Suku Bunggu, Komunitas Manusia Pohon dari Mamuju Utara

Citizen Report

Editor Suaib Amin Prawono


Seputarsulawesi.Com, Mamuju Utara- Bhinneka Tunggal Ika, sebuah semboyan yang terlihat sederhana tetapi memiliki arti yang sangat dalam. Berbeda-beda tapi tetap satu jua, memberikan spirit lahirnya sebuah negara dengan keanekaragaman budaya, Republik Indonesia.

Keberagaman yang dimiliki oleh negara yang dilalui oleh garis Khatulistiwa ini terlihat dari banyaknya suku, agama, ras, dan berbagai ragam adat istiadat yang tersebar diseluruh pelosok tanah air, tidak terkecuali Masyarakat Bunggu yang merupakan penduduk asli Kabupaten Mamuju Utara (Matra).

Komunitas Bunggu mendiami daerah pegunungan dan lereng-lereng gunung di wilayah pedalaman Kabupaten Mamuju Utara. Suku Bunggu dikenal juga dengan sebutan Manusia Pohon. Hal ini disebabkan kebiasaan mereka membangun rumah-rumahnya diatas pohon yang berada di ketinggian 15 sampai dengan 20 meter dari permukaan tanah. Sampai tahuh 1990-an, Suku Bunggu masih merupakan suku terasing (primitif) dan terisolir dari akses pembangunan.

Suku Bunggu memiliki pola hidup agraris nomaden (peladang berpindah) dekat dengan alam dan berusaha untuk terus menjaga dan melestarikannya. Dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-'hari, suku ini masih melakukan barter diantara mereka sendiri. Mereka jauh dari kehidupan kota yang serba modern tetapi mereka turut menopang kehidupan masyarakat kota dengan hasil ladang.

Masyarakat Bunggu memiliki budaya dan adat istiadat sendiri, yang mereka pegang teguh secara turun-temurun dan dilaksanakan pada saat upacara ritual adat membuka ladang, panen dan upacara pengobatan seperti pada acara Vunja dan Reego. Vunja adalah pesta syukuran setelah mereka memanen hasil sawah dan kebunnya. Sementara Reego adalah pesta yang dilaksanakan untuk merayakan hari lahir putra-putri mereka yang telah memasuki usia balita.

Suku Bunggu juga memiliki Vuya Tea, sebuah warisan kekayaan budaya yang tak ternilai harganya. Vuya Tea adalah kain yang terbuat dari kulit kayu. Harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah dipasar mancanegara karena bentuknya unik dan eksotik. Sayang, tradisi membuat kain dari kulit pohon ini semakin langka. Kini jumlah pembuat Vuya Tea bisa dihitung jari dan berusia lanjut. Tak ada lagi anak muda dari komunitas ini belajar membuat Vuya Tea. Warisan budaya Mamuju Utara ini terancam punah.

Hakim Madda (Dewan Pembina PMII Mamuju Utara) Melaporkan Dari Mamuju Utara