Praktik Ekonomi Islam dalam Suku Bugis

Opini

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


 

Oleh : Muhammad Aras Prabowo

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercu Buana

Mappasandra galung dan mappateseng sapi dua praktik ekonomi yang terjadi dalam SBB dengan landasan berdasarkan nilai yang terdapat dalam masyarakat tradisional seperti Asas kemanusiaa, keadilan, persaudaraan, saling membantu, kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa serta meringankan beban antar sesama manusia adalah sebagai landasan ekonomi. Landasannya kemungkinan besar didasari oleh pengaruh budaya bugis (budaya setempat) dan ajaran agama yang terdapat dalam masyarakat SBB. Untuk mengetahui praktik tersebut adalah ekonomi islam, maka perlu mencocokkan antara falsafah ekonomi islam dan lendasan ekonomi yang terdapat dalam SBB.

Islam sebagai Agama yang diridhoi Allah memberikan petunjuk bersifat falsafah dasar atau sekumpulan nilai-nilai yang tidak dapat dirubah, agar menjadi pedoman manusia dalam melangsungkan aktivitas atau transaksi ekonominya sehari-hari. Tentunya hal ini tetap dipegang teguh, walaupun zaman terus berkembang dan masalah yang semakin kompleks.

S.M. Hasanuzzaman mengartikan bahwa Ilmu ekonomi Islam adalah pengetahuan dan aplikasi ajaran-ajaran dan aturan-aturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam pencarian dan pengeluaran sumber-sumber daya, guna memberikan kepuasan bagi manusia dan memungkinkan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka terhadap Allah dan masyarakat. Keadilan, pengeluaran sumber-sumber daya, memberikan kepuasan bagi manusia dan melaksanakan kewajiban terhadap Allah dan masyarakat adalah tujuan dari ekonomi islam yang dipaparkan oleh Hasanuzzaman, ketika dikaitkan dengan landasan praktik ekonomi SBB maka terdapat kesamaan tujuan yaitu asas kemanusiaa, keadilan, persaudaraan, saling membantu kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa serta meringankan beban antar sesama manusia adalah sebagai landasan ekonomi.

Nilai-nilai falsafah ekonomi islam dapat kita temui dalam Al-Quran dan tidak bertentangan dengan Rukun IslamDasar Hukum Islam, Fungsi Iman Kepada Allah SWT, Sumber Syariat Islam, dan Rukun Iman. Hal ini adalah 5 falsafah ekonomi islam yang terdapat dalam Al-Quran, yang dapat mulai kita pahami.

Ketauhidan : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu  menjatuhkan dirimu  sendiri  ke  dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS Al baqarah : 195). Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah memberikan perintah kepada manusia untuk menggunakan hartanya atau membelanjakannya di jalan Allah. Hal ini berkaitan erat bahwa aktivitas ekonomi dalam kehidupan manusia hendaknya selalu diorientasikan di jalan Allah sebagai pemilik langit dan bumi. Kaitannya dengan praktik ekonomi SBB bahwa salah satu dasar adalahsaling membantu kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa serta meringankan beban antar sesama manusia.

Kemaslahatan: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung“ (QS Al Jumuah : 10). Di dalam ayat tersebut, Allah menunjukkan bahwa manusia hendaknya mencari karunia Allah di muka bumi agar supaya kehidupannya beruntung. Akan tetapi Allah memberikan perintah agar manusia melaksanakan aktivitas ekonomi tersebut dengan selalu mengingat Allah dan mendapatkan keberuntungan, di dalam praktik ekonomi SBB keuntungan bukanlah hal utama yang harus dicapai, tapi kemaslahatan antar sesame adalah paling utama.

Keadilan: “Celakalah orang-orang yang mengurangi, apabila mereka itu menakar kepunyaan orang lain (membeli) mereka memenuhinya, tetapi jika mereka itu menakarkan orang lain (menjual) atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Apakah mereka itu tidak yakin, bahwa kelak mereka akan dibangkitkan dari kubur pada suatu hari yang sangat besar, yaitu suatu hari di mana manusia akan berdiri menghadap kepada Tuhan seru sekalian alam?” (QS Al Mutahfifin : 1-6). Falsafah keadilan terdapat dalam ayat tersebut. Allah memberikan perintah kepada manusia agar melaksanakan ekonomi berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, salah satunya adalah dengan tidak boleh mengurangi timbangan. Praktik ekonomi SBB sangat mengedepankan prinsip keadilan, tanpa memberatkan satu sama lain yang tergabung dalam kegiatan ekonomi.

Menghargai Hak Individu: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu” (QS An-Nisa : 29). Falsafah ekonomi islam berdasarkan ayat tersebut adalah menghargai hak individu. Menghargai hak individu dan prinsip keadilah adalah landasan dalam melaksanakan praktik ekonomi SBB,  meringankan beban antar sesama manusia.

Orientasi Sosial : “Kamu  sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta  yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Ali Imran : 192). Falsafah yang kelima adalah ajaran islam untuk mengarahkan harta untuk orientas sosial seperti saling membantu kemajuan dan kesejahteraan masyarakat desa serta meringankan beban antar sesama manusia dalam praktik ekonomi SBB.

Setelah menguraikan antara landasan yang terkandung dalam praktik ekonomi SBB dan falsafah ekonomi islam, terdapat kesamaan nilai dalam praktiknya. Meskipun masih hanya opini dari penulis berdasarkan pengamatan yang terbatas, namun tulisan ini diharapkan bisa menjadi inspirasi dilakukannya riset ilmiah terhadap pratek tersebut. Dan kemungkinan masih banyak lagi praktik ekonomi yang berkembang dalam masyarakat tradisional di wilayah yang berbedah memiliki nilai yang sama dengan ekonomi islam. Selain melestarikan budaya, memahaminya menjadi penting lewat riset ilmiah dengan mengaitkan dengan perkembangan pengetahuan modern.