Parakang Juga Manusia

Liputan Khusus

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Seputarsulawesi.com, Makassar - Industri film khas lokal makin hidup saja di kota Makassar, setelah sebelumnya “Uang Panaik”, dan film “Silariang” yang dirilis beberapa tahun lalu, kini film horor “Parakang” juga tayang di bioskop-bioskop tanah air sejak 18 Mei lalu. Film yang ditulis Abdul Rodjak dengan produser 786 Production ini diapresiasi publik Makassar. PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Hasanudin misalnya, menonton bareng (Nobar) Film Parakang bersama kru film di Cinema 21 mal Panakukkang, Kamis (18/5/2017) lalu.

Lantas, apa itu “Parakang”? Masyarakat Bugis-Makassar akrab dengan kisah Parakang. Ditahun 1980-an, di Kabupaten Sidrap, kisah tentang Parakang mewarnai kehidupan warga dikawasan pedesaan sana. Parakang, dikawasan itu difahami sebagai manusia jadi-jadian yang memangsa manusia lainnya, seperti bayi, orang yang sedang sakit, atau perempuan yang sedang melahirkan.

Selain di Sidrap, beberapa daerah di Sulsel juga dikenal Parakang. Seperti di daerah Pinrang, Sinjai, Soppeng, Bulukumba dan juga Gowa. Bahkan di Kota Makassar yang terkenal sebagai daerah metropolitan pun tak lepas dari cerita Parakang. Cerita mengenai Parakang terdengar di Daerah Parang Tambung, Makassar, walau kebenarannya belum bisa dipastikan.

Seperti yang dimuat di Dzargon.com, dikisahkan empat belas orang siswa laki-laki berkungjung dan menginap di daerah Malino, Kabupaten Gowa, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara Poppo (sebutan lokal Parakang) yang muncul di jendela rumah.

Begitupun yang dikisahkan di daerah Pinrang, warga di salah satu desa sempat mengatakan untuk menghindari rumah yang mempunyai loteng berlubang. Lubang yang ada di loteng rumah di percaya sebagai tempat keluarnya penghuni rumah yang diduga menjadi Parakang.

Dikutip dari Segiempat.com, konon manusia jadi-jadian ini memiliki bentuk yang serupa manusia, namun lebih menyeramkan denga mata merah, lidah menjulur keluar, kulit yang dan bisa ditembus dengan benda tajam, kuku memanjang dan tajam. Makhluk jadi-jadian ini bisa berubah kapan saja, Parakang tidak mengenal waktu siang dan malam hari. Namun pada umumnya Parakang baru berubah sepenuhnya pada malam hari.

Parakang pada dasarnya bukan setan ataupun makhluk sebangsa jin melainkan manusia biasa yang mempelajari ilmu hitam sepaerti pesugihan. Sayangnya diceritakan jika ilmu yang didapatkan tidak bisa ia jalankan dengan baik atau gagal mendalami ilmunya. Selain karena faktor ilmu hitam, dikisahkan pula manusia yang menjadi Parakang karena diturunkan oleh orang tuanya.

Ilmu pesugihan biasanya didapat dengan cara meminta kepada seorang ahli ilmu tersebut, adapun syaratnya cukup sederhana yakni calon penerima ilmu hitam hanya mengikuti si empunya ilmu htam ke tengah yang memiliki pohon besar.

Dikisahkan via Setangsumiati.blogspot.co.id, si empunya ilmu dan calon penerima ilmu tersebut berada di dua sisi pohon secara berbeda. Kemudian si empunya ilmu berteriak dengan "Nu ita ma?" (bahasa bugis), atau "Nu cini ma?" (bahasa makassar) yang artinya "Kau telah melihat saya?". Kalimat tersebut terus diulang-ulang disertai dengan membaca mantra yang telah diajarkan si empunya ilmu.

Maksud dari perkataan yang diatas adalah apakah calon penerima ilmu tersebut sudah bisa melihat dukun yang berada disisi lain pohon tersebut dengan kata lain, pandangan si penerima ilmu telah tembus. Ketika hal tersebut terjadi, maka bisa dikatakan ilmu si empunya (ilmu Parakang) telah berpindah kepada penerima ilmu, maka disitulah perjalanan hidup menjadi seorang Parakang di mulai.

Parakang kemudian berubah saat hendak mencari mangsa, menurut cerita beberapa Parakang berusaha untuk melawan hasratnya untuk memangsa manusia lain. Namun perintah untuk memakan orang biasannya muncul di bawah alam bawa sadar. Konon jika mereka menolak untuk memakan orang, maka ketika Parakang tidur mereka akan bermimpi untuk meraih buah pisang yang amat tinggi.

Hasrat untuk makan buah pisang itu semakin dan berusaha sekuta tenaga untuk memakan pisang tersebut. Ketika ia berhasil memakan pisang tersebut akhirnya mereka tidur dalam mimpi. Ketika parangkang terbangun tangan mereka sudah berlumuran darah manusia.

Banyak pula diceritakan, Parakang biasanya mengincar korban anak-anak, ibu hamil, orang tua dan orang sakit. Dikisahkan pada tahun 2008 di Tangkuru, salah satu daerah di Sinjai, Sulsel ditemukan warga meninggal dengan kondisi perut kosong, usus dan isi perut lainnya hilang. Menurut cerita warga sekitar, pada malam sebelumnya terdengar suara lonlongan anjing yang terkesan dibuat-buat, keesokan harinya korban meninggal yang kebetulan sakit dan tidak dijaga.

Lalu bagiamana kemudian untuk menghadapi Parakang, konon Parakang takut dengan tanaman kelor dan Cikkong, nama tumbuhan yang batangnya biasa berbisa kalau dipakai memukul hantu. Cikkong biasanya digunakan oleh orang sebagai tongkat kayu dan harus diambil pada hari jumat tepat tepat jam duabelas siang.

Jika seseorang memukul parakang sekali, disarankan untuk tidak mengulanginya memukul dua kali. Dikisahkan Parakang lebih menderita jika hanya dipukul sekali saja. Namun jika tidak terlalu kuat, Parakang tidak bisa dilawan dengan seorang diri, karena pada dasarnya Parakang juga manusia.

Namun untuk bisa membuktikan sebagai Parakang sangat susah. Selain melihat makhluk jadi-jadian ini sangat langkah dan kalaupun ada yang melihatnya kadang tidak banyak saksi mata. Karena takut terjadi fitnah, biasanya orang dituduh sebagai Parakang hanya sebatas cerita yang antar warga saja.

Cara untuk mebuktikan apakah benar seorang itu Parakang juga sangat susah, maka sangat tabuh sekali untuk menuduh seseorang sebagai Parakang,walau keberadaannya memang ada. Seperti di salah satu daerah di Bulukumba, tepatnya di daerah Kajang dan sekitarnya jika ada yang menuduh seseorang Parakang maka si penuduh harus berani menjalani upacara "Pattunuang Pangrolik" atau membakar linggis sampai warna merah.

Si penuduh kemudian dipersilahkan untuk memegang linggis yang telah dibakar sampai merah, jika tuduhannya benar maka tangannya tidak akan terbakar, namun jika tuduhannya hanya berupa fitnah maka tangannya akan terbakar dan akan dikenakan sanksi adat.

Apakah kemudian ilmu Parakang bisa dihilangkan. Menurut beberapa orang yang telah menjadi Parakang, hal tersebut bisa saja jika si pemilik ilmu Parakang ingin membuang ilmunya dan tak mau lagi menggunakannya. Adapun caraya yakni bisa dengan cara membakarnya ataupun dengan menghanyutkannya di sungai. (Win)