PerDIK Galang Dukungan untuk Cak Fu Duduk di Komnas HAM

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Seputarsulawesi.com, Makassar - Direktur Eksekutif Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK), Abdul Rahman menyerukan kepada semua penggiat dan pemerhati difabel untuk mendukung Bahrul Fu'ad menjadi anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2017- 2022.

Nama Bahrul Fuad masuk dalam 60 orang yang dinyatakan lulus seleksi tahap II calon anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) 2017-2022 yang dilakukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Nama-nama ini diumumkan pada 2 Mei 2017 lalu.

"Kami dari PerDIK meminta dukungan dan doa masyarakat Indonesia agar Bahrul Fuad atau Cak Fu lolos menjadi salah satu komisioner Komnas HAM yang saat ini seleksinya sedang bergulir di DPR RI. " kata Rahman dalam siaran persnya, Minggu (7/5/2017).

Dia berharap anggota DPR RI dan para penguji calon komisioner Komnas HAM memberikan kouta khusus untuk difabel. "Selama ini kita selalu berbicara keterwakilan perempuan tapi keterwakilan difebel dilupakan," kata dia.

Menurut Rahman, sosok Cak Fu punya komitmennya dalam memperjuangkan hak-hak difabel yang inklusif walau Komisi Nasional (Komnas) Disabilitas sedang digodok pemerintah pusat, tapi menurut dia, Komnas itu tidak terlalu signifikan dibentuk.

"Prinsip difabel sebenarnya adalah inklusi, atau bagaimana kesetaraan terjadi antara difabel dan bukan difabel dan Komnas HAM berdiri disemua golongan tanpa terkecuali," ujarnya.

"Seharunya seluruh Komnas-komnas (Komnas HAM, Komnas Perempuan, Komnas Anak) termasuk KPU (Komisi Pemilihan Umum) di Indonesia, harus ada keterwakilan difabel," sambung dia.

Seharusnya, kata Rahman, Komnas-Komnas yang sudah ada belajar dan memahami perspektif disabilitas. "Agar nantinya tidak saling lempar tanggung jawab karena tidak paham perspektif disabilitas."

Para komisoner HAM, nantinya kata dia, mesti juga dilengkapi oleh perspektif difabilitas agar Komnas HAM benar-benar berdiri untuk semua golongan dari keberagaman manusia Indonesia tanpa terkecuali.

Sosok pria yang akrab disapa Cak Fu itu mengingatkan kepada sosok mantan Ketua Komnas HAM Saharuddin Daming, yang difabel netra. Cak Fu sendiri difabel kinetik (daksa) yang sangat aktif menyuarakan difabilitas.

Dalam salah satu diskusi di Yogyakarta yang mempertemukan banyak elemen Organisasi Gerakan Difabel di seluruh Indonesia. Cak Fu juga, kata Rahman pernah menyampaikan kritik terhadap beberapa pasal dari UU Penyandang Disabilitas. Menurut Cak Fu persoalan difabel yang utama adalah soal stigma, perlakuan eksklusif, komitmen rendah dari negara atau pemerintah dalam memenuhi hak-hak difabel.

"Di UU ini ada soal Konsesi, Kartu Tanda Disabilitas, dan Komisi Nasional Disabilitas. Baginya, ketiga hal itu justru akan semakin menguatkan anggapan dan praktik stigmatisasi disabilitas sebagaimana selama ini sudah terjadi." kata Rahman.

Sekedar informasi, proses seleksi anggota Komnas HAM selanjutnya adalah dialog publik dan panitia seleksi mengajak masyarakat memberi masukan mengenai para calon ini.

Dalam dialog publik itu, masyarakat bisa menanyakan apa saja dalam koridor HAM kepada calon anggota Komnas HAM. Nantinya akan dibagi 8 sesi, di mana dalam satu sesi ada 5-6 orang calon anggota.

Dialog publik itu nantinya akan dinilai oleh para anggota Pansel. Nantinya 60 nama yang lolos ke dialog publik akan disaring menjadi 28 nama. Setelah itu akan ada tes seperti tes kesehatan dan tes psikologi yang akan dihadapi para calon.

Kemudian akan dilakukan wawancara, di mana hasilnya akan mengerucut menjadi 14 nama yang akan diserahkan kepada DPR. Sesi wawancara akan dilakukan secara terbuka. Komisioner yang terpilih hanya tujuh orang saja. (Win)