Mudik; Ritual Tahunan Masyarakat Perkotaan

Opini

Editor Suaib Amin Prawono


Oleh; Suaib Amin Prawono

(Koord. Jaringan GUSDURian Sulselbar)

Ada dua fenomena yang kerap terjadi di penghujung bulan Ramadan, khususnya di wilayah perkotaan. Pertama; berkurangnya shaf-shaf jemaah di Masjid-masjid dan ramainya pusat perbelanjaan seperti mal, super market dan toko-toko pakaian. Masyarakat tumpah ruah di pusat-pusat perbelanjaan guna memenuhi hasrat lebaran mereka. 

Fenomena ini tentunya menjadi pemandangan yang cukup kontras di akhir Ramadan, karena sejatinya, masjidlah yang harus diramaikan, apalagi Ramadan sebentar lagi akan beranjak pergi dan belum tentu Ramadan yang akan datang menjadi milik kita. 

Kedua, fenomena yang terjadi di penghujung Ramadan adalah mudik. Setiap tahun  mudik selalu menjadi perbincangan menarik. Tradisi menjelang lebaran ini seolah telah menjadi ritual tahunan dan nyaris tidak pernah absen dari dunia pemberitaan, baik media cetak maupun elektronik.

Puluhan dan bahkan ratusan alat transfortasi disiapkan oleh pemerintah untuk melayani para pemudik tersebut. Menurut Syafruddin Azhar (2015) Fenomena mudik lebaran nyaris merupakan suatu "keajaiban" karena tidak ada satu ritus di bangsa ini yang mampu menandingi fenomena tersebut, baik dari segi jumlah maupun gerak massa yang begitu masif, sehingga tidak mengherankan jika mudik juga menjadi  bagian dari “ritus nasional”dimana pemerintah juga ikut terlibat di dalamnya.

Tak hanya itu, jalanan pun mendadak ramai dan penuh sesak oleh arus kendaran pemudik. Akibatnya, kemacetan jalan dan tingginya angka kecelakaan pun kerap kali terjadi, dan nampaknya hal itu sudah menjadi hal yang lazim terjadi dalam setiap perhelatan mudik. Jika demikian, lalu apa sisi menarik dari mudik ini, sehingga setiap tahun orang-orang di bangsa ini rela berdesak-desakkan, terjebak macet dan bahkan siap berhadapan dengan barbagai macam resiko?  

Tentunya tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebab mudik bukan hanya sekedar persoalan material semata, melainkan juga bahagian dari ekspresi psikologis masyarakat urban setelah sekian lama tinggal di wilayah perkotaan. Meski tampilan kota dengan segala macam pesonanya menjadi magnet tersendiri bagi mereka, namun dalam waktu-waktu tertentu harus dilupakan karena ada ruang lain yang harus dipenuhi, yaitu pemenuhan rasa rindu.

Rasa rindu itulah yang juga menjadi salah satu penyebab lahirnya tradisi mudik bagi masyarakat desa yang tinggal di wilayah perkotaan. Bagi mereka, mudik bukan hanya sekedar ekspresi kehidupan, dimana manusia menemukan kehatan dan kebahagian karena bisa berlebaran bersama keluarga, tapi juga ada rasa rindu akan suasana kampung halaman, tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Pada konteks ini, mudik tak hanya sekedar ekspresi sosial untuk mendapatkan permaafan lahir dan batin, karena kalau hanya sekedar untuk mencari pintu maaf melalui silaturahmi, tentunya kampung halaman bukan tempat yang pas, sebab interaksi sosial mereka selama ini lebih banyak dilakukan di wilayah perkotaan, dan otomatis di wilayah itu mereka banyak melakukan kehilafan dan dosa yang perlu untuk diminta maafkan. Namun karena semua orang kota mudik, maka maaf pun tak kesampaiaan.  

Oleh karenanya, mudik merupakan persemaian kehangatan hidup karena mampu melihat kembali asal kehidupan secara material serta kembali menemukan kepuasan batiniah dengan berbagai macam nostalgia masa lalu. Inilah ekspresi kaum migran yang terus terjadi setiap tahun di bangsa ini, sebuah ekpresi kehidupan yang mencoba menemukan kembali suasana kehidupan yang khas setelah sekian tahun atau bulan disibukkan oleh berbagai macam rutinitas yang membosankan.

Mudik lebaran menjadi momentum untuk sejenak beristirahat, sambil memenuhi kepuasaan batiniah sebagai bahagian dari naluri kemanusiaan. Mudik sebagaimana yang diungkapkan oleh M.H Ainun Najib adalah episode kehidupan untuk sejenak kembali secara geografis dan kultural dengan menanggalkan zona kehidupan nasional dan global menuju zona kehidupan primordial dan tradisional.