Sulsel

Aktivis Lingkungan Pulau Kodingareng Diintimidasi, Diduga Dilakukan Preman Bayaran

Aktivis Lingkungan Pulau Kodingareng Diintimidasi, Diduga Dilakukan Preman Bayaran

Seputarsulawesi.com, Makassar- Sejak Februari 2020 lalu, nelayan yang bermukim di Pulau Kodingareng, Makassar mengeluhkan aktivitas penambangan pasir yang dilakukan oleh PT. Royal Boskalis.

Pasalnya aktivitas penambangan pasir tersebut, oleh nelayan setempat dinilai merusak lingkungan dan tempat mereka menangkap ikan. Olehnya itu, mereka pun kerap melakukan aksi di tengah laut guna mengusir kapal milik PT. Royal Boskalis tersebut.

Tak hanya itu, Aliansi Nelayan Kepulauan Sangkarrang dan Aliansi Selamatkan Pesisir yang mengadvokasi tambang pasir laut juga kerap kali mendapatkan perlakuan tidak enak bahkan intimidasi oleh pihak Boskalis yang diduga menggunakan preman bayaran. 

Bahkan, Sabtu, 1 Agustus 2020, pukul 15.00 WITA, warga setempat melihat sebuah sekoci mendatangi pulau itu dengan jumlah penumpang empat orang, dan dicurigai sebagai preman bayaran untuk memprovokasi warga dan mengintimidasi aktivis yang mengadvokasi tambang pasir laut di wilayah tersebut.

“Tujuan agar (para akvitis) hengkang dari pulau Kodingareng,” ucap salah seorang warga setempat.

Pria yang tak ingin disebutkan identitasnya ini mengatakan, berbagai cara dilakukan oleh pihak Boskalis untuk melemahkan perlawanan  rakyat Kodingareng, salah satunya adalah menakut-nakuti warga.  Namun demikian, hal tersebut tak menyurutkan semangat dan perjuangan nelayan untuk melakukan perlawanan.

Justru hal tersebut membuat nelayan setempat kompak dan tegas menolak kehadiran kapal PT. Royal Boskalis melakukan penambangan yang dinilainya sudah merusak laut dan merampas wilayah tangkap nelayan mereka.

“Wilayah yang telah ditambang oleh PT. Royal Boskalis secara turun-temurun merupakan wilayah mancing faforit, dan di tempat inilah nelayan mengais rezeki,” ujar Putra, aktivis Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP) via rilisnya ke Seputarsulawesi.com, Minggu, 2 Agustus 2020.

Putra berharap, PT. Royal Boskalis segera insyaf dan sadar bahwa aktivitas penambangan yang dilakukan selama ini lebih banyak mudaratnya ketimbang maslahatnya.

“Kami juga meminta agar pihak yang berkepentingan menghentikan segala bentuk provokasi, intimidasi terhadap nelayan dan aktivis lingkungan di wilayah ini,” tegas putra.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Seputarsulawesi.com belum bisa mengkonfirmasi pihak PT. Royal Boskalis terkait perlakuan intimidasi ini.