Tingkatkan Kode Etik Di Bulan Ramadhan

Opini

Editor Muhammad Iqbal Arsyad


Oleh: Muhammad Aras Prabowo

Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Mercu Buana Jakarta

Kemajuan sebuah prekonomian di era globalisasi harus ditopang oleh etika bisnis dalam entitas. Selain sebagai nilai etika dalam berprilaku, etika bisnis juga sebagai hal yang menentukan keberhasilan entitas. Pasalnya dalam dunia bisnis, interaksi oleh berbagai pihak baik internal dan eksternal adalah hal yang tidak bisa dihindari, dalam berinteraksi inilah etika bisnis diperlukan.

Etika bisnis yang biasa dikenal sebagai kode etik ibarat kompas yang menunjukkan arah moral bagi suatu profesi dan sekaligus juga menjamin mutu moral profesi bersangkutan di mata masyarakat menurut K. Bertens dalam bukunya yang berjudul ‘etika’. Seperti yang dikatakan Bertens, kode etik sangatlah penting di dunia bisnis sebagi nilai-nilai moral yang dijadikan oleh sebuah entitas dalam menjalankan roda entitas. Semakin dijunjung tinggi, peluang kerjasama dengan entitas lain semakin terbuka lebar. Dukungan masyarakat adalah salah satu faktor kemajuan bisnis, hal tersebut bisa diperolah oleh entitas apabila memiliki perilaku moral yang etis.

Auditor/Akuntan Publik adalah salah satu profesi yang memiliki kode etik profesi dalam menjalankan tugasnya. Audit adalah jasa yang ditawarkan oleh seorang auditor/Akuntan Publik kepada klien, menyangkut pemeriksaan laporan keuangan dalam entitas tertentu. Kode etik berperan penting dalam proses pemeriksaan, sebab Auditor/Akuntan Publik dituntut untuk menghasilkan sebuah opini audit yang terbebas dari tekanan dari pihak-pihak berkepantingan, termasuk dari manajemen entitas. Independensinya sangat diharapkan oleh klian untuk menghasilkan laporan audit yang dapat diandalkan.Kode etik Auditor/Akuntan Publik terdiri dari : Integritas, mewajibkan setiap Auditor/Akuntan Publik untuk, tegas, jujur, dan adil dalam hubungan professional dan hubungan bisnisnya. Objektivitas, mengharuskan Auditor/Akuntan Publik untuk tidak membiarkan subjektivitas, benturan kepentingan, atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan professional atau pertimbangan bisnis. Kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian professional mewajibkan setiap Auditor/Akuntan Publik untuk memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk menjamin pemberian jasa profesional yang kompeten kepada klien atau pemberi kerja.

Kepatuhan terhadap etika adalah tantangan besar bagi seorang Auditor/Akuntan Publik, guna menjaga kepercayaan masyarakat dan klian kepadanya. Pelanggaran etika dapat berakibat buruk terhadap Kantor Akuntan Publik (KAP) tempat Auditor/Akuntan Publik bekerja. Sanksinya bisa berujuang pada pembekuan KAP oleh lembaga Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (P2PK) di bawah kementerian kementerian keuangan. Di Indonesia, beberapa KAP di kenakan sanksi karena tidak patuh terhadap kode etik profesi seperti Keputusan Menteri Keungan (KMK)  Nomor: 1124/KM.1/2009 tanggal 9 September 2009 dan Nomor: 1093/KM.1/2009 tanggal 2 September 2009masing-masing karena tidak menyampaikan laporan tahunan dan belum sepenuhnya mematuhi Standar Auditing (SA) - Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan. (Antara News)

Menteri Keuangan baru-baru ini kembali membekukan dan mencabut izin KAP melaluai KMK Nomor: 449/KM.1/2017 dan 441/KM.1/2017 tanggal 17 April 2017 karena yang bersangkutan tidak memelihara kertas kerja jasa audit umun atas laporan keuangan, laporan audit independen dan jumlah klien yang belum dilengkapi, serta pendirian cabang KAP tanpa izin (freelence). Selanjutnya, Auditor Utama Keuangan Negara III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena diduga menerima suap terkait pemberian opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT).

Kasus di atas tentu membawa dampak buruk terhadap profesi Auditor/Akuntan Publik, termasuk penilaian masyarakat terhadapnya. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan, kesadaran untuk meningkatkan kepatuhan etika adalah jalan untuk menjaga kepercayaan klien dan masyarakat. Bulan ramadhan ini bisa dijadikan sebuah formulasi untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan etika bagi Auditor/Akuntan Publik.

KH Zakky Mubarak (Rais Syuriyah PBNU) mengatakan bahwa salah satu hikmah dari pelaksanaan puasa Ramadhan adalah menumbuhkan sikap jujur, rajin menegakkan keadilan dan kebenaran. Ibadah puasa pada dasarnya memerlukan kejujuran dari setiap orang yang melaksanakannya, baik jujur terhadap dirinya atau terhadap orang lain. Tanpa kejujuran tidak mungkin ada ibadah puasa, karena ibadah itu dilakukan dengan keinsyafan dan tidak ada pengawasan dari manusia lain. (Nu Online).

Puasa bisa menjadi titik tolak untuk maningkatkan nilai-nilai kejujuran, menegakkan kebenaran dan keadilan dalam diri seseorang, termasuk meningkatkan integritas, objektifitas, profesionalisme dan independensi bagi seorang Auditor/Akuntan Publik. Kode etik dapat diasa lewat puasa, hikmah yang terkandung dibalik bulan suci ramadhan harus bisa dipetik dan diinterpretasikan ke dalam profesi Auditor/Akuntan Publik. Sehingga bagi seorang Auditor/Akuntan Publik, bukan hanya pahala puasa yang mereka dapatkan tetapi peningkatan terhadap kepatuhan etika profesi adalah bagian dari hikmah bulan suci ramadhan.