Pilgub Sulbar dan Basis Kekuatan Masing-masing Kandidat

Opini

Editor Suaib Amin Prawono


Oleh; Herman Kadir

(Aktivis Sulbar)

Tak lama lagi, kepemimpinan Anwar Adnan Saleh selaku Gubernur Sulbar akan segera berakhir. Kancah perpolitikan pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Barat 2017 mendatang pun mulai bergulir, meski secara resmi belum masuk pada tahapan Pilgub. Namun dalam kenyataanya, sudah banyak figur yang bermunculan dan telah mendeklarasikan diri siap maju pada perhelatan Pilgub Sulbar mendatang.
 
Peluang keterpilihan calon kandidat kedepannya tentu tergantung pada strategi politik yang akan dimainkan. Dalam pemetaan basis yang ada, misalnya, dari segi geografis Andi Ali Baal Masdar yang akrab disapa ABM sangat memiliki peluang untuk memenangkan perhelatan pilgub 2017 mendatang. Pasalnya, luas wilayah dan penduduk di Kabupaten Polman lebih banyak ketimbang kabupaten lainnya.

Ketika solidaritas itu terbangun dengan baik, maka keterpilihan ABM secara mutlak bisa didapatkan di Pilgub 2017 nanti. Ini belum terhitung warga Polman yang hijrah di beberapa daerah yang ada di Sulbar,  seperti Mamuju, Mateng dan Matra, begitupun dengan Majene dan Mamasa yang punya relasi kultural dengan Polewali Mandar.

Ketika ikatan kulturnya ini dirawat dan dijadikan sebagai kekuatan, maka tidak menutup kemungkinan ABM akan memenangkan Pilgub Sulbar 2017 mendatang. Meski demikian, konstalasi politik tersebut  akan "buyar" jika muncul kandidat baru yang berasal dari Kabupaten Polewali Mandar. Sebab basis ABM akan terpecah, sehingga peluang ABM pun semakin tipis.

Sementara itu, disisi lain, calon kandidat yang juga santer terdengar akan maju di Pilgub Sulbar mendatang adalah Suardi Duka (SDK) mantan Bupati Mamuju dua periode. Meski SDK terbilang pemain baru dalam konteks Pilgub Sulbar ini, namun basis massa SDK tidak bisa disepelekan, sebab ia memiliki massa real di wilayah Mamuju. Apalagi di perhelatan Pilkada serentak di Sulbar kemarin, partai demokrat menjadi pemenang di 4 Kabupaten.

Tentunya dengan kerja maksimal, partai dan sistem pengorganisasian yang dimiliki oleh SDK  tidak menutup kemungkinan peluang keterpilihan akan diraih, apalagi jika SDK bisa menggandeng Wakil dari luar Mamuju atau Polman. Meski peluang menang tetap ada, namun itu tidak menutup kemungkinan juga akan menjadi bumerang baginya, sebab bisa saja tokoh-tokoh pendukung berubah haluang, terutama elit-elita politik di dua wilayah, yaitu, Majene dan Mamasa.  (Bersambung)