Peran Syekh Abdurahim Kamaluddin Terhadap Masuknya Islam di Balanipa

Lipsus

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Al Quran peninggalan Syekh Kamaluddin alias Haji Sande' alias Tosalama di Penanian Yang menyebarkan islam di Wilayah Batetangnga pada akhir tahun 1500 an

Seputarsulawesi.com, Polman - To Salama di Binuang atau Syekh Abdurahim Kamaluddin adalah seorang Waliyullah yang pernah hidup di tanh Mandar pada abad XV. Seperti Wali-wali Allah di wilayah lain, beliau menyiarkan agama Islam di wilayah Binuang yang pada waktu itu diperintah oleh Raja IV Sipajollangi.

Kisah tentang perjuangan dan kekeramatan To Salama di Binuang terus berlanjut hingga turun temurun dan tampaknya menjadi legenda tersendiri di kalangan masyarakat yang bermukim di Pulau Tangnga, tempat Syekh Abdurahim Kamaluddin dan kedua muridnya dimakamkan.

Catatan sejarah yang termaktub dalam naskah lontara Napo Mandar pada halaman 123 menyebutkan "lamodi'e pa'anna na sura'ituan di Benuange lamo mepassallang...". Maksud dadri naskah tersebut, "Inilah surat Tuan di Binuang. Beliaulah yang mengislamkan kami...,. Hikayat tentang Waliyullah Kharismatik ini kemudian dibubukan oleh tokoh sejarah Mandar, Drs. M.T. Azis Syah pada tahun 1994.

Syekh Abdurahim Kamaluddin atau To Salama di Binuang menyiarkan agama Islam di Binuang kemudian menyebarkan ke daerah lain seitarnya seperti Tangnga-tangnga, Allu, Palili serta sebagian besar Banggae.

Sekitar tahun itu pula Syekh Abdurahim Kamaluddin mendirikan pesantren dan masjid sebagai pusat pendidikan agama Islam di sebuah pulau disebut Tangnga-tangnga (sekarang disebut Desa Lambanan). Ketika itu Beliau mengumpulkan 40 pemuda dari kalangan muridnya untuk dididik khusus.

Sebagian pandangan menyebutkan bahwa Islam pertama kali dikenal masyarakat Mandar pada Abad ke- 16 M. Saat itu pertama dari adanya para pedagang dari wilayah seberang yang ke Mandar. Utamanya daerah yang berada di pesisiran.

Konon ketika itu Daetta Tommuane, Mara'dia yang memerinta di Balanipa didatangi oleh Abdurahhim Kamaluddin seorang pembawa siar Islam dari Gowa yang kemudian dikenal dengan sebuatan Tuanta Yusuf alias Tuanta di Binuang sebab terakhir ia berdiam dan meninggal dan lalu dimakamkan di Binuang. (Ibrahim Abbas,1999).

Menurut sejarah, Tuanta di Binuang inilah kemudian yang mula pertama yang menganjurkan dan mengajarkan Islam dengan populis, yakni di tingkat masyarakat bawah. Adapun metode yang digunakan adalah mendirikan pusat-pusat pengkajian dan pengajian ke-Islam-an yang seperti pesantren.

Sepinanggalan Tuanta du Binuang inilah kemudian secara pelan namun pasti penganut agama Islam di Balanipa kian bertambah. Lalu masih pada abad yang sama, di Pamboang juga didatangi oleh dua penganjur Islam dari jawa dan bernama Raden Suryo Dilo dan Syekh Zakariah yang berasal dari Maghreb di daratan Afrika Utara.

Berawal dari situlah kemudian Islam mula pertama dikenal Pamboang yang kernudian diiukuti oleh mar’dia Pamboang yang bergelar Tomatindo Diagamana, yang kalau diiterjemahkan kurang lebih berarti orang yang meninggal ketika ia telah menganut agamanya, yakni Islam.

Laiknya sebuah seruan kerajaan, saat mara’dia Pamboang tersebut memeluk Islam, maka berbondong-bondong pulalah kemudian masyarakat memeluk agama yang dianut oleh sang
mara’dia. Lalu pada abad ke-17 di Salabose Banggae juga Mara’dia Tondo’ juga didatangi oleh Syekh Abdul Mannan yang digelar sebagai Tosalama’ di salah seorang penganjur Islam yang kemudian diamini oleh para petinggi kerajaan di Banggae kala itu.

Namun versi lain juga menyebutkan, bahwa sejarah masuknya Islam di Mandar, tidaklah dapat dipisahkan dari sejarah masuknya Islam di Sulawesi. Hal itu diperkuat oleh berita yang dilansir oleh Anthony de Paiva seorang peclagang Portugis yang pernah berkunjung ke Sulawesi pada tahun 1543 dan menandakan bahwa saudagar-saudagar muslim sudah menginjakkan kaki sebelumnya ditanah Mandar, dan itu terjadi sekitar akhir abad ke-15 M. (Muh. Ridwan Alimuddin, 2003).

Bahkan lebih jauh Muh. Ridwan Alimuddin menulis, sejarah masuknya Islam di Mandar juga menuai banyak pendapat, antara lain, melirik lontar Mandar yang menyebutkan, bahwa
Abdurrahim Kamaluddin-lah yang mula pertama membawa syiar Islam ke Mandar, saat ia mula pertama merapat di bibir pantai Tammangalle. Dan Kanne Cunang atau mara’dia Pallis-lah yang mula pertama memeluk Islam lalu diikuti oleh Raja Balanipa ke-4; Daetta
Tommuane alias Kakanna I Pattang. Pendapat ini kemudian dinilai banyak kekurangannya. Utamanya ticlak clitemukannya keturunan Abdurrahmim Kamaluddin di Mandar.

Sedang menurut Lontar Gowa, Islam pertama kali masuk di Mandar di bawah oleh Tuanta Syekh Yusuf ( Tuanta Salamaka). Menurut pendapat ini pada tahun 1608 seluruh daerah Mandar telah memeluk Agama Islam. Namun tidak jelas benar apakah yang di maksud Tuanta Syekh Yusuf ini juga adalah Syekh Abdul Mannan yang membawa siar Islam di Banggae yang pertama kali diamini oleh Tomatindo di Masigi sekitar tahun 1608 atau bukan.

Sampai disini disebutkan pula, bahwa yang pertama memeluk agama Islam di Banggae adalah Sukkilan yang kuburannya dapat ditemukan di Masjid Raya Majene kini.

Sedang versi lainnya juga menyebutkan, bahwa untuk menapak jejak langkah pertama siar Islam di Mandar juga dapat menilik surat yang dari Mekkah Pada I Muharram 1402 H. yang kalo ditukil, didalamnya menyebutkan tentang, kehadiran seorang Assayyid Al Adiy dan bergelar Guru Ga’de yang berasal dari keturunan Malik Ibrahim.

Surat ini diperkuat dengan kuburannya yang hingga kini juga masih dapat dikunjungi di Desa Lambanan. Dan hingga kini masyarakat masih juga ramai mengunjungi kuburan yang dianggap keramat tersebut.

Belum lagi, sampai saat ini silsilah ketumnan Guru Ga’de yang juga masih berlanjut, seperti dikenalnya nama H. Muhammad Nuh yang tidak lain adalah cucu dari Guru Ga’de yang pada abad ke-18 merupakan orang yang pertama yang memperkenalkan pola
pendidikan pesantren di Desa Pambusuang dan Campalagian.

Sementara itu, penyebaran Islam di Mamuju, Sendana, Pamboang dan Tappalang mula pertama diperkenalkan oleh Sayyid Zakaria dan Kapuang Jawa alias Raden Mas Suryo Adilogo yang tidak lain adalah murid dari Sunan Bonang yang datang dari Kalimantan menyebarkan siar Islam, lalu lanjut ke pulau Sulawesi dan menetap pertama kali di
Mamuju.

Belum lagi banyaknya pemakaman Tosalama’ lainnya di tanah Mandar, yang juga sekaligus dapat membuktikan betapa membuminya Islam di tanah Mandar. Salah satu yang masih ramai dikunjungi oleh banyak orang adalah, di Pulau Tosalama’ di Kecamatan Binuang
Kabupaten polewali Mandar. Dimana ditempat tersebut dan berada di atas puncak ketinggian dikebumikan Syekh Bil Ma’ruf yang juga diyakini adalah salah seorang menganjur Islam di tanah Mandar. Ditempat itu pula, tepat dipintu masuk makam jelas terbaca monument ordinantie nomor 238 tahun 1931 yang diperkirakan menyebarkan Islam di Mandar sekitar Abad ke-16 M.

Lantas bagaimana dengan Islam di wilayah Pitu Ulunna Salu. Baik dicoba pula dibongkar sedikit memori sejarah peradaban perkembangan Islam di daerah tersebut. Seperti yang ditulis oleh Ibrahim Abbas (I999), yang menyebutkan, bahwa memahami sejarah awal mula Islam dikenal di Pitu Ulunna Salu terj adi sekitar abad ke-17 dan ke-18 yang ditandai dengan kehadiran Tuanta di Bulobulo di daerah tersebut dan membuat Indo Kadanene' atau yang bergelar Todilamung Sallang (dimakamkan dalam keadaan beragama Islam-
pen).

Kemudian susul menyusul diikuti oleh raja-raja di persekutuan Pitu Ulunna Salu tersebut, seperti Indo Lembang, T0makaka' Mambi, Tomakaka' Matangga. Kecuali Tabang, Tabulahan dan Bambang hampir semua kerajaan-kerajaan di persekutuan Pitu Ulunna Salu
mengikuti dan memeluk agama Islam.

Sedang Sarman Sahudding (2004) menulis, Islam pertama kali datang dibawa oleh para pedagang dari wilayah pesisiran pantai, seperti Haji Cendrana, Haji Tapalang, Haji Pure dan Daeng Pasore dan itu terjadi sekitar akhir abad kc-I7 dan awal abad kc-18.

Daerah yang pertama didatangi oleh pedagang tadi untuk menyebarkan Islam tersebut adalah Lembang Matangga atau daerah Posi' melalui daerah Mapi dan Tu'bi. Hal Iain yang juga dapat dijadikan titik tumpu penelusuran sejarah peradaban Islam di Pitu Ulunna Salu adalah melalui ditemukannya kuburan tua di daerah Matangga yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai kuburan tempat dikebumikannya To Salama‘ atau sang pembawa Islam pertama kali ke daerah ini. Konon sebelumnya pernah datang dua orang yang tak dikenal sebagai pembawa Islam pertama.

Namun yang satunya kembali, sedang yang satunya lagi tinggal dan lalu meninggal di daerah Lembang Matangga, hingga akhirnya dikebumikan di tempat tersebut. Dari kuburan tempat dikebumikannya itulah kemudian, lalu dianggap keramat oleh peduduk sekitar yang hingga kini diyakini adalah kuburan Wali sang pembawa dan penyebar Islam di wilayah Pitu Ulunna Salu.

Sedang daerah kedua tempat penyebaran Islam di wilayah persekutuan ini adalah di daerah Talipukki. Sebagai Bahagian dari Lembang Mambi, di daerah ini juga ditemukan kuburan yang sama, juga diyakini sebagai pekuburan To Salama‘ yang dipercaya pertama kali membawa Islam ke daerah Talipukki.

Demikian pula halnya dengan daerah Lembang Aralle, dimana dari daerah ini didapatkan pembuktian adanya Daeng Mappali yang tak lain adalah cucu dari Kada Nene'. Yang lalu
dipercaya sebagai orang yang pertama memeluk Islam. Hal itu terbukti dengan gelar yang disandangkan atasnya yakni, To dilamung Sallang (yang dikebumikan dalam keadaan muslim-pen). Sedang di Lembang Rentebulahan, juga dikenal seorang nama Tomesokko Sallang (yang berkopiah muslim-pen) yang tak lain adalah cucu dari salah seorang cucu Indo Lembang di Rantebulan. (Win)