laporan anda

Amarah 1996: Berawal dari Kosolidasi 12 Kader PMII RE UMI (Bagian I)

Amarah 1996: Berawal dari Kosolidasi 12 Kader PMII RE UMI (Bagian I)

Keterangan Gambar : Istimewa

Amarah merupakan penisbatan atas tragedi yang terjadi pada Tahun 1996 tanggal 24 bulan April yang mengakibatkan 3 orang meninggal  dunia dan puluhan mahasiswa luka-luka. Syaiful Bya, (21) mahasiswa teknik arsistektur UMI. Ia ditemukan meninggal di sungai Pampang, dengan luka memar di bagian dada dan belakang seperti bekas pukulan pada 24 April 1996.

Kemudian Andi Sultan Iskandar (21) mahasiswa ekonomi akuntansi UMI yang meninggal dengan luka pada dada bagian kiri bekas tusukan benda tajam. Terakhir adalah Tasrif, (21) mahasiswa ekonomi studi pembangunan UMI, meninggal akibat benda keras dan dibunuh kemudian ditenggelamkan di sungai Pampang.

Baca juga: Tragedi Amarah yang Pernah Terjadi di Kampus UMI Makassar Kembali Diulas

Amarah kependekan dari April Makassar Berdarah, diinisiasi oleh mahasiswa Makassar, khususnya mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Masih banyak misteri dari tragedi tersebut yang belum terjawab, termasuk banyaknya perdebatan yang terjadi mengenai siapa sebenarnya inisiator dalam gerakan tersebut?

Berbagai klaim bermunculan dari kelompok dan individu sebagai orang yang paling berperan dalam Amarah. Namun yang pasti adalah perayaannya selalu digelar setiap tahun oleh berbagai oraganisasi di UMI Makassar, baik organisasi internal maupun eksternal. Atau aksi gabungan dengan longmarch dari berbagai kampus menuju ke makam salah satu mahasiswa yang gugur pada saat itu yaitu Tasrif dan Andi Sultan Iskandar (21) yang dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Panaikang dan Dadi. 

Keduanya juga sebagai kader aktif Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Ekonomi (RE) UMI. Ada juga yang memperingatinya dengan bentuk lain, seperti lewat diskusi yang digelar Alumni PMII RE UMI. Kegiatan tersebut sebagai instrumen untuk melakukan refleksi terhadap Amarah 1996. 

Dari situlah tulisan ini lahir yang dirangkum dalam bentuk notulensi diskusi oleh penulis dan dikompilasi dari berbagai pemaparan baik oleh narasumber maupun dari argumentasi dari para peserta yang hadir.

Tema yang diangkat dalam diskusi tersebut ialah “Tragedi Amarah 1996 sebagai Cikal Bakal Gerakan Penggulingan Orde Baru 1998”. Narasumber yang hadir  adalah Masrudi Ahmad Sukaepa, S.E, Abdul Kadir, S.E dan Umar Ringkasa, S.E.

Ketiganya adalah para pelaku sekaligus korban tragedi Amarah 1996. Mereka turut serta dalam aksi yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Permusyawaratan Mahasiswa (BPM) pada tanggal 24 April 1996 yang memberhentikan mobil Damri yang merupakan pemicu terjadinya Amarah 1996. Dan Umar Ringkasa merupakan sahabat dekat dari Andi Sultan yang merupakan salah satu korban dari Amarah 1996. 

Ada beberapa rangkaian aksi sebelum menuju Amarah 24 April. Salah satunya adalah aksi yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Teknik UMI. Demonstrasi dilakukan dengan membakar sejumlah ban bekas di tengah jalan, sebagai respon dari SK Menteri Perhubungan yang diikuti dengan SK Walikota mengenai kenaikan tarif angkot dari Rp. 300 menjadi Rp. 500.

Kenaikan tarif angkot dinilai tidak pro rakyat, apalagi mahasiswa yang sehari-harinya menggunakan Angkot sebagai taransportasi untuk menuju kampus. Namun, dampak aksi tersebut tidak signifikan terhadap perubahan kebijakan yang sudah dikelurakan. Walikota tidak mencabut kebijakan tersebut.

Sehingga oleh sejumlah mahasiswa berpikir bahwa harus melakukan aksi yang berbeda dari yang dilakukan oleh tamen-teman dari Teknik. Sehingga mereka melakukan konsolidasi di Sekretariat mengenai rencana aksi yang akan dilakukan.

Menurut Firman, S.E yang saat itu ikut konsolidasi menyampaikan bahwa mereka adalah para kader PMII RE UMI yang tergabung dalam pengurus Badan Eksekitif Mahasiswa (BEM) dan Badan Permusyawaratan Mahasiswa (BPM) Fakultas Ekonomi. 

Rapat yang digelar di Sekretariat PMII RE UMI yang berada di Depan Kantor Gubernur Selawesi Selatan atau tepatnya di Kediaman Bakrie Ridwan (Opan) selaku Katua PMII RE UMI saat itu, rapat diikuti oleh 12 mahasiswa yang dipimpin langsung oleh Opan. 

Berdasarkan hasil rapat ditetapkan, bahwa besok tanggal 24 April akan digelar aksi di Depan Kampus dengan memberhentikan Damri yang lewat, baik menuju kota ataupun bandara. (Bersambung)

Penulis: Muhammad Aras Prabowo

(Alumni Fakultas Ekonomi UMI sekaligus Mantan Ketua PMII RE UMI)

Keterangan tulisan: dikompilasi dari notulensi diskusi yang dilaksanakan oleh Alumni PMII RE UMI pada tanggal 28 April 2020 dengan tema:  “Tragedi Amarah 1996 sebagai Cikal Bakal Gerakan Penggulingan Orde Baru 1998.