RELIGIUSITAS CALABAI; Pengabdian Tanpa Pamrih

Resensi Novel

01 Feb 2017, 15:11:56 WIB || Editor:IQ Arsyad Sastra

RELIGIUSITAS CALABAI; Pengabdian Tanpa Pamrih 

Oleh;

Muhammad Subair Sunar (Penikmat Sastra)

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas secara tuntas dari kacamata internal ilmu sastra yang sangat jelimet dan tekhnis, mulai alur, suasana sampai pada dimensi ideology sastranya, tapi dari kacamata pandang biasa dari peminat sastra dan kadar religiusitasnya.

Pilihan dimensi religiusitas ini, mengingat Calabai dalam konstruk kehidupan masyarakat Bugis-Makassar (dan hampir semua suku yang ada di Sulsel sulbar) mendapatkan tempat tersendiri dalam mendinamisasi kehidupan masyarakat lokal. Selain Segeri yang menjadi setting lokasi Novel Calabai, negeri idaman para Bissu, di komunitas lain pun dikenal Calabai, sebutlah Kajang, Tannga-tannga Balanipa di Mandar, dan komunitas Kerajaan Bone, Sengkang, Wajo dan Barru. Pemosisian membaca Novel Calabai seperti ini, menjadikan karya sastra ini menjadi fungsional berdialog dengan kehidupan.

Religiosity (religiositas) secara etimology dimaknai sebagai ikatan seorang manusia dengan sesuatu di luar dirinya, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa,  yang transenden.  Jika dikaitkan dengan Novel Calabai, tentu muatan isinya mengandung nuansa ikatan-ikatan jiwa para tokohnya dengan yang transenden. Suasana kebatinan Calabai yang membawa dan menyergap pembacanya pada suasana religious.

Di sini religusitas berbeda makna dengan pernyataan agama, jika seorang muslim membacakan Bismillahir rahmanir rahim, Alhamdulillahi rabbil alamin, Arrahman rahim dan seterusnya, dalam setiap sholatnya. Artinya seorang muslim sedang mengucapkan pernyataan agama. Berbeda dengan puisi-puisi Cinta mistikus Rabiatul Adawiyah yang melantungkan cinta pada Tuhannya’

 

“Ya Allah, apa pun yang akan Engkau

Karuniakan kepadaku di dunia ini,

Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu

Dan apa pun yang akan Engkau

Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,

Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu

Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku”

 

Jika agama identik dengan pelembagaan kebaktian kepada Tuhan, kepada dunia atas, yang kemudian menciptakan hukum-hukum dan peraturan peribadatan,  maka religiusitas merujuk pada gerak hati, isyarat nurani, getaran hati pribadi yang menggambarkan sikap personal dalam melakoni hidupnya. Saking pribadinya sehingga menjadi misteri bagi orang lain.

Religiusitas menggambarkan intimitas pribadi dengan Maha Pencipta. Baginya hidup ini mesti dikelola secara kudus dan subyektif, tidak bisa dicampur aduk dengan suasana yang bisa merusak intimitas dengan Tuhan tersebut. Lakon hidupnya berdasarkan suara Tuhan, suara nuraninya, ambisinya bukan sekadar untuk benar tapi bermaslahah bagi sesama. Kejujurannya tidak diukur pada berkata benar, tapi mampukah perilakunya mengikuti suara nuraninya. Suara nurani yang memberi penghargaan sama pada semua makhluk Tuhan, pada sesama  manusia.

Religiusitas juga tidak bekerja dalam pengertian-pengertian rasional , akan tetapi dia hadir dari pengalaman nyata, lahir dari penghayatan menjalani kehidupan secara total. Totalitas menghadapi kehidupan inilah menjadi rahim lahirnya religiusitas yang mendahului analisis, asumsi atau konseptualisasi atas kehidupan. Akhirnya religiusitas adalah Iman yang yang terejawantah.

* * * * *

Lantas bagaimana tokoh Bissu Saidi mengejewantahkan religiusitasnya dalam novel Calabai?  Bissu Saidi yang lahir dari keluarga sederhana, ayahnya mantan gurilla pasukan DI/TII Kahar Muzakkar, sehingga sangat fanatik dalam menjalankan aturan agama. Watak keagamaannya sangat formal berdasarkan sunnatullah, ketentuan Tuhan secara tersirat dalam kitab sucinya. Dalam keluarga seperti inilah Bissu Saidi dibesarkan, dalam belaian kasih sayang orang tua yang serba hitam putih, sacral dan profane, jantan dan betina dan lain sebagainya, tidak boleh ada opsi ketiga yang abu-abu dalam hidup. Model kasih sayang seperti ini yang serasa penjara bagi Bissu Saidi. Insting perempuan dalam tubuhnya yang lelaki jantan memaksanya untuk berperilaku “gemulai” yang kemudian orang di sekitarnya memanggilnya Calabai.

 

Dibesarkan dalam suasana keluarga yang agamis, tapi memiliki perilaku yang menyimpang, yang sulit ditolaknya menjadikan  Bissu Saidi di masa kecilnya memandang agama sebagai ruang pengap dan gelap. Dia mengakui bahwa kebenara agama mesti disuarakan, tapi tidak harus memojokkan dirinya yang calabai. Konflik dalam hatinya itu terus berlanjut di dalam dirinya tiap kali mendengar khutbah jumat di kampungnya. Dan pemojokan itu disahuti oleh orang tuanya,  Bapaknya  sendiri  Puang Baso, setiap kali usai jumatan, “Kalau kamu tidak mau dicap kafir atau dilaknak Allah, Nak”. Imbuh ayahnya, “buang jauh-jauh sifat calabai dalam dirimu, Camkan baik-baik!”

Bissu Saidi hanya bisa diam, termangu, tidak kuasa dia membantah ayahnya, tapi juga tidak kuat dia menolak insting calabai yang semakin hari  semakin mempengaruhi perilakunya. Dan pada akhirnya dia pun diperhadapkan pada pilihan,  menjadi lelaki sejati atau calabai. Bissu Saidi memilih sikap menjemput takdirnya, merantau meninggalkan keluarganya, menuju Kampung Segeri, negeri para Bissu.

Kebulatan tekadnya menjadi Bissu, menjadikan Saidi abai pada peringatan Puang Sampo, pemimpin para Bissu, “Banyak orang mengira, menjadi bissu berarti hidup enak. Dihormati orang. Padahal ketika seseorang  memutuskan jadi bissu, maka orang itu, suka atau tidak suka, harus memasrahkan seluruh hidupnya untuk berbakti kepada Dewata dan warga. Mereka harus pandai-pandai bersikap dan menjaga diri. Jika tak kuat, bisa berbahaya. Calabai yang dilantik menjadi bissu, tidak bisa hidup sebebas Calabai yang lain. Calabai yang jadi bissu harus berhati-hati, terutama menyangkut urusan laki-laki”. Tekadnya sudah bulat menjemput takdirnya meninggalkan jati diri calabai menjadi bissu. Disitulah Saidi memilih hidup menjadi Bissu. setelah melalui prosesi ritual ireba.

Penobatan dirinya mejadi Bissu membawa Saidi melalanglang buana, dari nusantara sampai ke eropa. perkawanannya semakin luas, dari aktifis mahasiswa sampai pada kiai pesantren.  Pada Saidilah Bissu tidak lagi sekadar penjaga adat,pelaku ritual tari maggirik, dan penjaga arajang. Bissu menjadi juru bicara keluhuran budaya Bugis ke seluruh dunia, mengankat mitos Lagaligo ke dunia nyata menjadi memory of the wordnya UNESCO. Akhirnya meluluhlantahkan benteng penolakan Ayah kandungnya Puang Baso pada Calabai, pada Bissu.

 

*****

Religiusitas Bissu Saidi religiusitas yang otentik, religiusitas yang memilih hati nurani ketimbang agama formal yang dianutnya. Religiusitas yang lahir dari dalam dirinya, bukan berasal dari dunia mainstream, juga bukan dari perilaku keagamaan paragmatis yang takut pada ancaman neraka Tuhan.

Dalam kehidupan kongkrit Saidi melakoni kehidupan religiusnya sebagai Bissu hidup dalam kekudusan dalam realitas obyektif, tidak terkurung dalam kejadian-kejadian subyektif yang nisbi tanpa henti. Bissu Saidi meleburkan dirinya dalam kehidupan nyata, melebur dalam kehidupan rakyat jelata, dan bukan dalam kehidupan khayali yang memerankan diri sebagai pertapa. Bissu Saidi lebur sepenuhnya dalam kehidupan.

****

Akhirnya novel Calabai; Perempuan Dalam Tubuh Lelaki, menyumbangkan sesuatu yang sangat berarti bagi pembaca. Mengantar pembaca membaca gatra kehidupan yang berbeda kemudian berpindah ke dimensi lain kehidupan. Mengajak pembaca melihat dan menilai suatu kehidupan dalam sebanyak mungkin dimensi. Sehingga bukan kesimpulan yang lahir setelah membacanya, melainkan kebiaksanaan sebagai manusia.

 

Identitas Novel

Judul               ; CALABAI; Perempuan Dalam Tubuh Lelaki

Penulis             : Pepi Al-Bayqunie

Penerbit           : Javanica, Tangerang

Tahun Terbit    : Oktober 2016

Jumlah Hal      : 386 Hal




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook