,         
Rabu, 16 Maret 2011 - 18:45:37 WIB

Mengenal Wisata Tana Toraja*

Kategori : WISATA & HIBURAN

Seputar Sulawesi.com, Makassar- Siapa yang tak kenal Tana Toraja? Sebuah daerah tujuan wisata yang dikenal oleh dunia. Letaknya, sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Mamuju, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Enrekang, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Mamasa Provinsi Sulbar. Posisinya berada di ketinggian dari permukaan Laut = 150 – 3.083 M.

Pada mulanya Tana Toraja terkenal dengan nama “Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’allo“, yang berarti: Negeri Dengan Bentuk Pemerintahan Dan Kemasyarakatannya merupakan suatu kesatuan yang bulat bagai bulan dan matahari “. Kata “Tana Toraja” baru dikenal sejak abad ke XVII.

Namun beberapa sumber pula menyebut kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya.

Bertolak dari kota Makassar menuju Tana Toraja melalui perjalanan darat dengan jarak tempuh kurang lebih 8 jam, sebab Kabupaten ini terletak sekitar 350 km sebelah Utara kota Makassar. Sementara perjalanan melalui pesawat udara dari bandara Sultan Hassanudin Makasar ke Rantepao ditempuh kurang lebih 50 menit. Namun wisatawan biasanya menempuh perjalanan darat karena sepanjang perjalanan panorama alam Sulsel dapat dinikmati. 

Kekayaan budayanya menjadikan Tana Toraja dikenal dunia. Bentuk bangunan rumah adatnya yang dikenal dengan rumah adat “Tongkonan”; atapnya terbuat dari bambu yang dibelah dan disusun bertumpuk. Tongkonan ini juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat setempat, seperti strata emas, perunggu, besi dan kuningan.
Ada pula upacara adat rambu solo (pemakaman) yang sudah kesohor yang juga menjadi objek wisata selama ini. 

Selain itu, ada juga kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0 - 7 tahun. Sebelum jenazah sang bayi dimasukkan ke batang pohon, terlebih dahulu pohon itu dilubangi kemudian mayat bayi diletakkan ke dalam kemudian ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut. Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan untuk masyarakat Tanah Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir. Penempatan jenazah bayi di pohon ini juga disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu maka makin tinggi pula tempat bayi yang dikuburkan di batang pohon tarra tersebut. Bahkan, bayi yang meninggal dunia diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazah anak akan diletakkan di sebelah barat.

Akan tetapi, sejak puluhan tahun terakhir penguburan bayi ini sudah tidak dilaksanakan lagi, tetapi pohon tempat “mengubur” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan. Di atas pohon tarra yang buahnya mirip buah sukun yang biasa dijadikan sayur oleh penduduk setempat itu dengan lingkaran batang pohon sekitar 3,5 meter, tersimpan puluhan jenazah bayi.

Hal menarik lainnya adalah upacara pemakaman jenazah (rambu solo); ritual pemakaman ini merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Ada pula pesta syukuran (rambu tuka) yang merupakan kalender tetap tiap tahun. Para pengunjung wisata bisa melihat dari dekat obyek wisata budaya menarik lainnya seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk “kontainer” ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao.

Berikut objek-objek wisata menarik di Tana Toraja:

Tongkonan Pallawa: adalah salah satu tongkonan atau rumah adat yang sangat menarik dan berada di antara pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak sekitar 12 km ke arah utara dari Rantepao.

Londa: adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Terletak sekitar 5 km ke arah selatan dari Rantepao.

Ke’te Kesu: Obyek yang mempesona di desa ini berupa Tongkonan, lumbung padi dan bangunan megalith di sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari. Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir. Terletak sekitar 4 km dari tenggara Rantepao.

Batu Tumoga: Berlokasi di daerah Seseang yang bercuaca dingin, sekitar 1.300 meter diatas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 buah menhir batu dalam sebuah lingkaran, dengan lima pohon kayu di tengahnya. Kebanyakan dari batu menhir ini tingginya berukuran dua sampai tiga meter. Pemandangan yang sangat mempesona di atas Rantepao dan lembah disekitarnya dapat dilihat dari tempat ini, menjadikan tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi.

Tempat ini sering disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo kita dapat melihat mayat yanng disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui upacara Ma' Nene.

Sanggala: adalah sebuah desa ditengah rimbunan pepohonan bambu yang berada diketinggian kaki bukit. Kuburan bayi yang langka menjadi salah satu obyek yang menarik yang dapat dijumpai di desa ini. Selain itu, terdapat kuburan Raja Sanggala yang berada di salah satu sisi bukit yang terkenal dengan nama Suaya. Kuburan ini dipahat pada sisi bukit karang terjal, sebagai tempat beristirahat dan tujuh raja dan keluarganya. " Tau-tau" dari raja dan keluarganya dengan pakaian adat Toraja ditempatkan di depan kuburan batu tersebut.

Tak jauh dari tempat ini, kita bisa menyaksikan sebuah rumah "Tongkonan" yang didirikan oleh Raja Sanggala. Tongkonan ini sekarang dijadikan museum yang dikenal dengan nama Museu Bonto Kalando. walaupun modelnya agak baru, didalamnya terdapat beberapa benda kerajaan dan peralatan rumah tanggga yang dahulunya dimiliki oleh Raja Sanggala (Pusng Sanggala).

Makula: Di tempat ini terdapat sumber mata air panas, disamping ada rumah tempat istirahat mempunyai bak mandi denga sumber mata air yang mengalir. Di muka ada kolam kecil yang dibeton diisi oleh air panas yang mengalir dari belakang rumah. Tempat ini sangat baik untuk berendam di air panas setelah perjalanan jauh.

To' barana Sa'dang: Ada yang berpendapat bahwa To'barana Sa'dang adalah pusat dari daerah Toraja. Di bagian dari kampung - kampung ini terdapat empat lumbung yang terawat dengan halaman rumput yang apik. Tenunan Toraja yang sangat menawan dan memiliki nilai budaya yang tinggi dapat kita lihat disini, tenunan yang indah.(sap)

*Diolah dari berbagai sumber




Share |

Email :redaksi@seputarsulawesi.com
Iklan: 0411 (433867)
Silahkan Buka Seputarsulawesi.com di HP anda:
Versi Mobile

Isi Komentar :
Nama Lengkap :
Komentar :
Website :
Kode Keamanan :