Nasaruddin; Tata Kami, tapi Jangan Jauhkan dari Pembeli

24 Jan 2016, 02:09:03 WIB || Editor:sesi.comSulbar

Nasaruddin; Tata Kami, tapi Jangan Jauhkan dari Pembeli 

Seputarsulawesi.com, Makassar- Dalam beberapa pekan terakhir, tersiar kabar Pemkot Makassar berencana membangun kebijakan baru untuk Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kota Makassar. Rencana kebijakan itu ditempuh setelah Wapres Jusuf Kalla menyampaikan semrawutnya PKL disekitar masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, pada pertengahan Januari lalu.

Mendengar kritikan Wapres JK itu, Walikota Makassar, Danny Pomanto dengan sigap bersikap. Beberapa kali, Walikota Makassar, Danny Pomanto menyebut rencana kebijakan pengelolaan PKL dilakukan dalam bentuk relokasi. Dibeberapa tempat nantinya, PKL akan direlokasi ke tempat yang telah ditentukan.

Lantas, bagaimana respon PKL terhadap rencana itu? Berikut penuturan Nasaruddin (61) salah seorang PKL yang beraktifitas di depan Kampus UNM, JL. AP. Pettarani Makassar, beberapa hari lalu. Kepada seputarsulawesi.com, ia sekaligus menceritakan perjalanan hidupnya sebagai PKL di kota ini.

***
Nama saya Nasaruddin. Lahir di Rabangodu, Bima, NTB pada tahun 1955. Saya menikah dengan Khadijah (50) dan dikaruniai anak tiga orang; Suherman, Sri, dan Novi.

Saya menginjakkan kaki di kota Makassar pada tahun 1970-an silam, setelah saya tamat SMP. Saya merantau ke kota ini untuk mencari hidup. Sebelum bekerja sebagai PKL, saya bekerja sebagai buruh bangunan harian. Bekerja sebagai buruh harian saya lakukan karena pendidikan saya terbatas, hanya punya ijazah SMP. Saat itu, saya kost di Beroangin,  kawasan Paotere.  Bertahun-tahun saya tinggal disana.

Tahun 1982, saya mulai menjalani hidup sebagai PKL disini, disekitar Kampus UNM Jl. AP. Pettarani ini. Untuk saat ini, pendapatan saya setiap hari Rp. 50-60. Itu hanya cukup untuk makan sehari-hari bersama keluarga. Selain menjual makanan dan minuman, disini saya pun membuka usaha tambal ban motor, sejak sepuluh tahun terakhir.

Dari usaha tambal ban motor ini, saya meraup Rp. 10.000 setiap hari. Itu diperoleh dari tambah angin ban motor saja, bukan tambal ban. Karena jarang sekali pengendara motor bocor ban motornya mampir disini.

Saya bersyukur karena sampai kini saya mendapat jatah raskin 15 Kg setiap bulan. Bahkan pada masa pemerintahan Ilham Arief Sirajuddin, kami disini mendapat bantuan Rp. 5 juta pergerobak. Tapi sekali saja, karena dana itu sifatnya dana bergulir. Gerobak kami pun disini adalah bantuan dari pemkot Makassar, era Ilham Arief Sirajuddin.

Gerobak ini hasil kerjasama antara Pemkot Makassar dan pihak Gudang Garam, produsen rokok.Gerobak jualan ini saya tutup setiap jam 01.00 wita. Saya tidur disini, tidurnya persis tidur ayam, karena subuh hari, saya harus buka kembali gerobak jualan ini. Karena keterbatasan modal, semua barang jualan ini statusnya pinjaman dari toko.

Saat ini, saya tinggal di Jl. Daeng Tata dengan rumah beratap dan berdinding seng. Itu sudah lumayan buat saya sekeluarga. Sebelumnya saya sekeluarga pernah tinggal di sekitar lokasi hotel Sheraton selama 10 tahun.  Tetapi digusur, ahirnya saya  pindah ke Jl. Daeng Tata.

Kalau pemkot Makassar mau menata kami (PKL), silahkan, tetapi kami berharap penataan yang diberikan Pemkot benar-benar penataan. Kalaupun Pemkot hendak merelokasi kami, silahkan, tetapi relokasinya jangan jauhkan kami dari pembeli/konsumen. Kalau kami dijauhkan dari konsumen, itu sama saja kami dimatikan secara pelan-pelan. (Kottir/Mirak)

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook