Puasa dalam Presfektif Bugis, Jadi Topik Diskusi GUSDURian Bone

03 Jun 2017, 03:38:05 WIB || Editor:IQ Arsyad Sulsel

Puasa dalam Presfektif Bugis, Jadi Topik Diskusi GUSDURian Bone 

Seputasulawesi.com, Bone- Puasa dalam presfektif kebudayaan Bugis menjadi topik diskusi Jaringan GUSDURian Kabupaten Bone di acara Nimrung Lintas Iman yang dilaksanakan di Mushollah STAIN Watampone, Jumat (2/6).

Hadir sebagai pembicara, dosen STAIN Watampone, Rahmatunnair dan budayawan muda Sulawesi Selatan, Abdi Mahesa.

Dalam pemaparannya, Abdi Mahesa mengatakan, puasa bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Bugis yang mendiami wilayah Bone. Jauh sebelum Islam hadir, katanya, masyarakat setempat sudah mengenal istilah puasa.

Menurutnya, puasa telah dijalankan oleh komunitas Bissu (pendeta agama Bugis Kuno) sebelum ire'ba (ditasbihkan) menjadi bissu. Demikian pula, saat Raja akan memutuskan sesuatu, terlebih dahulu mereka melakulan puasa untuk menjernikan pemikirannya.

"Tak hanya itu, puasa juga menjadi bagian dari ritual saat mereka akan membuat pusaka," papar pria berusia 19 Tahun ini.

Sementara itu, Rahmatunnair mengatakan, sebelum Islam hadir di tanah Bugis, puasa hanya sebatas ritual, bukan ibadah sebagai proses pengendalian diri.

Puasa sebelum Islam, menurutnya cenderung ke ajaran Hindu-Budha, dan itu juga tidak lepas dari ajaran anismisme yang dianut oleh masyarakat Bone saat itu, tentunya dengan motivasi yang berbeda-beda.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Nair ini menjelaskan, Puasa dalam konteks pengendalian diri di masyarakat Bone dikenal dengan istilah Mapereng (berani), berani untuk menahan diri dari godaan dunia, termasuk dalam hal urusan makan dan minum

"Biar terlihat jago dan berani, orang harus berani mapereng atau dalam artian naperengi alena pole anu-anu lino e (menahan diri dari godaan dunia) termasuk dalam hal urusan makan dan minum," jelasnya.

Acara yang ditutup dengan buka puasa dan salat Magrib secara berjamaah ini dihadiri mahasiswa dan komunitas-komunitas yang merupakan jejaring sosial Gusdurian Bone, diantaranya, komunitas pecinta literasi (Konspirasi), Rumah Kreasi Budaya Bangsa (RKBB) serta Keluarga Pelajar Wija To Bone (KPWTB).

(SAP)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook