Puasa dalam Tradisi Umat Katolik

09 Jun 2017, 19:00:18 WIB || Editor:sesi.comLipsus

Puasa dalam Tradisi Umat Katolik Gambar: katolisitas-indonesia.blogspot.co.id

Seputarsulawesi.com, Makassar- Sebagaimana yang umum diketahui bahwasanya tradisi puasa tak hanya dikenal dalam Islam, tapi juga dikenal dalam tradisi agama-agama sebelum Islam. Salah satunya adalah agama Katolik. Dalam Gereja Katolik, dikenal istilah Puasa dan Pantang.Berpuasa dan berpantang adalah sebuah gerakan pertobatan dan sekaligus sebagai tanda umat Katolik mempersatukan diri dalam pengorbanannya dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sabagai silih atas dosa-dosanya demi mendoakan keselematan dunia.

"Jadi puasa dan pantang tak pernah terlepas dari doa. Dalam masa puasa dan pantang selama 40 hari atau dikenal degan masa prapaskah, selain menjalankan doa juga disertai degan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota lainnya," papar Pastor Cakra, saat dihubungi Seputarsulawesi.com, Kamis (8/6).

Menurutnya, puasa dan pantang bagi umat Katolik merupakan latihan rohani untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama. Jika puasa dan pantang dilalukan degan hati yang tulus maka akan menghantar umat Katolik bertumbuh dalam kekudusan. Dengan kekudusan itu, umat Katolik mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

Adapun yang menjadi tujuan puasa dari puasa dan pantang itu agar umat Katolik dapat turut serta dalam pengorbanan Yesus Kristus dan mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Umat Katolik menjalankan puasa dan pantang selama masa prapaskah (40 hari). Wajibnya pantang dan puasa itu pada hari pertama puasa (Rabu abu) dan hari Jumat agung (wafatnya Yesus). Utuk hari pertama (Rabu abu) dan hari-hari Jumat selama 40 hari hanya diwajibkan berpantang. Oleh Gereja Katolik ini dianggap terlalu ringan maka dianjurkan utuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat karena hanya hari tertentu saja selama 40 hari.

Berdasarkan data yang dilansir dari imankatolik.or.id menyebutkan pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.(KHK 1251-1252)

Jadi sebagai orang Katolik wajib berpuasa pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Jadi, selama masa Prapaskah, kewajiban puasa hanya dua hari saja. Yang wajib berpuasa adalah semua orang beriman yang berumur antara delapan belas (18) tahun sampai awal enam puluh (60) tahun.

Puasa dalam umat Katolik berarti makan kenyang hanya satu kali dalam sehari. Untuk yang biasa makan tiga kali sehari, dapat memilih Kenyang, tak kenyang, tak kenyang, atau tak kenyang, kenyang, tak kenyang, atau tak kenyang, tak kenyang, kenyang. Orang Katolik wajib berpantang pada hari Rabu Abu dan setiap hari Jumat sampai Jumat Suci. Jadi hanya 7 hari selama masa PraPaskah. Yang wajib berpantang adalah semua orang katolik yang berusia empat belas (14) tahun ke atas.

Pantang berarti Pantang daging, dan atau Pantang rokok, Pantang garam, Pantang gula dan semua manisan seperti permen serta pantang hiburan seperti radio, televisi, bioskop dan film. Karena begitu ringannya, kewajiban berpuasa dan berpantang, sesuai dengan semangat tobat yang hendak dibangun, umat beriman, baik secara pribadi, keluarga, atau pun kelompok, dianjurkan untuk menetapkan cara berpuasa dan berpantang yang lebih berat. Penetapan yang dilakukan diluar kewajiban dari Gereja, tidak mengikat dengan sangsi dosa.

Arti Puasa dan Pantang

Puasa dalam Katolik adalah tindakan sukarela tidak makan atau tidak minum seluruhnya, yang berarti sama sekali tidak makan atau minum apapun atau sebagian, yang berarti mengurangi makan atau minum. Secara kejiwaan, berpuasa memurnikan hati orang dan mempermudah pemusatan perhatian waktu bersemadi dan berdoa.

Puasa juga dapat merupakan korban atau persembahan. Puasa pantas disebut doa dengan tubuh, karena dengan berpuasa orang menata hidup dan tingkah laku rohaninya. Dengan berpuasa, orang mengungkapkan rasa lapar akan Tuhan dan kehendakNya. Ia mengorbankan kesenangan dan keuntungan sesaat, dengan penuh syukur atas kelimpahan karunia Tuhan.

Demikian, orang mengurangi keserakahan dan mewujudkan penyesalan atas dosa-dosanya di masa lampau. Dengan berpuasa, orang menemukan diri yang sebenarnya untuk membangun pribadi yang selaras. Puasa membebaskan diri dari ketergantungan jasmani dan ketidakseimbangan emosi.

Puasa membantu orang untuk mengarahkan diri kepada sesama dan kepada Tuhan. Itulah sebabnya, puasa Katolik selalu terlaksana bersamaan dengan doa dan derma, yang terwujud dalam Aksi Puasa Pembangunan. Semangat yang sama berlaku pula untuk laku pantang.

Adapun yang bukan semangat puasa dan pantang Katolik adalah berpuasa dan berpantang sekedar untuk kesehatan: diet, mengurangi makan dan minum atau makanan dan minuman tertentu untuk mencegah atau mengatasi penyakit tertentu. Berpuasa dan berpantang untuk memperoleh kesaktian baik itu tubuh maupun rohani.

Adapun hasil penghematan puasa dan pantang dalam bentuk dana oleh seluruh umat katolik, baik yg tergolong dalam usia wajib puasa dan pantang maupun tidak, menurut Pastor Cakra dikumpulkan melalui Gereja dan disalurkan ke panitia Gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) di panitia pusat Jakarta dan diperuntukkan utuk membantu pemberdayaan masyarakat, perbaikan/pembangunan prasarana umum dan membantu gerakan-gerakan sosial di setiap daerah dan pelosok di seluruh Indonesia. (SAP)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook