TUKANG CUKUR: Dicukur Modernitas Lalu Tersungkur

Lipsus

Editor sesi.com

Seputarsulawesi.com-Makassar- Mungkin kita tak pernah lupa, bagaimana tukang cukur dikampung halaman jelang lebaran. Mereka mengais rejeki dari rambut warga. Tetapi kisah mereka kini ditelan masa.  

Sebelum era pertengahan 1990-an bisa dikata masa emas para tukang cukur di kampung halaman. Ada yang mangkal di pasar, siap beraksi saat hari pasar tiba. Ada pula yang beroperasi dirumah sendiri. Tetapi dimanapun mereka beraksi, kepala-kepala datang dengan sendirinya untuk dicukur rambutnya. Maklum profesi yang satu ini memang sasarannya adalah rambut, rambut para lelaki. Bukan wanita. 

Di zaman itu, profesi ini tak memerlukan ijazah kejuruan. Mereka melakoninya dengan bekal pengalaman semata, yakni, pengalaman mencukur rambut warga. Alatnya pun sederhana: gunting, pisau cukur yang diasah dibatu asah, selembar kain penutup badan pelanggan yang dicukur, sebuah cermin, dan alat cukur yang pegangannya mirip huruf X yang kalau digunakan jari tangan mesti menekannya. Pemeliharaan alat terakhir ini pun tak rumit, cukup menyapukannya dengan minyak goreng agar tak berkarat. Tempat alat-alat itu biasanya disebuah box berukuran mini yang terbuat dari kayu (papan). Sangat sederhana bukan?.

Tetapi dbalik kesederhanaan itu, tak semua orang mampu mengoperasikannya. Barangkali karena itu, profesi ini tak semua orang mampu melakoninya. Dikampung halaman, biasanya hanya satu atau dua orang yang menekuni profesi ini. Bayangkan, dari ratusan jumlah penduduk kampung halaman, hanya dua orang yang bekerja dengan setia mencukur rambut mereka. Mulai orang tua, dewasa, remaja, hingga anak-anak, semuanya dicukur oleh tukang cukur yang terbatas itu. Mungkin pula karena itu, persaingan antar tukang cukur tak tampak dengan sengit. Tak ada kompetisi pasar. Biasa saja.

Yang menarik, diera 1980-an para tukang cukur bukanlah pria muda, melainkan pria berusia senja, seperti di sebuah kampung, desa Kulo, kabupaten Sidrap. Disana, satu diantara dua tukang cukur dikenal dengan nama, H. Massada. Ditahun 1980-an itu, usianya sekira 70-an tahun. Perangainya kecil, tetapi lincah. Dengan tangan keriputnya, ia memangkas rambut pelanggannya dibawah kolong rumahnya. Dengan kacamata minusnya, ia mampu melihat rapi tidaknya cukurannya. Rokok tembakau gulungannya tak pernah lepas dari jemarinya, sesekali dihisapnya pelan saat sedang mencukur rambut pelanggannya. Asap putih pun terlihat mengepul dibagian kepala pelanggan yang sedang dicukur. 

H. Massadda menjalankan usaha cukur rambutnya tanpa logika dan faham ekonomi modern. Ia tak punya papan nama usaha. Ia pun tak pernah melakukan promosi dimana-mana. Ia menanti kedatangan pelanggan dirumah panggungnya saban hari. Dalam melakoni profesi itu, prinsipnya hanya satu; "ada kepala, ada rupiah". Itu berarti asap di dapur mengepul, asap tembakau dimulutpun mengepul, dan itu semua adalah rejeki. Simpel bukan?. 

Bagi H. Massada menjadi tukang cukur adalah salah satu diantara dua mata pencahariannya. Bila tak ada pelanggan, ia turun ke sawah miliknya. Ia tergolong petani aktif dikampung itu. Petani sekaligus tukang cukur digelutinya hingga akhir hayatnya. Dan jangan anggap remeh dua profesi itu, sebab ia (H.Massadda)  adalah seorang haji. Dizaman itu, menjadi Haji tidaklah mudah. Selain mahal, juga memerlukan perjuangan. Karena itu, usai berhaji, seseorangpun menjadi terpandang dikampung. 

Saat sedang memangkas rambut pelanggannya, H. Massada tak lupa bersenda gurau bersama pelanggannya yang merelakan kepalanya direcoki alat cukur sang Haji itu. Suaranya yang sedikit parau berpadu dengan denting gunting yang sedang beraksi memangkas rambut sang pelanggan. Beragam tema senda gurau mereka berdua. Mulai dari padi di sawah, harga tembakau yang menanjak, perilaku anak dan remaja kampung, hingga karib kerabat diperantauan Malaysia. Dan banyak lagi. 

Fenomena itu melambangkan bagaimana mencukur rambut sekaligus mempererat hubungan-hubungan sosial melalui senda gurau yang cair, tetapi intim. Agama menyebutnya, "silaturrahmi". Inilah salah satu kekuatan rambut, ia dapat mempertautkan manusia. Itulah kehebatan “mahkota”.

"Rambut adalah mahkota", demikian ungkapan populer itu. Tetapi, bagi tukang cukur dikampung halaman, seperti H. Massada, rambut adalah uang. Tarif perkepala saat itu Rp. 200 untuk remaja, dewasa dan manula. Sementara untuk anak-anak, Rp. 100 per kepala. Dan sepekan jelang lebaran, H. Massada kebanjiran kepala untuk dicukur rambutnya. Saat begitu, terkadang kepala-kepala itu usai dicukur jelang jam 17.00 sore. 

Tahap akhir pencukuran rambut H. Massadda, ketika leher pelanggan disirami bedak bubuk menyerupai tepung terigu. Gunanya, agar bekas potongan rambut hilang tanpa rasa gatal. Pelangganpun senang tak terkira dengan rambut baru miliknya olahan pria renta yang lincah, tak berijazah, tanpa sertifikat kejuruan salon, dan petani.  Dialah H. Massadda. 

***

Tetapi itu dulu, kini para pencukur rambut seperti H. Massadda tak ditemukan lagi di kampung itu. Kisah tentang tukang cukur rambut ala H. Massadda kini menjadi nostalgia semata bagi orang-orang yang hidup di era 1970-an hingga sebelum pertengahan 1990-an silam. 

"Perubahan adalah soal waktu", kata penyair tersohor Chairil Anwar. Cukur-mencukurpun berubah. Pertengahan 1990-an usaha cukur rambut ala Salon mulai marangsek masuk ke kampung-kampung. Pada dindingnya dipajanglah berbagai poster/foto gaya potongan rambut pria dan wanita.  Terpautlah imajinasi pelanggan akan potongan rambutnya dengan memandang poster itu.

Disini, pelan-pelan tukang cukur seperti H. Massadda sepi pelanggan. Usaha cukur rambut seperti H. Massadda memasuki senjakalanya. Pelan pula, gaya rambut warga kampung pun berubah. Urusan cukur rambutpun pelan-pelan  menjadi urusan tekhnologi modern. Alat yang digunakanpun modern pula. Tak manual lagi, hampir semua berbasis listrik. 

Disaat yang sama, rambut tak sekedar harus dicukur, tetapi perlu ditata, yang geriting dapat diluruskan, yang lurus bisa digeritingkan, hingga diwarnai sesuai selera. Dan ingat, semua kemampuan mengelola rambut semodern itu memerlukan ijazah, atau sertifikat kecantikan, dan kapital. Ini semua menjadi penjelas bagaimana cukur rambut tumbuh dan terolah dalam bingkai pasar kapital.

Lihatlah, disejumlah kota besar beberapa tahun terakhir ini sedang bertumbuh bisnis potong rambut dalam bentuk jaringanfranchise. Cukur rambut kini menjadi jaringan bisnis nasional, seperti Barbershop yang kini sedang mekar di kota Makassar.

Semua itu tak sekedar menggilas tukang cukur seperti H. Massadda. Melampaui itu, perlakuan seseorang terhadap rambutnya pun berubah drastis. Menyambangi tukang cukur bukan sekedar menggunting rambut, tetapi juga menggunting masa lalu, masa yang dianggap tradisional itu dimana menata rambut tak lagi semata soal kerapian (tradisional). Tapi disitu bersemayam pula hasrat menunjukkan rambut sebagai mahkota kemoderenan. Dan lihatlah, jelang lebaran ini markas-markas salon diserbu orang-orang "beriman", yakni beriman pada modernitas. 

Dengan modernitaslah, tukang cukur seperti H. Massadda tercukur dan tersungkur hingga akhirnya menyerah disaat waktu masih terus berputar.

(A. Mirak)


Video