nalar

Agama Rahmat yang Tercoreng

Agama Rahmat yang Tercoreng

Bagaimana mungkin dunia akan mempercayai klaim bahwa "Islam adalah agama Rahmatan lil Alamin" (kasih sayang kepada semua orang dan alam) manakala ekspresi-ekspresi para penganut agama itu intoleran dan membenarkan kekerasan verbal maupun fisikal terhadap liyan hanya karena dia liyan dari dirinya.

 

Baca juga: Islam dan Budaya Mandar: dari Islamisasi ke Integrasi

Mereka yang berpendapat seperti ini dan yang mendukungnya boleh jadi adalah orang-orang yang dibayang-bayangi oleh kecemasan dan ketakutan terhadap liyan. Atau akibat dari ketidakmampuan diri, keterbatasan atau kekerdilan dalam memahami teks-teks ketuhanan/keagamaan dengan benar sambil memperlihatkan keangkuhan diri yang berkobar-kobar.

 

Jika kita boleh mengatakannya, dengan pandangan demikian itu mereka telah merendahkan dan mencoreng citra Islam di depan mata dunia sebagai agama yang tak ramah bahkan kasar.  Agama, apapun namanya, hadir tidak untuk menciptakan keonaran, kekacauan sosial dan memusuhi ciptaan Tuhan. Melainkan untuk mempersatukan, mempersaudarakan, menciptakan kedamaian dan kasih sayang.

 

Penulis: KH. Husein Muhammad

(Penulis Buku Piqhi Perempuan)