Pengabdian Tanpa Batas

Mengenang Tujuh Hari Wafatnya AGH. Muh. Bakri Kadir

31 Mei 2017, 18:15:53 WIB || Editor:IQ Arsyad Opini

Pengabdian Tanpa Batas 

Oleh:
Mubarak Idrus
(Santri Pesantren Pondok Madinah 1990-1993)



Vespa putih yang menjadi teman setia allahuyarham AGH. Muh. Bakri Kadir saat mengajar kami di Pesantren Pondok Madinah tahun 90-an awal memang menjadi kesan tersendiri bagi santri-santrinya. Suara motor vespa yang sudah sayup-sayup terdengar dari gerbang Pesantren Pondok Madinah, kerap membuat denyut jantung para santri yang sudah memenuhi masjid pesantren berdegup kencang. Tanpa dikomando, para santri mengatur diri masing-masing dalam shaf atau barisan. Denyut jantung para santri semakin tak karuan manakala tubuh Gurutta Bakri telah berdiri di tengah-tengah masjid. Suaranya yang lantang dan keras memberi komando pada salah satu santri untuk adzan semakin membuat suasana di masjid pesantren semakin hening. Khusyu' menyimak suara adzan salah satu santri bercampur dengan perasaan waswas jika nanti di pengajian kitab Jawahir Kalamiyah atau Husunul Hamidiyah selepas shalat tak mampu menjawab pertanyaan Gurutta. Demikianlah, suasana itu kami alami saban seminggu sekali selama tiga atau enam tahun di Pesantren Pondok Madinah.

Rupanya kekhasan Gurutta Bakri saat membawakan pengajian tidak hanya menjadi memori yang paling berkesan bagi para santrinya. Ustad Dr. Syamsu Alam Usman saat menjadi pembawa hikmah takziyah pada malam ketiga wafatnya AGH. Muh. Bakri Kadir menyatakan kekhasan Gurutta menyampaikan ceramah di hadapan para jama'ah. "Ada ciri khasnya Gurutta Bakri saat berceramah yakni turun ke jama'ah dan menunjuk salah satu jama'ah untuk membaca doa harian yang diminta Gurutta," papar ustad Syamsu Alam. "Karena itu pula, tidak sedikit jama'ah yang sembunyi dibalik dinding karena takut ditunjuk Gurutta. Dan hampir semua yang ditunjuk Gurutta untuk melafalkan doa masuk wc misalnya, tiba-tiba lupa dengan redaksi doa yang diminta beliau. Padahal jama'ah tersebut hafal doa itu. Ada juga yang sudah mempersiapkan diri sejak dari rumah dan bilang ke orang-orang jika dirinya sudah siap ditanya Gurutta. Tapi ketika kesempatan itu tiba, jama'ah itu pun tak mampu menjawab Gurutta. Lupa dengan doa yang sudah dihapalkan sejak dari rumah," kata ustad Syamsul Alam. Jama'ah yang menyimak ceramah takziyah itu tenggelam dalam keheningan. Ada keharuan yang menyeruak dalam sanubari para jama'ah.

Paparan ustad Syamsu Alam tersebut tiba-tiba mengingatkan penulis akan satu kesempatan santap siang bersama Gurutta Bakri Kadir di kediaman Ustad H. Taufiqurrahman, menantunya, di PP. Al-Fakhriyah. Saat itu, penulis menjadi khadim di Pesantren yang diasuh beliau. Setelah santap siang, tiba-tiba Gurutta meminta penulis membaca doa setelah makan. Tentu saja sempat gelapan. Khawatir doa yang penulis baca tidak tepat atau keliru redaksinya. Dan alhamdulillah, doa itu penulis selesaikan dengan baik.

Mentransformasikan Ajaran Aswaja

Salah satu yang tak luput dari beliau adalah penanaman ajaran aswaja. Semua santri tentu tak lupa bagaimana Gurutta menanamkan akidah ahlussunnah wal jama'ah, baik melalui pengajian kitab Jawahirul Kalamiyah atau kitab Hushunul Hamidiyah atau pengkaderan-pengkaderan kepada santri-santrinya. Penanaman ajaran aswaja menjadi komitmen beliau hingga di usianya yang sepuh, tetap konsisten mentransformasi ajaran aswaja an-nahdhiyyah.

Dalam satu kesempatan di PP. Al-Fakhriyah, setelah Gurutta mengontrol setiap kelas, penulis kemudian  menemui Gurutta di salah satu ruangan kelas. Saat itu, penulis duduk bersimpuh di hadapan Gurutta. Kepada penulis, beliau menyampaikan pesan singkat. "Nak, baiat baik-baik santri-santrimu." Beliau kemudian mengajarkan kalimat baiat kepada penulis, Rodhitu billahi robban, wa bil islami dinan wa bi muhammadin nabiyyan wa rosulan wattiba'an li ahlissunnah sunnah wal jama'ah an-nahdhiyyah.

Yang secara istiqomah dilakukan Gurutta Bakri hingga akhir hayatnya adalah pengabdiannya yang total untuk dunia pesantren. Tidak sedikit pesantren yang menjadi tempat beliau mewaqafkan ilmunya. Salah satunya adalah PP. Al-Fakhriyah, sebuah pesantren yang terletak di jalur tol Sutami Makassar. Di awal-awal berdirinya pesantren ini, beliau masih mencurahkan ilmunya. Keahliannya dalam bidang Qawa'id Bahasa Arab masih bisa diserap oleh generasi awal pesantren ini. Tekniknya mengajarkan kaidah-kaidah nahwu  dan shorof tidak kalah dengan teman-teman guru yang lulusan dari al-azhar Kairo.

Rabu (24/5) lalu, AGH.Muh. Bakri Kadir wafat meninggalkan keluarga dan semua yang mencintai beliau. Tentu tidak sedikit kenangan orang-orang bersama beliau. Senior penulis, Farid Fahruddin Saenong, salah satu murid kesayangan allahuyarham yang saat ini mengajar di salah satu perguruan tinggi di New Zealand, sudah menuliskan kesannya bersama Guruttta di wall facebooknya. Demikianlah, keluarga, santri dan kolega beliau di Nahdhatul Ulama sebagai ulama yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk pesantren, NU dan umat Islam. Besok rabu (31-5), keluarga, kerabat, santri dan sahabat-sahabat AGH. Muh. Bakri Kadir berkumpul, berzikir dan tahlil atas seminggu berpulangnya ke hadirat Allah Allahuyarham Anregurutta KH. Muh. Bakri Kadir. Alfatihah




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook