikota-kota besar rasa curiga terhadap satu sama lain sudah menjadi budaya, maka mudik yang hadir dalam setiap tahunya, merupakan penumbuhan kembali rasa kemanusiaan sebagai mahluk sosial ciptaan Tuhan, semakna dengan apa yang dilontarkan Jalaluddin Rakhmat yang penulis kutip, menganggap bahwa mudik lebaran sebagai sebuah perjalanan melintasi dimensi waktu karena di saat manusia merasa menjadi modern dibarengi dengan kehilangan rasa kemanusiaannya, maka tak ada lagi ruang kasih sayang dan emosi manusiawi yang ditebarkan bagi manusia lainnya, sehingga yang muncul adalah perangai kasar yang mementingkan diri sendiri dan agresif, sikap yang telah mengrogoti sendi-sendi kehidupan anak-anak bangsa saat ini diperlukan terapi yang sifatnya massal, terapi yang diberikan haruslah menghilangkan semangat individulis ke semangat kekeluargaan yang spritual, dalam hal ini, spritual mudik setidaknya mengingatkan kita akan keluhuran manusia yang memiliki semangat asal. Karena melalui mudiklah, kita sebenarnya diingatkan kembali kepada awal kejadian kita, dimana untuk pertama kalinya kita melihat dunia, mencenungi saat dikandungan ibu.

Dalam konteks Sulawesi Barat sendiri tanah kelahiran penulis, mudik belumlah semasif dengan pulau jawa atau beberapa daerah lain, namun jika melihat dinamika yang terjadi di bumi mala’bi saat ini yang terus berkembang, tidak menutup kemungkinan satu dasawarsa kedepan akan terjadi seperti di daerah lain, daerah dimana nilai kemanusiaan tersandra oleh kalkulasi materi, dimana hasrat direproduksi sehinggah memungkinkan terbentuknya sikap individualis, oportunis yang disebabkan kerasnya kehidupan ditengah hantaman gelombang besar globalisasi.

Sekali lagi Mudik merupakan oase ditengah gurun gersang kemanusiaan, mudik adalah jalan yang mengantarkan kita kepada penyempurnaan ibadah puasa kita dalam memaknai hari yang fitra,  bagi penulis sendiri mudik bukanlah seberapa jauh anda datang kembali, seberapa banyak harta yang anda bawa pulang untuk dibagi - bagikan, tapi yang patut jadi pertanyaan, seberapa dalam kita memahami nilai-nilai silaturahmi yang terjadi saat kita kembali di tengah-tengah kerinduan keluarga kita.?  Wallahulmuafiq illaa aquamiq tharik,




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook